Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Mahkota Yang Terenggut


__ADS_3

Aku menoleh. Dan benar saja, dia sedang berdirinya di belakangku. Senyuman itu, aku rindu.


Ingin rasanya aku berlari berhambur ke dalam pelukannya. Saat kemarin aku begitu takut padanya karena mimpi itu, kenapa kini aku merasa sangat bahagia?


Andai saja aku tidak bisa mengontrol emosi dan sadar di mana aku berada kini, mungkin aku sudah berlari memeluknya.


Dia sadar apa yang aku rasa. Dia menarik ke luar dan masuk ke dalam suatu ruangan kosong yang sangat kecil di banding aula tadi.


Dia menatapku lama, begitu juga diriku yang tidak ingin sedetikpun berpaling dari wajahnya.


"Kemana saja kamu selama ini? apa kamu tidak tahu bagaimana hatiku?" aku mulai menangis.


"Maaf, aku memang harus pergi. Aku juga tersiksa jauh darimu, hanya saja keadaan memang tidak berpihak pada kita saat ini. Bersabarlah."


"Aku bahkan harus pura-pura bahagia, aku harus menjalani hidup yang tidak aku inginkan. Tidakkah kamu memberikan solusi untuk kita berdua?"


"Kinan, masalahnya tidak semudah itu. Jika memang keadaannya sesimpel itu, sudah lama aku membawamu pergi dan kita hidup bersama."


"Apa? apa masalahnya sampai kamu meninggalkan aku tanpa kabar dan pesan sedikitpun. Kenapa tidak kau ceraikan saja istrimu dan kita pergi sejauh mungkin."


"Mustahil Kinan, itu tidak akan bisa terjadi. Aku tidak akan mungkin bisa pergi dari istriku."


"Kenapa? apa kamu sangat mencintai dia? kalau kenapa kamu datang padaku dan memberi semua harapan itu?"


"Aku tidak mencintai dia, aku cinta sama kamu. Kinan, cinta saja tidak cukup untuk kita hidup di dunia ini. Tapi, jika waktunya sudah tiba, aku berjanji akan membawamu pergi dan kita akan menikah. Aku berjanji."


Evan memelukku erat. Menakup kedua pipiku dan mencium bibirku dengan lembut. Hanya sebentar, dan itu membuat aku sedikit kecewa.


"Jangan berlebihan, jangan sampai riasan wajahmu rusak, orang akan curiga."


"Aku tidak perduli apa kata orang, aku hanya ingin hidup bersamamu. Evan, bawa aku pergi." aku kembali memeluk tubuhnya. Aku benar-benar merindukan dia. Manusia yang memperlakukan aku seperti manusia. Tanpa memaksa dan tanpa menekan hidupku.


Brakk!


Suara pintu yang terbuka kasar membuat aku dan Evan melepaskan pelukan kami. Evan mendorong tubuhku begitu melihat seseorang muncul dari luar.


"Ooo, begini rupanya kalian di belakangku. Hebat sekali, sangat hebat!"


Prok! prok! prok!


Wanita dengan dress hitam, dan dada yang terbuka mendekat.


Tubuhnya hampir menyeimbangkan tinggi badan Evan. Rambut hitamnya terurai sampai sikut.


"Apa kau Kinanti? wanita yang suamiku cintai? Oopsss! sorry, suamiku bilang dia tidak mencintai dirimu, Kinan. Dia hanya menikmati gairah saat bersamamu saja. Apa kau kecewa?"


Aku berusaha tenang. Aku pikir dia hanya memanasi hatiku saja.


"Kalaupun iya, Evan hanya menikmati gairahnya saat bersamaku, apa itu artinya dia tidak menikmatinya saat bersamamu? sungguh kasihan. Seorang istri yang di abaikan suaminya untuk mencari kehangatannya di luar sana."


"Wow! aku tidak menyangka manusia rendahan seperti dia, bisa sombong seperti ini."


"Jangan lupa, derajat kita saat ini sama. Aku adalah Nyonya dari Kim Joon, pemilik gedung yang saat ini kau injak."


"Nyonya? Hahaha, sungguh bodoh! aku tidak mengerti setinggi apa hayalanmu untuk menjadi orang kaya? ckckck. Apa kau benar-benar ingin harta? berapa? apa saja fasilitas yang kau inginkan?"


"Kau memang memilikinya segalanya, tapi aku memiliki hati suamimu."


"Kinanti. Kau harus tau satu hal, suamiku ini bukanlah laki-laki yang akan rela meninggalkan kekayaannya hanya demi wanita sepertimu. Apa kau tau? kau bukanlah satu-satunya wanita yang berhasil dia jerat." Dia berkacak pinggang. Menatapku penuh kemenangan.


