Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Rasa


__ADS_3

Bip!


Terdengar pintu terbuka, aku melihat Jun berlari dengan wajah yang tegang. Dia segera menghampiriku yang setengah duduk.


"Tidak apa-apa. Tidurlah." dia membantuku kembali berbaring.


"Presdir, kumohon." Aku meringis, "jangan hukum bapak karena sikapnya pada saya kumohon."


Dia menatapku tajam. Matanya memerah. Giginya beregemulutuk.


"Presdir, bagaimanapun juga dia orang tua saya, kali ini tolong fahami."


"Aku tidak bisa membiarkan siapapun melukaimu."


"Saya tau, hanya saja kali ini berbeda. Dia orang tua saya, saya tidak akan rela jika ada yang menyakiti bapak."


"Istirahatlah." Dia berlalu.


"Presdir!" aku berteriak dan dia menghentakkan langkahnya. "Jika sesuatu terjadi pada orang tua saya, maka anda akan menyesal. Camkan itu!" kali ini aku bukan hanya menggertak. Bagaimanapun juga aku tidak ingin Bapak celaka.


Dia bergeming. Tidak menjawab apapun atas ancaman yang aku berikan. Pergi.


Bahkan dia akan melenyapkan orang yang menghinaku apalagi sekarang aku babak belur. Apa yang akan terjadi pada Bapak?


Aku tidak bisa memaafkan Jun jika dia melakukan sesuatu pada Bapak. Apa yang akan terjadi? dan apa yang bisa aku lakukan nanti?


Kepalaku terasa begitu sakit memikirkan semuanya. Semakin lama semakin rumit jalan yang aku tempuh.


Dor


Dor


Dor


Siapa yang mengetuk pintu begitu kencang? Aku segera ke arah pintu.


"Bi–"


"Nona, supir ... supir ...."


"Ada apa Bi? supir?" Astaga. Supir yang mengantarku? Jun, apa yang kamu lakukan? Dengan langkah yang masih kuseret, aku segera turun ke bawah. Rumah besar ini benar-benar menguras tenagaku yang harus aku keluarkan lebih banyak saat dalam kondisi tubuh tidak fit.


"Presdir! hentikannnn." aku berlari kencang saat melihat Jun membabi buta menghajar supir yang mengantarku saat itu. "Apa yang anda lakukan, Presdir?" aku berusaha meraih tangan Jun yang terus saja memukul supir itu.


"Kenapa kau diam saja saat istriku di hajar? ini yang dia rasakan waktu itu! enak bukan?"


"Jun! hentikan. Kumohon, ini tidak benar, waktu itu dia ingin menolongku, tapi aku melarangnya. Jun, hentikan. Cukup!"


Aku berteriak sekuat mungkin, tapi dia tidak mau mendengar sama sekali. Apa yang harus aku lakukan? ayo berpikir kinanti! ah! itu dia.


"Nyonya!"


"Jangan lakukan itu."


"Hentikan, Nyonya."


Semua orang berteriak. Itu membuat Jun menghentikan aksinya memukul supir tanpa ampun. Dia begitu terkejut melihat apa yang aku lakukan.


"Ada apa denganmu? apa kamu sedang mengancamku sekarang?"


"Tidak. Buat apa saya mengancam anda, Presdir. Saya hanya melakukan apa yang ingin saya lakukan dari dulu."


"Jangan konyol!"


"Kenapa? sejak aku kecil, hidupku begitu sulit, tapi tidak sesulit saat saya hidup bersama anda. Saya sangat tertekan." aku mulai menangis.


"Kinanti. Jangan lakukan apapun."


"Apa anda tau, Presdir? dengan anda bersikap seperti itu membuat saya takut. Apapun tujuan anda, anda berhasil membuat saya dalam tekanan besar, saya ...."


"Aku tidak ingin kamu terluka. Lepaskan pisau itu!"


"Saya tidak ingin hidup jika kehidupan saya membuat banyak orang celaka. Pak, saya minta maaf, gara-gara saya anda terluka parah," ucapku pada supir itu. Dia mengangguk pelan dalam rasa sakitnya.


"Kinanti! jangan bertindak bodoh!"


"Presdir, terima kasih untuk apa yang anda berikan, hanya saja saya tidak akan sanggup terlalu lama hidup bersama anda. Saya tersiksa setiap hari di hantui rasa takut. Lebih baik saya pergi, karena rasanya dunia ini memang tidak menginginkan kehadiran saya."


