
"Begini sangat nyaman."
"Apa kamu menyukainya?"
"Ya. Saya rasa, saya bisa tidur nyenyak setelah beberapa tahun ini selalu gelisah tiap malam."
"Kita akan selalu seperti ini setiap malam. Aku tidak akan pernah pergi lagi."
"Presdir, kemana biasanya Anda pergi dan tidak tidur di rumah ini?"
"Aku punya rumah sendiri, Kinan. Apa kamu ingin ke sana?"
"Untuk apa?"
"Menjadi Nyonya yang sesungguhnya. Karena di sanalah rumah kita yang sesungguhnya."
"Kenapa aku merasa sangat cemas membicarakannya rumah yang Anda maksud."
"Kenapa?"
"Entahlah."
"Sudahlah, jangan bicarakan itu. Kita akan tinggal di rumah yang menurutmu nyaman saja." Dia mempererat pelukannya.
Tidur di dalam dekapannya membuat aku benar-benar merasa nyaman. Tubuhnya yang kekar, baunya yang khas dan maskulin namun tetap soft. Kulitnya begitu halus dan nafasnya pun segar. Aku merasa ingin berlama-lama seperti ini, setiap hari sepanjang waktu.
"Presdir, aku mengantuk."
"Tidurlah. Aku akan memelukmu sampai kamu bangun."
"Ayo, kita tidur bersama. Anda juga butuh istirahat."
"Hmm."
Tangannya membelai rambutku dengan lembut. Sesekali aku merasa dia mencium kepalaku. Aku tidur dengan kedua tangan di dada, dalam dekapannya.
Malam semakin larut. Meski merasa nyaman, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Entahlah, di kepalaku selalu saja terlintas sesuatu yang menakutkan. Banyak bayangan tidak jelas.
Aku membuka mata perlahan. Dan melihatnya Jun sudah tertidur lelap. Sedikit demi sedikit aku menjauhkan badan darinya. Menyimpan tangannya dengan penuh hati-hati di atas bantal guling.
Aku menghela nafas saat duduk di ranjang. Memakai sandal, berjalan menuju keluar kamar seraya merapikan kimono tidur.
Entah kenapa aku begitu ingin naik ke atas. Aku rindu menatap langit malam di kubah. Masih teringat bagaimana aku dan Evan memadu kasih di sana.
Malam dengan rintikan hujan tipis, angin dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Menghangatkan diri dengan mengadukan bibir kami. Ah, Evan. Di mana kamu sekarang? apa kamu sedang bersama istrimu?
Malam ini cerah. Tampak bintang saling berkedip meski mereka tidak banyak. Angin menerpa wajahku, memainkan anak rambut di sekitar wajah. Kimono dress yang tidak terikat kuat--menyibak, bahan yang tipis dan sedikit menerawang membuat aku bergidik karena dingin. Pemandangan laut malam membuat aku sedikit merasa takut, gelap.
"Kenapa tidak tidur?" sejenak aku berhenti berang karena begitu terkejut. Bahkan rasanya sangat sesak dan hampir tidak bisa menarik udara lagi.
Dia memutar tubuhku hingga kami saling berpandangan. "Kenapa begitu terkejut? apa sedang memikirkan laki-laki lain?"
Cup! dia mengecup keningku, kedua pipiku lalu menuju bibir. Aku mendorongnya perlahan.
"Kenapa? apa kamu takut?"
"Tidak, hanya saja ...."
"Aku merindukanmu, tidakkah kamu merasakan hal yang sama?"
"Evan, menjauhlah. Ini rumah Jun. Kita tidak pantas melakukan hal ini di sini."
"Apa kamu ingin melakukannya di tempat lain? ayolah, aku sudah sangat merindukanmu. Bibir ini ...." dia membelai bibirku dengan ibu jarinya. "Membuatku gila. Aku selalu tidak bisa menahan gejolak di dalam dada saat melihatmu."
Dia memiringkan kepalanya. Menatap tubuhku dari atas sampai bawah. Dan fokus saat menatap sekitar dada. Aku sadar, baju apa yang sedang aku pakai saat ini.
Entah kenapa aku merasa sangat takut kali ini. Dia yang baru saja aku bayangkan, ada di depan mata. Hanya saja ....
"Tubuhmu begitu indah di balik kain tipis itu."
"Pergilah, jika jun mengetahui ini maka–"
"Hahahaha. Jadi saat ini kamu sedang memikirkan dia?" tatapannya nyalang. "Tenang saja, dia sudah meminum obat tidur."
"Apa?"
"Sejak ibunya meninggal, dia selalu tidur dengan bantuan obat penenang. Hssss, jadi kita bisa santai bermain sampai esok datang."
"Tidak, Evan. Jangan seperti ini, aku merindukan dirimu, hanya saja–"
"Kalau begitu." dia menarik pinggangku. "Mari kita saling melepaskannya." dia berusaha mencium bibirku. Aku menutup mulutku dengan tangan. Dia tertawa sinis.
