
"Apa masih sakit?" tanya Jun khawatir, setelah kakiku di pijat.
"Masih sedikit ngilu."
"Sini." dia menyimpan kakiku di atas pahanya,"Masih terlihat bengkak," ucapnya. "Pelayan, tolong ambilkan handuk dan air es."
"Iya, Tuan."
Dia masih melihat kakiku. Di putarnya perlahan ke kanan dana ke kiri. Dengan detail melihat setiap jengkal kakiku.
"Kenapa harus berlari? begini akibatnya."
"Presdir, aku ingin menikah denganku. Ayo kita lakukan."
Dia yang sedang khusyuk melihat kakiku berhenti bergerak. Matanya menatapku tajam seperti biasanya. Dia tersenyum. Manis.
"Kenapa? bukankah kamu tidak ingin melakukanya? apa yang menyebabkan pikiranmu berubah?"
"Aku tidak punya pilihan bukan? jika bersamamu adalah satu-satunya tempat berlindung, maka aku harus melakukannya."
Dia menatapku. Untuk pertama kalinya aku melihat tatapannya begitu hangt.
Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Sebisa mungkin, aku harus bersikap baik padanya.
"Dia itu sangat baik, hanya saja dia juga tidak bisa kendalikan orang lain jika sudah marah."
Ucapan Bibi membuat aku harus berhati-hati dan menuruti apa yang dia inginkan. Lagi pula sampai detik ini, aku masih baik-baik saja. Dengan berada di dekatnya, siapa tau aku bisa mencari tau di mana Evan. Kemana dia?
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Tentang nasibku ke depannya? semoga keputusan ini tidak akan membuatku kecewa."
"Kamu hanya harus percaya pada hatimu. Bukan pada apa yang orang katakan. Mereka ataupun aku, belum tentu sungguh-sungguh tulus padamu."
Glek! aku menelan ludah. Apa yang dia maksud?
"Bersiaplah. Besok kita akan menikah sesuai yang kamu inginkan. Sore ini, kita akan membahasa perjanjian kontraknya."
"Presdir."
"Ya." dia menghentikan langkahnya saat aku memanggil. "Ada apa?"
"Apa perlu, kita menikah secara kontrak? berapa lama? satu tahun? dua? empat? atau–?"
"Seumur hidup." Diapun pergi.
*****
Dengan seksama aku membaca poin-poin yang ada dalam kontrak. Semuanya hanya larangan biasa saja. Tidak ada yang berarti untukku.
"Presdir. Apa aku boleh merubah salah satu poin di dalam kontrak ini?"
"Hanya satu?" tanyanya heran.
"Ya. Hanya satu."
"Apa?"
__ADS_1
"Izinkan aku menyentuhmu. Kenapa kita tidak boleh saling bersentuhan? bukankah kita suami istri? rasanya aneh?"
"Ya ampun. Ini pernikahan kontrak, kita tidak benar-benar menikah selayaknya pasangan kekasih."
"Baiklah. Hanya saja ...." aku terdiam. "Sebelum menikah bahkan kita saling menyentuh, apapun bentuknya. Setelah menikah ...." Apa yang aku katakan? wanita gila!
"Lalu apa yang kamu inginkan? apa kamu ingin kita bersentuhan? apa kamu ingin aku menyentuhmu dan–"
"Aku hanya takut suatu saat nanti, aku butuh seseorang untuk aku raih." Ada apa ini? kenapa aku merasa begitu sedih? "Lupakan. Kita tanda tangani saja kontraknya. Kau tidak akan merubah atau menambah poin apapun. Lapar atau tidak, bahkan bukan aku yang menentukan."
Secepat mungkin aku segera menandatangani kontrak itu. "Selsai. Malam ini aku akan segera tidur. Besok aku harus terlihat cantik. Bagaimana pun juga, ini adalah pernikahan pertamaku, dan mungkin akan menjadi yang terakhir." Karena aku tidak yakin bisa hidup lama.
Aku tidak menyentuh makanan yang ada di piring. Begitu selesai, aku segera berjalan menuju kamar. Kamar yang dulu Evan berikan untukku. Aku benar-benar merindukan dirinya.
Meski dia berbohong dan entah berapa banyak lagi kebohongan yang dia sembunyikan, paling tidak dia yang memperlakukan aku selayak manusia dan wanita.
"Kemarilah." Evan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. "Jangan menangis jika bukan dipelukanku."
Dia selalu membuat aku benar-benar merasa nyaman. Menenangkan disaat hatiku gundah.
"Kamu tau? setiap orang memiliki masalah sesuai kadar kemampuannya. Jika saat ini kamu benar-benar merasa sedih dan terpuruk, percayalah bahwa masa depan kamu itulah indah," ucapnya sambil mengacak rambutku.
Aku tidak tahu, keputusan ini baik atau tidak untuk hidupku. Presdir mungkin memiliki segalanya. Hanya saja ....
Tok
Tok
Tok
"Masuklah," jawabku dengan suara yang hampir tercekat tangisan. Tanpa tau siapa yang ada di balik pintu. Begitu pintu terbuka, dan suara langkah masuk ke dalam kamar. Aku bisa tau siapa dia. Parfumnya.
"Makanlah." Dia duduk di ranjang tempat aku membenamkan tubuh. Aku menggeleng pelan. "Kamu bisa sakit. Bukankah besok kamu harus tampil sempurna? jangan sampai saat kita berfoto, wajahmu terlihat seperti mayat hidup."
