
Aku hanya tersenyum sinis saat melihat wajah Evan yang seperti enggan masuk ke dalam gang sempit dan becek. Aku yakin dia akan lebih terkejut lagi saat masuk lebih jauh ke dalam, pengap.
"Ya udah ... sampai sini saja anternya. Makin dalam main sempit dan busuk baunya."
"Ah! tidak, tidak. Aku akan mengantarmu sampai depan pintu."
"Yakin?" tanyaku saat melihat keraguan yang begitu ketara di wajahnya.
"He-em. Yakin." dia mengangguk. "Mobil aman gak ya?" tanyanya ragu. Mengingat mobil yang dia parkir di depan mini market. Lumayan jauh dari gang. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya.
Langkah kaki kami mulai menapaki jalan sempit yang becek. Semakin dalam semakin membuat Evan tidak kerasan. Aku bisa melihat itu dari mimik wajahnya. Apa lagi saat melihat wajahnya yang terheran-heran dengan popok bekas poop bayi tergeletak begitu saja.
Perjalanan kami akhirnya sampai. Aku menengok ke belakang dan melihat Evan masih mengamati sekeliling.
"Kita sudah sampai. Ini tempat tinggal aku."
"What?" dia terperangah melihat kamar yang selalu jadi tempat ternyaman bagiku. "Kamu tinggal di sini? bahkan ini tidak layak untuk kucingku tempati. Astaga ... eh, maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa."
"Aku mengerti, tapi ini adalah tempat ternyaman bagiku." dia semakin terperangah.
"Kamu mau ma–" ucapku tertahan saat melihat dua orang preman penagih hutang itu.
Kenapa mereka kembali? bahkan ini belum juga seminggu. Bagaimana ini?
"Kamu kenapa ketakutan begitu?" tanya Evan. Aku hanya memberi isyarat mata agar dia melihat ke belakang.
"Pergi sekarang juga, ya." aku mendorong tubuhnya agar segera pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin dia ikut bonyok seperti yang aku alami. Bisa gawat urusannya.
"Ke-kenapa? enggak ah! aku kan belum masuk ke rumahmu." dia mogok dan gak mau beranjak, sampai akhirnya preman-preman itu sudah berada di hadapan kami.
"Wah, wah, sekarang sudah pintar rupanya."
"Cih! kenapa kagak dari dulu aja, lu cari mangsa kaya gini? hutang lu udah kelar kali."
__ADS_1
"Kalo di liat dari tampilannya sih ... nih cowok bukan orang kere, ya kagak?"
"Yoyoi. Bisa dong ya, lu minta dia bayarin hutang lu, 'kan habis booking lu. Eh, mau boking lu maksud gue."
"Bang, bang. Tolong, die cuma temen gue. Kagak ada sangkut pautnye."
"Halah! gue kagak peduli. Yang penting, lu bayar hutang. Selesai urusan."
"Perjanjian kita pan Minggu depan. Ngapa udah balik lagi?"
"Karena kite tau, lu pasti bohong. Udeh, kata bos, kalau lu enggak bisa bayar pake duit, lu bisa ganti pake yang laen." dia mendekat.
"Maksudnya?"
Dia mencolek daguku."Pake tubuh lu, sayang. Kata bos, lu bisa jadi istrinya yang ke enam."
"Apaan? ogah! gue mending mati dah! amit-amit."
"Eisssss. Masa iya, tubuh tinggi gede beraninya ama cewek? banci!"
Ya ampun! nih Dokter lunak ngapain ngomong gitu? hissss!
"Van, udah. Pergi deh, ya." aku berusaha mendorong tubuhnya.
"Enggak!" dia mendelik. "Masa iya, ada cewek terancam, aku malah pergi."
"Tapi kan?"
"Udah, tenang aja."
Bukk! sebuah pukulan mendarat di wajah Evan yang mulus dengan bulu-bulu tipis di wajahnya.
"Udah banci! Cemen pula. Gak ada otak dasar." cerca Evan pada preman itu. Mereka berdua begitu marah saat mendengar perkataan Evan. Salah satu dari mereka maju dan mencoba memukul Evan dan ....
__ADS_1
Bugh!
Krakkk
Plakkk
Gedebugh!
Kedua preman itu tepar. Aku yang selama ini taunya Dokter lunak itu gemulai seperti wanita, tapi ternyata ....
"Ya ampun! pantesan kalian beraninya cuma sama perempuan! segitu doang bisanya?"
"Udah, Evan. Kamu juga terluka."
"Bangun! maju lagi kalau berani." Evan menendang kaki mereka. "Bangun! dasar anj**g! maju gue bilang."
"Evan, udah. Ayo kita masuk." aku menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam kontrakan.
"Denger baik-baik, bilang sama bos kalian, siapapun itu! bilang sama dia, kalau berani gangguin wanita ini lagi, maka dia akan berurusan dengan keluarga gue! Bokap gue Hermawan Kertajaya. Denger itu."
"Evan, udah. Ayo masuk, orang-orang pada keluar ngeliat kita. Ayooo..." akhirnya Evan berbalik dan mau ikut aku ke dalam. Namun, baru saja kaki kami melangkah, ada celetukan tetangga yang membuat langkah kami terhenti.
"Wah, sekarang sudah punya dekengan! Kinanti, kalau mau jual diri jangan di sini ya, kita gak mau ikut kena adzabnya."
Aku sangat marah mendengar ucapan itu. Namun, aku melihat wajah Evan terlihat jauh lebih kesal. Tangannya mengepal dengan gigi yang bergemulutuk.
Tanpa berpikir panjang, dia menyeret aku menjauh dari sana. Langkah kami begitu cepat. Membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk dengan kasar. Begitu aku ada di dalam, pintu di banting begitu keras sampai aku terlonjak kaget.
Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aku merasa takut. Dia menyalip seenaknya, seakan jalan ini adalah miliknya.
Berkali-kali aku menelan ludah saat mobil yang kami naiki hampir menabrak kendaraan lain.
Dia kenapa? kemana aku akan dibawanya? apa dia benar-benar marah karena ucapan tetanggaku? jelas! itu akan sangat menyakiti harga dirinya. Astaga!
__ADS_1