Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Ruangan Istimewa


__ADS_3

Aku hanya terdiam merasakan perih di leher dan pipi kanan. Wanita itu sungguh-sungguh menyebalkan. Aku akan terima jika yang melakukan ini adalah istri Evan.


"Jangan bertengkar di rumahku. Jika kalian tidak suka tinggal di sini, enyahlah!" ucap presdir datar. Rumahku? maksudnya?


"Kenapa? apa kau terkejut wanita ******?" tanya wanita itu dengan senyum sinisnya. "Apa kau pikir ini rumah Evan? haha. ****!"


Ada apa sebenarnya?


"Sudahlah! lebih baik kamu pergi dari sini, Hana. Kita sudah tidak ada urusan lagi. Dan jangan pernah kembali lagi."


"Tidak! aku tidak akan pergi, itu kamarku yang kamu buat khusus untukku bukan? aku bahkan belum pernah memakainya, kenapa diaโ€“"


"Karena dia." menunjuk diriku, "Adalah pemiliknya sekarang. Itu keputusan yang sudah aku buat dan tidak ada yang bisa menggugatnya."


"Jun! ini tidak adil. Tolong, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon." wanita itu memohon dan mendapat penolakan dari Presdir. Apa mereka sepasang kekasih, sebelumnya? sebentar, ini bukan rumah Evan? lalu kemana Evan? sedari tadi aku tidak melihatnya.


"Kamu! ikut saya sekarang." aku hanya menatap, sebelum dia kembali membentak "Hey! kami tuli?"


"I-iya, Presdir." aku segera mengikutinya. Aku melihat sekilas bagaimana wanita yang di panggil hana itu memelototiku.


Presdir berjalan menuju ruang atas. Menuju ruangan yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya. Dia menekan tombol angka yang ada di samping pintu masuk. Pantas saja, ruangan ini terkunci dengan password rupanya.


Begitu kami masuk, aku mencium bau debu, pengap. Mungkin, karena sudah lama tidak di tempati. Begitu kami masuk, lampu menyala secara otomatis.


...Trak...


...Trak...


...Trak...


...Trak...


Seluruh lampu menyala secara estafet. Memperlihatkan seisi ruangan. Tidak ada yang istimewa. Hanya kamar seperti biasanya. Ada tempat tidur berukuran besar, Sofa lengkap dengan meja, dan juga televisi.

__ADS_1


Dinding-dindingnya di kelilingi yang mungkin itu adalah sebuah lemari, karena terlihat seperti pintu lemari pada umumnya. Kenapa banyak sekali?


Presdir membuka jas. Melemparkannya ke atas ranjang. Kemudian dia berjalan menuju nakas kecil. Membuka salah satu laci dan mengambil sebuah remot. Mungkin itu remot AC.


Begitu dia menekan tombol, pintu yang aku kira adalah pintu lemari, terbuka. Dan ... Waww!


Aku bisa melihat laut dari kamar ini. Meski dari kubah aku memang bisa melihat semuanya. Hanya saja melihat dari sini, suasananya sangat berbeda. Kamar tidur dengan pemandangan yang langsung menuju laut. Tidak jernih memang, tetapi aku suka.


"Apa kamu menyukainya?"


"Hem. Ini indah. Sangat indah. Apa rumah ini adalah surga? kenapa begitu banyak keindahannya dan keajaiban di dalamnya?" tanyaku tanpa sadar.


"Kamu boleh memiliki kamar ini."


"Apa?"


"Semua ini tidak gratis. Tentu ada harga yang harus kamu bayar."


"Bahkan aku belum membayar pada Evan."


"Ya, dia bilang apa yang aku dapatkan saat ini harus aku bayar, bukan dengan uang tapi aku tidak tau apa yang dia inginkan. Dia belum mengatakannya."


"Kenapa kamu menerimanya meski dia memiliki istri?"


Aku menatap sejenak.


"Karena dia yang menyelamatkan hidupku."


"Benarkah?"


"Dia yang menganggap ku manusia saat semua orang memandangku sebagai sampah."


Presdir bereaksi. Dia bergerak seakan ingin menyangkal apa yang aku katakan. Kemudian dia hanya diam.

__ADS_1


"Aku mencintainya, itu yang paling penting."


"Tidakkah kau memikirkan istrinya? atau anaknya mungkin."


"Kenapa? aku tidak berniat mengambil Evan seluruhnya. Aku tau posisiku di mana?"


"Cih! naif." Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit dengan senyum yang terukir di wajahnya. Menawan!


Aku hanya berdiri saat dia tertidur. Aku belum di perintahkan untuk pergi sebelum dia tertidur. Hatiku tertarik untuk mendekati tembok kaca, dimana hanya ada laut sepanjang mata memandang. Indahnya.


"Apa ini bisa terbuka?" Aku sangat penasaran. Melihat setiap inci tembok itu, berjalan menyusuri hingga sampai pada sebuah pintu yang terletak di ujung. Tanpa sengaja, tanganku membuka gagang pintu yang ternyata tidak terkunci.


Kamar lagi?


Sebuah kamar dengan satu tempat tidur. Bernuansa peach. Apa ini kamar perempuan? siapa lagi?


Ada sebuah meja kecil dengan dua kursi yang sama kecil. Bukan untuk anak-anak, hanya saja ukurannya lebih pendek dari kursi biasa. Ada beberapa kotak di atas meja itu.


Di sebelah kanan ada sebuah meja panjang dengan tinggi sepinggang, di atasnya banyak foto dan juga perhiasan yang sepertinya kerajinan seseorang. Sebuah ornamen dan beberapa hiasan wanita dari manik-manik dan juga mutiara. Apa ini asli? Aku memegang dan mencoba meneliti.


Halah! mana aku tau ini asli apa palsu, aku sendiri tidak mengerti bagaimana membedakannya.


Foto-foto di atas hanya ada foto seorang wanita dengan anak kecil. Dari mulai anak itu bayi, anak-anak, dewasa hingga ... Presdir? apa ini ibunya? aahhh, cantik sekali.


Di ujung sana. Ada sebuah meja rias dengan cermin besar. Di atas meja itu masih tertata rapi alat make-up dan juga perhiasan lainnya. Jepit rambut, kalung dan gelang, anting-anting, Bros dan masih banyak lagi. Semua berbahan manik dan mutiara.


Apa jangan-jangan, ini semua ibunya Presdir yang membuatnya?


Mataku tertarik pada sebuah jepit rambut yang sangat indah. Sederhana, namun begitu menarik perhatianku.


Entah dorongan dari mana aku mengambil dan mencoba memakainya. Wah, aku terlihat sangat cantik. Hihihi.


"Apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


......Prang!!!......


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2