"Aku mohon, hentikan lelucon ini. Jangan gegabah Kinanti."


"Kenapa? apa hidup saya begitu berarti untuk anda, Presdir? jika anda ingin saya hidup lebih lama, kenapa anda membuat hidup saya seperti di neraka?"


"Apa yang kamu inginkan?"


"Saya ingin anda bersikap baik dan lebih manusiawi. Anda memiliki segalanya, tapi hidup orang tidak bisa anda atur semau sendiri. Mereka juga manusia, bukan binatang."


"Baik. Aku akan menuruti apapun yang kamu katakan, buang pisau itu Kinanti, kumohon."


"Terima kasih. Tapi ini adalah pilihan saya, saya benar-benar ingin pergi dari dunia ini."


"Nyonya."


"Jangan lakukan itu, Nyonya."


Mereka--pelayan tampak khawatir dan takut. Jun tampak tegang. Aku sungguh tidak bisa mengerti kenapa dia bersikap seperti itu. Dia seperti begitu menyayangi diriku, tapi di sisi lain dia begitu menakutkan.


Andai saja dia bisa selembut Evan. Ah, Evan dimana kamu? andai kamu ada di sini. Bawa aku pergi, Evan.


"Bahkan, orang tuaku saja tidak mengharapkan aku ada di dunia ini. Untuk apa aku hidup?" lirihku dalam tangis.


Krep!

__ADS_1


Bodyguard Jun dengan cepat kilat mengambil pisau dari tanganku. Mendorong tubuh ini ke tanah. Semua orang berteriak histeris. Aku hanya diam dalam tangisan.


Jun datang menghampiri. Dia memeluk tubuhku erat. Tangannya bergetar, bisa ku rasakan saat dia membelai rambutku.


"Ayo, kita ke kamar saja." dia menggendongku dan berjalan masuk ke rumah. Di ikuti bodyguard dan beberapa pelayan yang mengikuti Bibi. Setiap kali aku bersentuhan dengan Jun, tidak kupungkiri ada rasa nyaman menyelimuti hati. Aku menangis pilu dalam dekapannya. "Jangan menangis, semua akan baik-baik saja." bisiknya.


Jun membaringkan aku di tempat tidur dengan perlahan. Menyelimuti tubuhku. Dia menatapku penuh kecemasan. Mengecup keningku dan membelai wajahku dengan lembut.


"Aku akan memanggil dokter."


"Presdir, berjanjilah padaku."


"Apa?"


"Berjanjilah anda tidak akan menyakiti siapapun juga. Berhentilah memperlakukan manusia seperti binatang. Aku mohon."


"Kinan–"


"Jika anda bersikap lebih baik lagi, saya berjanji akan hidup bersamamu sampai maut menjemput. Saya akan terus mendampingi anda dalam keadaan apapun. Tidak perduli dengan apa yang ada di dalam kontrak pernikahan, saya akan mengabdikan hidup saya pada anda. Apa anda mau melakukannya?"


"Kita bahas ini nanti, sekarang kamu harus di periksa dulu, sebentar lagi dokter akan datang."


"Jun." dia menoleh. Terlihat binar bahagia saat aku memanggilnya 'Jun'. "Jangan pergi, tetaplah di sini, di dekatku."


Aku tersenyum padanya. Dan dia pun begitu. Dia segera duduk di sampingku. Aku meletakkan kepalaku di pangkuannya, dan berusaha menikmati setiap belaiannya.


Aku sadar dan aku merasakannya bahwa dia begitu mencintaiku meski dia tidak pernah mengucapkannya. Entahlah, mungkin aku hanya perasa.


Kebaikannya padaku harus aku manfaatkan. Aku harus merubah dirinya menjadi orang yang lebih baik. Hanya padaku dia menurut.


Jun, aku akan bersikap baik padamu, aku akan merubah dirimu menjadi manusia yang punya hati.


"Kinan, dokter sudah datang. Ayo kita periksa dirimu dulu."


"Tetaplah di sini." aku memegang tangannya.


"Iya, aku tidak akan kemana-mana, aku akan di sini menemanimu. Sekarang, berbaringlah biar dokter memeriksa dan mengobatinya lukamu."