Aku hanya berusaha mencerna apa yang ingin di sampailah wanita ini.


"Apa kau berpikir sangat keras Kinan?"


Aku mengepalkan tanganku. Ingin rasanya menjambak rambut dan merobek mulutnya yang angkuh.


"Evan, dia adalah lelakiku, suami dan juga ayah dari anak-anakku. Terlepas dari itu, dia adalah teman di atas ranjangku. Dia hanya akan mencari mangsa saat aku tidak ada di sini. Apa aku marah? tidak Kinan, karena saat Evan tidak ada bersamaku, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku yakin, kamu tidak akan mengerti. Mulai sekarang, berhenti berharap pada Evan, agar kau tidak kecewa."


Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Evan hanya dia dengan senyumannya miring di wajahnya. Apa dia benar-benar menipuku?


"Ayo, sayang. Kita pergi." wanita itu menggandeng tangan Evan ke luar ruangan. "O, iya. Aku salut karena kamu masih bisa menjaga segel keperawananmu dari Evan."


Apa? kurang ajar! jadi selama ini Evan hanya menginginkan tubuhku? awas saja kalian.


Aku duduk lemas. Kecewa, marah dan malu bersatu padu. Rasa sesak di dada ini tidak bisa aku bendung lagi. Aku menumpahkan semuanya dengan tangisan. Memeluk lutut erat.


Aku sadar, aku tidak boleh begini. Aku harus segera kembali ke pesta agar Jun tidak curiga padaku. Aku berdiri, merapikan pakaian dan juga rambutku.


Aku kembali masuk dan berusaha bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Kulihat Jun sedang berbincang pada seseorang. Aku berjalan menghampirinya.


"Presdir," sapaku. Dia menoleh sekilas lalu kembali berbincang. Aku mencoba menggandeng tangannya dan dia menghindar lembut dengan berpura-pura menepuk lawan bicaranya. Dia bersikap seakan aku tidak ada.


Aku yang tidak ingin orang curiga padaku dan juga Jun, sengaja mengikuti kemanapun dia melangkah. Dan aku masih diabaikan olehnya.


"Kak, kemarilah." Yesi menarik tangankuwnjauh dari Jun.


"Ada apa, Yesi?"

__ADS_1


"Apa Kakak habis makan?" tanyanya. "Lipstik Kakak agak berantakan." dia mengusap sisi bibirku.


Deg!


Saat Yesi berusaha merapikan lipstik, aku melihat Jun sedang menatap sinis padaku. Apa dia tau apa yang telah aku lakukan? astaga! bagaimana ini?


"Selesai. Apa riasan Kakak mau aku rapikan, aku bisa meminta asistenku untuk memanggil MUA ke sini."


"Tidak perlu, sebentar lagi acaranya selsai bukan?"


"Hm. Sebagian tamu sudah pulang. Hanya beberapa kolega bisnis yang telat hadir saja."


"Baiklah, aku akan menunggu di ruangan Jun saja."


"Ya, nanti aku beritahu Kak Jun."


"Terima kasih."


Aku berjalan meninggalkan ruangan. Jun masih asik berbincang dengan para rekan bisnisnya.


Segera ku lepas sandal begitu sampai di ruangan Jun. Merebahkan badan di atas sofa. Ritsleting yang ada di punggung, aku turunkan. Rasanya dadaku begitu sesak karena baju ini terlalu sempit--menurutku.


"Apa mereka pasangan yang tidak waras? bagaimana bisa mereka membiarkan pasangannya melakukan hubungan badan dengan orang lain? apa mereka punya kelainan? benar-benar tidak masuk akal." Aku menggerutu sendiri saat mencoba memikirkan perkataan wanita tadi.


Rasanya kepalaku begitu berat memikirkan semuanya. Aku merasa menjadi orang yang benar-benar bodoh! sangat bodoh!


Pintu terbuka. Aku melirik dan melihat Jun masuk. Mengunci pintu dan dengan buru-buru dia berjalan ke arahku.


Krep!


Dia memegang tanganku kasar. Menarik tubuhku hingga posisiku berdiri. Dia menarik pinggangku hingga tubuh kami melekat sempurna.


Matanya menyalang ganas padaku. Memerah dengan linangan air mata yang tak tumpah.


"Apa kamu begitu mencintainya?" tanyanya penuh tekanan. "Apa kamu mencintainya?" bentaknya.


"Presdir?"


"Kenapa? kamu takut? apa ini?" dia memegang punggungku yang ritsleting nya sengaja kubuka karena sesak.