"Bahkan aku tidak tau, aku masih hidup atau sudah mati."
Aku mendengar ada suara piring yang di simpan. Apa dia membawakan aku makan?
"Apa kamu marah dengan isi kontraknya?"
Aku segera menggelengkan kepala penuh tenaga.
"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Kalau kamu ingin merubahnya, mari kita ubah. Bahkan kita ganti semua poinnya sesuai keinginanmu."
Aku mengernyitkan dahi. Apa sebenernya yang dia inginkan?
Aku mengangkat tubuh. Duduk menghadap dirinya. "Presdir, sebenarnya apa yang kamu inginkan? aku sungguh tidak bisa mengerti."
"Untuk itu, lihatlah segala sesuatu dengan hati dan pikiran yang jernih. Apapun yang aku lakukan, itu–."
"Tuan, maaf mengganggu."
"Ada apa?" tanyanya dengan nada tinggi, tanpa memandang bodyguard yang masuk begitu saja. Jun masih memandangi wajahku.
"Dia ...."
Brak! pintu terbuka begitu keras. Aku dan Jun memandang ke arah sumber suara secara bersamaan.
"Kau?" Jun begitu terlihat kesal. Rahangnya terlihat dengan jelas dengan gigi yang bergemulutuk. Aku segera menyentuh tangannya. Dia menoleh begitu cepat. Aku menggelengkan kepala, memberi isyarat agar dia tidak emosi.
__ADS_1
Aku melihat, wajahnya sedikit rileks. Tidak tampak garis wajahnya yang terlihat jelas tadi.
"Apa yang kamu lakukan? berani sekali masuk tanpa permisi."
"Sejak kapan kamu menjadi laki-laki bodoh? kamu ingin menikahi wanita itu? wanita ****** gundiknya Evan?"
"Jaga mulutmu!" Jun berteriak. Kakinya melangkah namun, aku segera meraih lengannya. Dia berhenti. Aku segera berdiri di dekatnya.
"Tolong, aku tidak ingin melihat kekerasan di sini. Rasanya ...." Aku tau bagaimana rasanya di hajar sampai babak belur.
Jun kembali menatapku. Dia memejamkan mata begitu dalam. Sepertinya sedang berusaha menahan amarah yang kadung membuncah di dalam dadanya.
Entah darimana aku mendapatkan dengan untuk memeluk tubuhnya. "Kita belum menikah, bukan? tanyaku berbisik.
"Astaga! wanita ****** ini. Dia bahkan rela disentuh siapapun. Dasar tidak punya harga diri. L0nte!"
Kata-kata kasar dari wanita yang aku tidak tau siapa dia, membuat nafas Jun semakin memburu. Dia kembali emosi. Aku semakin memeluk tubuhnya erat.
"Hey! wanita murahan. Apa kamu tau siapa yang sedang kamu peluk? dia adalah calon suamiku. Beraninya kamu menyentuh dia di depan mataku. Kurang ajar!" dia terus berteriak. Dan aku tidak perduli. Hinaan darinya bukan apa-apa bagiku. Tetapi tidak untuk Jun.
Dia begitu marah, dengan kekuatannya yang besar berhasil melepaskan pelukanku. Dia ingin menghampiri wanita itu dalam keadaan emosi tinggi.
Aku berusaha menahan dan menariknya begitu keras. Aku tidak sadar bahwa saat dia berbalik badan, aku masih saja menarik tubuhnya.
Dia menabrak tubuhku yang tidak bisa menahan berat badannya.
Bruk!
Aku dan Jun jatuh ke atas kasur. Dengan posisi tubuhnya di atas tubuhku. Kami seling bersitatap.
Matanya melirik wanita itu sekilas. Hingga akhirnya ... Cup!
Dia mencium bibirku. Aku hendak menolak. Namun, dia kenakan tubuhku untuk diam. Jun menciumku, memaksa mulutku untuk membuka, lidahnya menerobos masuk. Dengan ganas dia terus mencium bibirku. Aku hanya pasrah karena aku tau dia hanya ingin wanita itu merasa jijik lalu pergi.
Benar saja. Wanita itu pergi dengan segala cercaan. Begitu bodyguard menutup pintu kamar. Kau segera mendorong tubuh Jun.
Dia hanya menatapku intens dengan tubuh masih ada di atas tubuhku. Nafasku tersengal-sengal karena sesak atas perbuatannya tadi.
Wajah Jun kembali mendekat. Dengan lembut dia kembali mencium bibirku. Hanya sekilas. Dia membersihkan sisi bibirku, merapikan rambut dan menarikku untuk bangun.
Aku duduk di ranjang. Dan dia berdiri setengah badan di hadapanku.
"Tidurlah dengan nyenyak. Besok harus bisa membuatku terpesona."
Cup!
Dia mencium keningku. Lalu menghilang di balik pintu. Apa ini? sebenarnya apa yang dia inginkan dariku?
"Nona."
"Iya, Bi."
"Tuan berpesan agar Non Kinan tidur di kamar atas. Di sana tidak semua orang bisa masuk seenaknya." Bibi menurutkan.
Aku tau maksud Jun. Dia tidak ingin kejadian serupa terulang. Aku yakin, wanita itu akan kembali suatu waktu.
"Iya, Bi. Ayo kita ke atas."
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1