
Evan masih diam. Dia hanya diam entah sudah berapa lama. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan. Apa dia merasa bersalah karena telah menyembunyikan statusnya.
"Van, kenapa diam saja?" aku berusaha membuka pembicaraan. Ku genggam erat jemari tangannya. Namun, dia masih tetap diam.
"Kinan, aku minta maaf." Dia menundukkan kepala di antara lututnya.
"Jika karena statusmu, kamu jangan khawatir. Aku tidak perduli sama sekali. Dengan kamu mencintaiku, itu sudah cukup. Kita hanya harus meresmikan hubungan dalam ikatan pernikahan. Agar aku benar-benar bisa menunjukkan cintaku seutuhnya padamu."
"Apa kamu yakin? apa kamu siap dengan resiko yang akan kita tanggung?"
"Selama kamu mencintaiku dan selalu ada di pihakku, aku siap menghadapi apapun."
"Terima kasih, sayang. Aku benar-benar mencintaimu."
"Aku juga, aku sangat mencintaimu."
Dia mungkin menyesal karena rahasianya telah terbongkar dan aku tahu itu dari Irang lain. Aku tidak perduli pada apapun, aku hanya ingin selalu bersamanya. Meski dia memang sangat menyebalkan, terkadang.
"Tapi, untuk masalah kontrak dengan perusahaan, aku tidak bisa berbuat banyak."
"Aku tau. Tidak apa, sayang. Aku akan tetap bekerja jika kamu mengizinkannya."
"Sebenarnya aku tidak rela kamu ada di sana. Apa lagi harus melayani Presdir. Hanya saja, isi kontrak menyatakan, jika kamu keluar sebelum kontrak berakhir, maka kamu akan masuk penjara. Jika saja dendanya berupa uang, aku akan menebus meski berapapun nominalnya."
"Aku mengerti. Terima kasih. Sampai detik ini, kamu masih menjadi malaikat penolongku. Aku bersyukur untuk itu."
Lama kami duduk berhadapan di tepian kolam renang. Menikmati hembusan angin yang menerpa. Rambut panjangku di mainkannya dengan manja. Aku suka saat-saat seperti ini.
"Maaf, Tuan. Ada tamu di depan." ucap Bibi saat aku sedang bersantai tertidur di pangkuan Evan.
"Siapa Bi?"
"Aku!" suara itu berasal dari seseorang yang sudah berdiri di belakang Bibi. Evan segera bangkit saat melihat wanita tinggi semampai dengan paras cantik. Wanita elegan.
Aku masih terduduk dan menyaksikan mereka–Evan dan wanita itu saling menatap. Aku berusaha tersenyum saat tatapan wanita itu beralih padaku.
"Jadi ini? apa kalian benar-benar yakin dengan apa yang kalian lakukan? menjijikan."
Evan masih terdiam. Bibi mengisyaratkan aku untuk pergi mengikutinya. Aku segera bangkit dan pergi. Sebelumnya aku menatap Evan, memberitahu bahwa aku akan mengikuti Bibi.
Wanita itu berdecih saat kami saling berpapasan.
__ADS_1
Kenapa dia begitu marah? apa jangan-jangan dia ....
Aku menarik tangan Bibi dan segera masuk ke kamarku.
"Bi, apa itu istrinya Evan? benarkah itu?"
"Bukan."
"Bukan? lalu siapa dia?"
"Wanita pemilik kamar ini."
"Adiknya Evan?" tanyaku penasaran.
"Bukan."
"Loh? katanya ini kamar adik Evan waktu dia masih ada. Terus, kalau ini bukan kamar adik Evan, lalu kamar siapa?"
"Saya tidak yakin, apa saya harus menceritakan semuanya padamu, Nona."
"Kalau sedang berdua, jangan panggil Nona. Panggil saja Kinan."
"Baik, Nona. Eh, Kinan."
"Ya. Mereka sangat sulit dimengerti. Njelimet." Bibi mengikutiku duduk di kasur. Dia sepertinya sudah mulai tidak canggung lagi padaku. "Jangan percaya pada siapapun di rumah ini."