"Kamu ingin dia menjamah tubuhmu? kamu ingin melakukannya?" dia kembali membentak.


"Tidak, Presdir. Bukan seperti itu."


"Kalau begitu lakukan denganku, sekarang."


Aku memelotot mendengar apa yang dia katakan. Belum sempat aku berbicara, mulutku sudah tertutup oleh bibirnya. Dia menciumku dengan kasar. Bahkan sesekali dia mengigit bibirku hingga terasa sedikit perih.


Dorongan tanganku hanya sebagian kecil dari penolakan, kekuatannya pun bisa di kalahkan oleh anak kecil.


"Presdir, tolong jangan begini."


Dia tidak berhenti. Aku sendiripun berharap dia tidak akan menghentikan permainan ini.


Kini, aku benar-benar tidak memakai apapun, begitu juga dengan Jun.


"Dasar wanita ******. Apa ini yang kamu inginkan dari pria yang begitu kamu cintai?"


Apa? dia bilang apa barusan?


"Tidak akan aku biarkan orang mencicipi milikku sebelum aku yang merasakannya terlebih dahulu."


"Jangan, tolong jangan lakukan itu."


Aku merangsuk mundur. Pemanasan yang begitu aku nikmati, kini berubah menjadi rasa takut. Dia yang aku kira benar-benar ingin melakukannya, ternyata hanya memandangku sebagai wanita murahan.


"Kenapa? apa kamu kecewa karena aku yang akan merenggut mahkotamu?"


Jun menindih tubuhku. Tangannya mencengkram kedua tanganku dengan kuat. Dengan beringasnya, dia merebut mahkotaku. Bahkan dia tidak berhenti saat aku meminta untuk berhenti karena rasa sakit yang teramat luar biasa.


Rasa sakit itu menusuk sampai ibu jari kaki. Terlebih lagi di sini--di hatiku.


Bagaimana aku tidak sakit hati, saat ******* saja melayani tamunya di hotel, atau paling tidak di atas kasur, aku 'diperkosa' di atas lantai.


Dingin dan berdebu.


Setelah Jun kembali berpakaian, dia tidak membantuku yang sedang menahan perih dan panas. Aku melihat darah berceceran cukup banyak di lantai.


Apa harus seperti ini mahkotaku di renggut?


Dengan tangan yang bergetar, bibir perih dan sepertinya berdarah karena aku merasakan cairan asin di lidah. Aku meraih underware dan gaunku untuk ku pakai.


Dengan rambut yang sudah tidak terlihat lagi bentuknya, deraian air mata yang tiada henti, aku berdiri menahan semua luka fisik dan batinku.


Setelah pakaian kembali melekat di tubuh. Aku berjalan menuju kamar mandi. Mencuci wajah dan merapikan rambut.


Aku mengikatnya seperti ekor kuda. Tidak ada lagi sanggul cantik berhiaskan mahkota kecil di kepala.

__ADS_1


Dengan tisu kubersihkan bercak darah akibat selaput dara yang dirobek paksa oleh suamiku sendiri.


"Apakah sehina ini aku diciptakan? pakaian mahal yang aku kenakan tidak bisa menjamin harga diri pemakainya," lirihku.


Dengan tubuh yang masih bergetar, aku keluar. Berjalan dengan menahan rasa sakit yang luar biasa. Dengan kaki yang setengah di seret, aku mencari seseorang namun, kantor ini terlihat sepi. Aku menduga bahwa Jun memerintahkan semua orang untuk segera meninggalkan gedung ini.


Langkahku terhenti saat nyeri di bagian kewanitaanku tak tertahankan lagi. Aku duduk sebentar di lantai sebelum kembali berjalan.


Supir pasti sudah pulang. Lebih baik aku keluar menuju lobby depan saja.


Sepi. Hanya ada satpam yang sepertinya akan segera menutup pintu utama. Dia kembali membuka pintu lebar-lebar begitu melihat aku datang.


"Pak, kenapa sepi sekali? ini masih sore."


"Iya, Bu. Pimpinan sengaja menyuruh karyawan untuk segera meninggalkan gedung ini."


Sudah kuduga.


"Maaf, pimpinan itu siapa?"


"Presdir Kim Joon, Bu. Beliau kemarin meminta semua orang tidak lagi memanggilnya presdir."


"Kenapa?"


"Saya juga kurang tau, Bu. Tapi menurut desas-desus, panggilan presdir hanya Anda yang boleh memanggilnya seperti itu."


Aku berpikir, kenapa dia melakukan itu? Ah, bahkan nama di ponselku pun 'My Presdir'


Aku berusaha mengingat sesuatu yang mungkin saja bisa jadi jawaban.