Dia mengangkat tubuhku, membaringkannya di tempat tidur.


"Silahkan, Dok." Jun berdiri dan mempersilahkan dokter memeriksa tubuhku. Tentu saja dokter itu seorangpun wanita.


"Lukanya hanya memar, di kompres memakai air es jiga akan cepat sembuh. Saya hanya akan memberikan resep untuk anti nyerinya."


"Baiklah, anda akan pelayan antar, berikan resep padanya."


"Baik, kalau begitu saya permisi."


"Terima kasih, Dok." ucapku. Dia tersenyum.


Bibi dan para pelayan, serta bodyguard keluar dari kamar. Hanya aku dan Jun di kamar itu.


"Apa kamu ingin sesuatu?" tanyanya seraya kembali mendekatiku.


"Jangan lakukan hal tadi lagi? bunuh diri adalah hal terbodoh yang orang lakukan."


"Mungkin itu adalah solusi terbaik menurut mereka, dimana beban yang mereka pikul terasa sangat berat dan tidak sanggup mereka pikul sendiri."


"Apa aku membuatmu begitu tertekan? sampai kamu memilih untuk mengakhiri hidup."


"Presdir, mendekatkan." aku meminta dirinya mendekat. Dia menurut. "Biarkan seperti ini sampai aku tertidur. Pergilah jika aku sudah terlelap." aku memeluk tubuhnya. Nyaman.


🌺


Aku membuka mata dan tidak mendapati dirinya di kamar ini. apa ini sudah malam? aku melirik jam dinding. Ah! sudah hampir tengah malam ternyata.


Aku merasa lapar dan haus. Dengan kepala uang masih terasa berat, aku berjalan menuju dapur. Tidak sengaja aku melihat ruang kerja Jun terbuka, aku memutuskan untuk melihatnya. Kenapa malam-malam begini dia ada di ruang kerjanya.



Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang. Aku melihat ada yang berdiri di depan mejanya. Apa Jun sedang tersenyum? andai saja dia selalu seperti itu.


Tanpa sadar aku tersenyum menatapnya. Dia yang selalu memaku mataku saat menatapnya, kali ini pun sama. Dia yang tersenyum manis membuat aku semakin ingin terus menatapnya.


"Nyonya."


Aku terperanjat saat ada yang menyapaku.


"Bibi, mengangetkan saja. Ada apa? oh, iya siapa yang ada di dalam? saya tidak bisa melihat dengan jelas."


"Oh, itu supir yang kemarin, Nyonya."


"Sedang apa mereka di dalam? apa Presdir memarahinya lagi? apa dia di pecat?"


"Haha. Tidak usah cemas, Nyonya. Oh, iya, sedang apa Nyonya di luar kamar? istirahatlah."


Apa mungkin itu uang kompensasi? ya ampun, Jun. Aku terharu.


"Saya lapar, Bi. Apa kalian tidak ingat bahwa aku belum makan? kenapa tidak ada yang menyiapkan makan untuk saya?"


"Ma-maafkan kelalaian saya, Nyonya. Say–"


"Hahaha." aku tertawa keras sekali melihat Bibi begit ketakutan. "Tenang saja, Bi. Jangan tegang begitu."


"Ada apa ini?"


Aku langsung menutup mulutku yang sedang tertawa terbahak-bahak begitu Jun keluar. Sepertinya suara tawaku membuat dia keluar dari ruangan di ikuti supir di belakangnya. Asia membawa amplop cokelat yang cukup besar.


"Bukan apa-apa. Presdir, apa anda tidak ingat bahwa saya belum makan? kenapa tidak ada makanan di kamar? aku kelaparan." aku merengek manja seraya menggelayutkan tangan, dengan kepala miring ke depan, menatapnya sedikit dari bawah.


"Baiklah, ayo kita makan. Aku akan memasak untukmu."

__ADS_1


"Benarkah? apa anda bisa memasak, Presdir?"


"Apa kami meragukannya? sungguh mengecewakan."


"Tidak, tidak, saya yakin anda bisa memasak. Ayo, kita ke dapur sekarang."


"Apa kakimu masih sakit?"


"He-em, sedikit."


Dia berjalan sedikit mendahuluiku. "Naiklah." dia menyodorkan punggungnya dan memintaku untuk naik.


"Apa anda yakin?"


