Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Dia Kembali


__ADS_3

Sudah sepekan ini, Evan tidak ada kabar. Aku mencoba sabar menunggu, ku pikir hanya tinggal sepekan lagi.


Aku hanya berharap dia baik-baik saja. Rasanya hampa sekali melewati hati tanpa dirinya. Rumah besar ini sangat sepi. Hanya atap kubah tempat aku merenung. Melepas rindu padanya dengan melihat bintang.


Kenapa aku enggak berkumpul saja bersama para pelayan? sepertinya makan bersama mereka bukan hal yang buruk.


"Bi, jam berapa kalian makan?" tanyaku pagi itu saat sarapan.


"Kami makan siang pukul 13.00, Nona."


"Oh, begitu rupanya. Nanti, satu jam sebelum makan siang, kalian kumpul di halaman belakang."


"Baik, Nona."


Ok! aku akan pergi berbelanja ke pasar. Untuk mempersiapkan segala sesuatunya.


Hari ini aku libur. Aku akan mengajak para pelayan di sini makan bersama dengan alas daun pisang. Ah! pasti akan sangat seru sekali.


Makam sambil ngobrol bersama. Bukankah itu sangat seru?


Pukul 09.00, aku mengajak supir dan satu pelayan pria untuk aku ajak ke pasar. Ternyata tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya butuh waktu 30 detik saja.


Aku masuk ke dalam pasar, dan mendapati padanya begitu bersih dan rapi. Jauh dari kata becek dan bau. Yaa meski aku harus menutup hidung saat melewati pedagang ikan basah.


"Ini untuk apa, Nona? kenapa banyak sekali belanjaannya?"


"Ada aja! pokoknya Bapak ikut saja. Nanti juga tau."


Ya, aku belanja memang cukup banyak saat ini. Sepuluh kilo daging ayam, ikan asin, cabe dan kawan-kawan se-persambelan. Lalapan, kerupuk, kangkung, tahu–tempe, juga beberapa macam makanan laut ; udang, cumi, kepiting dan juga kakap merah.


Supir pun sama-sama di buat melongo dengan apa yang aku beli. Sejenak dia terdiam hingga akhirat segera berlari dan membantu kami membawakan belanjaan.


Ternyata di luar perkiraan. Aku baru sampai rumah saat hampir tengah hari. Aku mencari Bibi Emi–kepala pelayan di rumah ini.


Ah! itu dia.


"Bibi." aku melambaikan tangan, saat melihat dia sedang berjalan di dekat kebun mawar di samping rumah.


Dengan seulas senyuman, dia menghampiri.

__ADS_1


"Nona, saya–"


"Tunggu dulu, aku yang akan bicara." aku menyela ucapan Bibi. "Apa para pelayan di rumah ini sudah berkumpul?"


"Tapi, Nona."


"Udah, sekarang lebih baik kita ke dapur saja."


Aku menyeret tangan Bibi. Dia tidak melawan dan hanya pasrah mengikuti langkah kakiku yang begitu semangat.


"Ya ampun." Bibi tampak terkejut saat melihat yang lain sedang mengerumuni belanjaan yang aku bawa dari pasar.


"Ini untuk apa, Nona?"


"Makan kita? pokonya sekarang kita masak untuk makan siang kita."


"Tunggu, Nona. Ini tidak benar. Anda di larang bergaul bersama kami?"


"Kenapa? kalian manusia bukan?"


"Nona, apa anda tidak pernah melihat tuan Evan marah?"


"Tidak dan tidak akan pernah. Aku jamin dia tidak akan pernah marah. Kalaupun marah, aku akan bertanggungjawab. Jadi, sekarang lebih baik kita masak saja."


Dengan wanita berjumlah 15 orang, masak terasa begitu cepat, apa lagi ternyata ada seorang koki di rumah ini. Wow!


Meski melebihi dari jam makan siang, kami akhirnya bisa makan juga. Dengan pada daun pisang, dan aneka lauk yang terhidang begitu nikmat di pandang dan juga di rasa.


Kami makan secara terpisah antara laki-laki dan perempuan. Akhirnya aku bisa berkenalan dengan mereka meski aku tidak bisa menghapal satu-satu nama mereka.


Mereka makan begitu lahap. Aku tidak tau kenapa? apakah mereka baru makan makanan seperti ini? tapi rasanya tidak mungkin, Evan selalu memberi mereka makanan bergizi.


Atau?


Mereka merasa bebas saat tuan rumah tidak ada di sini? segala itukah Evan?


"Ada apa ini?" suara itu membuat kami semua kaget. Mereka para pelayan di rumah ini segera berdiri. Menelan bulat-bulat makanan yang belum sempat mereka kunyah.


Semenit aku masih duduk dan berharap ini adalah kenyataan. Suara itu? sungguh aku merindukannya.

__ADS_1


"Nona, bangunlah. Tuan sudah datang." Bibi berbisik-bisik.


Aku segera bangkit dan memutar badan. Benar, itu adalah Evan. Laki-laki yang sepekan ini menghilang tanpa kabar.


Aku tidak perduli dia terlihat marah, atau pun banyaknya orang yang ada di sini. Aku berlari dan berhambur ke pelukannya. Aku memeluk tubuh yang baunya begitu aku rindu.


Aku memeluk erat dengan tangisan pecah di dadanya. Tidak perduli pun Evan ingin melepaskannya pelukanku.


"Biarkan. Aku ingin seperti ini dulu." Bisikku di tengah tangisan yang semakin menjadi. Untuk waktu yang lama hingga aku merasa sedikit lega, kami berpelukan. Entah sejak kapan Evan membalas pelukanku. Dan entah sejak kapan pula mereka–pelayan sudah pergi.


"Kenapa?" tanyanya lembut seraya mengusap air mataku. Aku menatap wajahnya dari bawah, karena memang, tubuhku begitu kecil, kepalaku hanya sampai dagunya saja.


"Masih bertanya kenapa? harusnya aku yang bertanya kamu kenapa tidak memberi kabar, tidak bisa pula di hubungi. Menyebalkan!" aku melepaskan pelukannya, pura-pura menekuk wajah dan membelakangi dirinya.


"Maaf." dia berujar dengan memelukku dari belakang. Dia menyimpan wajahnya di bahuku, hingga saat dia berbicara, nafasnya menerpa telingaku. Astaga ....


"Kamu kemana aja, sih? aku menderita di sini. Sepi banget rasanya." aku merajuk.


"Ah! sepertinya kamu happy tadi. Makan bersama para pelayan, dan itu melanggar sebuah aturan yang ada di rumah ini. Untuk itu, kamu akan aku hukum. Mengeri?"


"Apa dulu hukumannya."


"Berat. Hukuman buat kamu akan sangat berat," ucapnya sambil mencium pipiku.


"Baiklah, baiklah. Aku akan menerima hukuman itu dari kamu. Asal ...."


"Asal apa?"


"Jangan pergi tanpa kabar lagi. Aku enggak suka."


"Ok! siapa takut, tapi dengan satu syarat juga."


"Apa itu?"


"Jangan bekerja di kantor yang sekarang. Tetaplah di sini dan tidak melakukan apa-apa. Hidupmu akan aku jamin sepenuhnya."


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapi. Kamu, harus menuruti apapun yang aku katakan." dia memelukku begitu erat.

__ADS_1


Ada rasa bahagia dalam hati. Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam, aku merasa cemas.


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2