"*Bisakah kamu memanggilku Jun, bukan presdir?"


"Tidak, aku menyukainya*."


Ah, iya. Karena aku menyukai dia dengan panggilan presdir. Sejauh itukah dia sampai melakukan semua ini?


Tapi, apa yang dia lakukan hari ini padaku membuat aku benar-benar merasa sangat terhina. Apa dia melihat aku dan Evan tadi? apa dia marah? tapi kenapa sampai sejauh ini menghukumku.


"Bu, apa Anda baik-baik saja? Anda sakit?"


"Ya, em maksud saya, saya baik-baik saja. Pak, saya boleh minta tolong?"


"Iya, Bu. Kenapa?"


"Supir mungkin sudah pulang, saya tidak membawa uang untuk ongkos pulang. Apa saya boleh meminjam uang?"


"Aduuuh," ucapnya malu-malu. "Saya bukan tidak ingin membantu, tapi saya juga tidak punya uang banyak. Hanya cukup untuk ngopi malam ini."


"Begitu, baiklah tidak apa-apa. Terima kasih."


Aku kembali berjalan dengan menahan rasa sakit yang luar biasa. Aku menahan semuanya dan berjalan normal seperti biasa. Aku tidak ingin orang curiga padaku.


Tas yang aku bawa diambil Jun. Aku tidak bisa menghubungi siapapun, tidak ada uang untukku pulang.


Aku bisa saja naik taxi, hanya saja apa aku masih punya nyali untuk pulang ke rumah setelah apa yang terjadi padaku.


Sedih, kecewa, marah dan bingung menjadi satu. Tidak ada tempat yang bisa aku tuju. Hidup di dunia tanpa keluarga, penuh dengan kesulitan. Orang tua yang tidak bisa di harapkan saat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar.


Hari semakin larut saat entah sudah berapa jauh kaki ini melangkah. Tidak ada tujuan, aku hanya mengikuti jalan yang bisa aku pijak.


Memakai gaun dengan bagian dada yang terbuka. Sandal ber hak tinggi dan perhiasan yang masih menempel di tubuh, membuat orang yang berpapasan heran dan mungkin mengejek, atau mereka menghina diriku.


Aku seperti wanita yang sedang di booking lalu di campakkan. Berpakaian mahal tapi mengenaskan.


Riba di sebuah tempat dengan keadaan lebih sepi dari sebelumnya. Mungkin karena malam sudah larut juga. Jalanan tidak lagi sepadat sore hari. Hanya beberapa kendaraan besar dan bis pariwisata yang lewat sesekali.


Aku duduk di sebuah halte yang sepertinya sudah tidak terpakai lagi. Usang.


Aku melepas sandal yang membuat tumitku pegal. Mencoba mengatur nafas yang sedari tadi terasa sesak.


"Malam-malam begini sedang apa?" tanya seseorang. Aku menoleh. Aku merasa tidak ada yang harus aku jawab.


"Kenapa? apa kamu sakit?" dia kembali bertanya seraya duduk di sampingku.


"Tidak baik wanita malam-malam sendirian di jalan seperti ini, apa lagi dengan pakai seperti itu."


Aku masih diam. Menyandarkan kepala pada tiang yang ada di sampingku. Laki-laki itu bergeser mendekat. Aku melirik sinis agar dia berhenti.


"Jangan galak-galak, gak baik. Ikut pulang ke rumahku saja. Mau?"


Aku merasa dia bukan orang baik-baik meski penampilannya tidak seperti preman yang membawa minuman keras di tangannya.


Tangannya mencoba meraba lenganku yang terbuka. Aku menangkis. Berdiri untuk segera pergi. Dia yang memang seorang laki-laki dan aku wanita yang sedang dalam keadaan tidak berdaya, kalah. Dengan cepat dia menarik tanganku, mengajakku ke tempat yang lebih gelap lagi. Memaksa aku berjalan cepat dengan kondisi pangkal paha yang masih sangat perih. Aku merasa ada cairan hangat keluar. Apa mungkin itu darah? apa lukanya cukup lebar?


Dia menghempas tubuhku hingga terjatuh ketanah. Laki-laki itu menyeringai. Membuka bajunya dan siap menerkamku seperti harimau yang akan menyantap anak kijang.


Takut. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun selain pasrah. Dia mendekatiku, menampar wajahku begitu kuat hingga kepalaku terasa pusing. Apa tidak kau ambil saja nyawaku, Tuhan?

__ADS_1


Gelap.


🌺🌺🌺🌺


__ADS_2