"Aku sudah beberapa kali menggendongmu bukan? ayolah."


Aku tersenyum dan segera naik ke punggungnya. Kali ini aku tidak akan mencekiknya. Aku akan bersikap baik dan manis padanya, dia harus benar-benar selalu tersenyum pada semua orang seperti tadi.


"Duduklah di sini. Dan tunggulah, aku akan memasak yang sangat lezat untukmu."


"Baiklah, semoga maknanya bisa masuk ke dalam perutku tanpa masalah."


"Ck! oh, astaga. Wanita ini benar-benar meragukan kemampuanku."


Aku terkekeh melihat dia kesal seperti itu. Dia mulai memakai apron, mengambil beberapa bahan makanan dari kulkas, mencucinya lalu memotongnya.



Dia terlihat begitu manis. Seperti laki-laki biasa. Bukan seorang presdir dengan tempramen yang tidak stabil.


Tidak begitu dia memasak. Makanan sudah terjadi di meja.




"Kelihatannya ini lezat. Semoga rasanya sesuai."


"Cobalah. Aaaa." dia menyuapi. Aku masih menutup mulut dengan menahan tawa. Aku tidak yakin apa dia benar-benar bisa memasak.


"Cobalah dulu, kalau tidak enak kamu bisa memuntahkannya."


"Baiklah." aku membuka mata dan memakan apa yang di berikan padaku. Dan rasanya benar-benar sangat enak. Laki-laki ini ternyata memang ahli dalam segala bidang. Luar biasa.


"Bagaiman? apa rasanya enak?"


"Hmm." aku mengangguk dengan mulut penuh makanan. Dia begitu terlihat puas saat melihat aku makan dengan lahap.


"Kalau seperti ini, aku bisa gemuk nanti."


"Tidak apa-apa. Justru aku akan merasa nyaman memelukmu saat kita tidur."


"Memangnya sekarang tidak nyaman?"


"Bagaiman aku bisa tau, tidur bersama saja belum pernah."


"Ah, iya. Saya lupa."


"Cepat habiskan. Setelah ini istirahat, sudah larut malam."


"Baiklah. Apa anda akan pergi malam ini, Presdir?"


"Kenapa?"


"Tidak, bukan apa-apa. Hanya bertanya."


Aku dengan lahap menghabiskan seluruh makanan tanpa sisa. Setelah menunggu beberapa menit, aku kembali ke kamar. Kali ini aku tidak ingin Jun menggendongku. Aku memintanya untuk memapah.


Dia menggenggam jemariku, dengan tangan lain merangkul pundakku. Kami berjalan dalam diam. Tanpa bicara satu sama lain. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya kami tiba di kamar.


Dia berdiri di hadapanku. Menatapku lekat. Wajahnya begitu dekat.



Jantungku berdetak cepat. Rasanya tubuhku memanas. Dadaku berdebar dan aku merasa kesulitam bernafas. Kenapa denganku?


Aku merasa seluruh tubuhku memanas, tapi jemari tanganku terasa dingin hampir beku.


"Kenapa kamu gugup?" tanyanya. Aku tidak bisa menjawab. Bagaimana aku bisa berkata-kata, untuk mengatur nafas saja aku merasa kesulitan.


Dia semakin mendekatkan tubuh dan wajahnya. Nafasku tercekat.


"Apa kamu akan membiarkan aku pergi?"


Tidak. Tetaplah di sini.


"Kenapa diam saja? apa itu artinya kamu ingin aku di sini? atau sebaliknya?"


Tetaplah di sini, Presdir.


"Baiklah, Akau pergi. Tidurlah." dia pergi setelah mencium keningku.


Astaga, kenapa tubuhku tidak bisa bergerak. Ayolah, jangan biarkan dia pergi.


Dengan semua tenaga yang aku punya, aku berusaha menggerakkan tubuh. Segera berlari mengejarnya yang hampir keluar dari pintu kamar.


"Jangan pergi. Tetaplah di sini. Jangan pergi, Presdir." aku memeluk erat tubuhnya dari belakang.


Ya! aku tidak ingin dia pergi. Aku ingin dia tetap ada di sisiku. Aku harus memastikan dia tidak melakukan apapun dan tidak menyakiti siapapun lagi.


"Tetaplah di sini. Selalu."

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


__ADS_2