"Termasuk padamu, Bi?"
"Ya, suatu saat, mungkin kita akan menjadi musuh. Kita ini masyarakat kelas bawah, butuh sesuatu untuk bertahan hidup, apa itu masuk akal?"
"Ya. Itu logis. Namun, sadis."
"Aku bahkan menerima banyak hinaan di rumah ini. Itulah cara agar keluargamu bertahan hidup dan bisa makan. Kita, perlu berkorban untuk menyelamatkan yang lainnya."
"Semenakutkan itukah hidup kita?"
"Bukan kita, tapi kamu, Nona."
"Maksdunya?"
"Kami para pelayan di sini, hanya harus melayani mereka untuk bisa hidup. Menyediakan perlengkapan dan kebutuhan sehari-hari mereka. Sementara kamu, kamu sudah masuk terlalu jauh pada hidup mereka."
__ADS_1
Entah kenapa, tapi aku begitu takut saat ini. Apa terus bertanya, siapa yang akan membahayakan dan menyelamatkan hidupku?
Mumettt!
"Nona, waspada dan selalu melihat apapun itu meski sangat kecil. Mereka bukan hanya bermuka dua, tapi lebih dari itu. Aku sang–"
Brak! pintu terbuka begitu keras.
"Oh! pelayan dan majikan bisa duduk bersama? oopsss! kalian memang sama-sama manusia rendahan. Wajarlah!" ucapnya sambil memainkan jari. "Bahkan, aku pemilik kamar ini, belum pernah memakainya. Dan kamu?" dia menatapku sinis. "Kamu bahkan duduk di atas kasur bersama pelayan!" tiba-tiba suaranya meninggi. Dia begitu marah sampai melempar tasnya ke arahku. Beruntung Bibi segera menangkisnya sebelum mendarat indah di wajahku.
"Tolong, bersikap baiklah pada Nona kami. Bagaimanapun juga, keselamatannya adalah tanggung jawab saya, tolong mengerti."
"Pelayan bebal! berani kamu bersikap seperti itu padaku? apa kamu lupa siapa aku hah!"
"Tidak. Saya masih ingat siapa Anda. Hanya saja, di rumah ini, Anda bukanlah siapa-siapa. Maaf."
"Kurang ajar!" wanita itu menghampiri Bibi. Dia menampar lalu menarik tubuh Bibi hingga terhempas ke lantai. Tidak puas, dia kembali memukul Bibi dan menendangnya berkali-kali.
"Hey!" aku berteriak dan mendorong tubuh wanita itu sekuat tenaga. Dia terjerembab, menabrak apapun yang ada di hadapannya. Hingga kamar ini begitu berantakan. Dia meringis kesakitan. Bodo amat!
"Bibi, kamu tidak apa-apa?" aku berusaha membangunkan Bibi. Sudut bibirnya dan hidungnya berdarah. Sepertinya dia juga merasa kesakitan di bagian bahu bagian belakangnya. "Ayo, kita cari Evan. Dia akan mengobati dirimu, Bi."
"Ja-jangan."
"Tidak apa-apa, ayo kita pergi. Aku akan membantu."
"Jangan libatkan dirimu dalam masalah besar. Biarkan aku pergi sendiri. Hentikan, Kinan."
"Tidak! aku akan membawamu. Kalau Evan tidak mau menolong, kita pergi ke rumah sakit."
"Hentikan! mau lari kemana kalian? bedebah!" wanita itu menjambak rambutku dari belakang. Sialan!
Aku berusaha menahan tarikannya agar tidak terlalu kuat. Aku memegang erat rambutku. Rasanya begitu panas. Apa mungkin rambutku akan copot bersama kulitnya?
Aku memutar badan. Menari tangannya ke bawah. Kepala kami beradu. Sangat sakit. Pun dia yang meringis.
Aku membalasnya dengan kembali menarik rambutnya. Akhirnya kami berdua saling menjambak dan saling berteriak.
"Astaga! apa-apaan ini?"
What? Suara itu, Presdir? apa dia ada di sini?
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