Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Dia ....


__ADS_3

Hari ini, aku kembali bekerja seperti biasa. Aku ikut di mobil Evan hanya sampai aku bertemu dengan angkot yang akan membawaku sampai dekat ke kantor. Aku tidak ingin ada rumor tidak sedap jika aku harus berbarengan dengan Evan.


Begitupun saat pulang kerja. Aku akan naik angkot sampai melihat mobil Evan yang terparkir di bahu jalan.


Lucu memang. Kami seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan backstreet.


Evan selalu membawaku belanja. Membeli beberapa baju, tas, sepatu, sandal bahkan underware. Awalnya aku begitu malu dan risi harus memilih underwear bareng Evan. Namun, dia bilang aku harus bersikap biasa saja, anggap saja Evan adalah kakaknya. Aku pun merasa nyaman.


Dia yang memang seorang dokter, selalu merawat luka-luka yang ada di tubuhku. Hingga luka itu hanya menyisakan sedikit warna biru yang hampir tidak terlihat.


"Nanti sepulang kerja, kita ada janji dengan temanku. Jangan lupa."


"Ok. Aku turun sekarang, ya. Itu angkotnya udah mau dekat."


"Hati-hati. Uangnya masih ada?"


"Masih banyak malah. Udah, kamu pergi aja duluan. Aku akan menunggu angkotnya di sini."


"Baiklah. Kalau ada apa-apa segera kasih kabar. Telpon atau apapun itu, apa lagi saat melihat preman itu datang. Teriak aja yang kenceng."


"Iyaaaa."


Itulah Evan, yang semakin lama semakin bawel. Dia benar-benar seperti seorang Kakak untukku.


Aku berdiri menunggu angkot dengan senyuman yang masih terukir di wajah. Hingga senyuman itu memudar dan semakin hilang tatkala angkot yang aku tunggu berbelok arah.


"Loh,loh, itu angkotnya mau kemana? Hey! tunggu." aku melambaikan tangan. Namun, angkot itu malah semakin menjauh."Hey! ke sini, mau kemana angkot!" Aku mulai lelah dengan nafas ngos-ngosan setelah berlari mengejar angkot itu.

__ADS_1


Aku menepuk dada yang masih terasa sesak dengan posisi tubuh seperti orang ruku'.


Tidiiddd.


Suara klakson membuat aku menyingkir dari jalan. Aku tidak sadar posisiku berdiri menghalangi jalan.


Tidiiddd.


Astaga! kenapa orang ini? bukankah aku sudah di pinggir.


"Woiii. Jalan, ya jalan aja. Beris–" aku segera menutup mulut saat melihat orang yang tidak asing lagi. Dia menyuruhku mendekat dengan isyarat matanya. Kaca mobil terbuka saat aku berdiri tepat di sampingnya.


"Masuklah."


"Apa?"


"Ah, iya, baik, Presdir."


"Kamu pikir saya sopir? duduk di depan!"


Aku menghentikan gerakan tangan yang hampir membuka pintu belakang. Berjalan memutar kebelakang dan masuk, duduk di sampingnya.


Mobil melaju perlahan. Aku begitu gugup. Sengaja menundukkan kepala karena aku takut tidak bisa berpaling saat menatap matanya.


Apa yang akan orang katakan jika melihat ini? aku berusaha agar tidak terlihat berbarengan dengan Evan. Dan sekarang .... Presdir?


"Saya turun di sini saja, Presdir," ucapku saat melihat pintu belakang menuju markas besarku.

__ADS_1


Dia diam. Tidak menjawab bahkan merespon apa yang aku ucapkan. Mobil melaju ke tempat parkir VIP. Di sana tempat parkir mobil para petinggi.


Semoga tidak ada orang lain saat aku turun.


Mobil sampai. Presdir membuka sabuk pengamannya. Dan membuka pintu.


"Tunggu sebentar," titahnya sebelum dia benar-benar keluar dari mobil. Aku melihat dia berjalan sambil membenahi jas nya. Mendekat kursiku dan membukakan pintu mobil untukku.


"Keluar."


Aku terhenyak saat dia berbicara dengan nada yang tinggi, seperti biasanya. Aku segera keluar dengan buru-buru, kecerobohan yang aku lakukan hampir membuat kepelaku terbentur mobil, hingga tangan Presdir menyelamatkan kepala ini. Dia melindungi kepalaku.


Ya ampun. Tolong, kali ini kita harus bekerjasama dengan baik wahai organ dalam ku


"Terima kasih, Presdir." Aku berusaha bersikap santai. Aku berbalik arah berniat kembali pada pintu belakang yang menuju tempatku bekerja.


"Mau kemana?"


Eh, ya jelas kerja lah.


"Ya?"


"Ikuti saja kemana saya melangkah."


Apa?


Dia segera pergi begitu saja. Aku yang kemudiannya sadar berusaha lari untuk mengejarnya.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2