"Aku semakin tertantang jika kamu seperti ini, sayang."
"Menjauh, pergilah dari sini." aku berusaha melepaskan diri. Mendorong tubuhnya agar menjauh. Namun, semakin kuat aku berusaha menghindar, dia semakin bersemangat untuk bisa mendapatkan bibirku.
__ADS_1
"Tidak! hentikan ... aku mohon menjauhlah."
Aku berusaha meronta saat dengan ganasnya dia berusaha menjamah tubuhku. Tangannya menjelajah tubuhku bagian belakang, menarik kimono dress hingga sobek.
"Tolooong ... Kim Jun! Tolong aku."
"Kinan, hey!" aku merasa tubuhku terguncang hebat. Perlahan aku merasa semuanya gelap.
"Kinan! bangunlah."
Aku terkesiap. Membuka mata lebar-lebar dan mendapati Jun sedang menatap cemas.
"Ada apa? apa kamu mimpi buruk?" tanyanya. Benarkah ini hanya mimpi? syukurlah ....
Aku memeluk erat Jun--suamiku. Rasanya sungguh menakutkan jika itu benar-benar terjadi. Tunggu, kenapa aku bermimpi seperti itu? harusnya aku menikmati kebersamaan dengan Evan. Kenapa aku malah begitu takut padanya?
"Presdir, jangan menjauh dariku. Kumohon!"
"Tenanglah, ini hanya mimpi buruk. Aku selalu ada di sini menjagamu. Ada bodyguard di luar yang selalu berjaga. Jangan takut."
"Terima kasih, Presdir." aku semakin mengeratkan pelukanku. Hanya saat bersamanya aku bisa merasakan ketenangan.
"Ayo, kita tidur lagi," ajaknya seraya melepaskan pelukan kami. Aku menolak, aku tidak mau melepaskan pelukannya.
"Jangan takut, aku akan selalu menjagamu. Ini masih tengah malam, ayo kita tidur."
"Berjanjilah, Anda tidak akan pernah menjauhi saya? saya akan selalu menjadi bayangan Anda, Presdir."
"Kinan, kamu berlebihan. Ada kalanya kita harus berdua, tapi kita tidak bisa selalu bersama setiap waktu."
"Kenapa?" aku melepaskan pelukannya. "Apa karena kita hanya menikah kontrak yang suatu saat akan terpisah kapanpun Anda mau?"
"Kinan, bukan seperti itu, maksudku adalah ...."
"Tidak perlu bicara lagi. Maaf karena saya sudah melewati batas." aku turun dari ranjang, aku ingin keluar dari kamar ini.
"Tunggu." dia menghadang langkahku. Memegang kedua pundakku dan menatap tajam. Aku menyilang kedua tangan di dada. Menatap ke arah lain.
"Kinan, aku harus bekerja. Aku harus bertemu dengan beberapa klien dan ... dan tidak mungkin aku harus membawamu kemana-mana aku pergi. Kamu cukup duduk di rumah, melakukan apapun yang kamu inginkan sambil menunggu aku pulang kerja."
Aku menggerakkan bahuku, berusaha menepis lengannya. Jun menghela nafas.
"Cukup! Kinan, aku tidak ingin berdebat lagi denganmu. Lebih baik kita tidur, besok aku harus bekerja."
Aku mendengar dia mendesah kasar dan kenali tidur di sampingku. Aku berpikir dia akan meminta maaf sambil memeluk tubuhku. Ternyata, aku berharap terlalu lebih.
Sadarlah kinan, kamu itu bukan siapa-siapa baginya. Dia terlihat begitu mencintaimu hanya dugaanmu saja. Sadar! sadar!
Hiks.
Tidak terasa air mataku menetes begitu deras. Rasanya ada yang begitu menyiksa di sini--hatiku.
Aku tidak bisa berhenti menangis Samapi sang fajar datang. Jun terbangun, lalu meregangkan tubuhnya. Aku mendengar dia menguap. Dia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Aku masih asik dengan perasan sedihku. Entah berapa banyak air mata yang aku tumpahkan. Dengan mengigit ibu jariku, aku masih menangis sampai detik ini.
Jun keluar dengan hanya memakai handuk. Perutnya yang kotak-kotak begitu terlihat menggoda meski aku dalam keadaan bersedih hati.
Dia mengeringkan rambut. Berjalan ke arah lemari. Mengambil kemeja dan setelan jas untuk dia kenakan ke kantor pagi ini.
Dia mondar-mandir di kamar dan tidak melihatku sama sekali, melirik pun tidak.
Abaikan saja Kinan. Siapa Lo?
Aku menarik selimut hingga menutupi wajah. Dan air mata kembali tumpah ruah membasahi wajah.
Aku ini kenapa? sensitif banget hari ini. Menyebalkan!
Bip!
Apa? dia berangkat kerja tanpa pamit?
Aku membuka selimut kasar. Dan benar saja, dia sudah pergi. Sungguh menyebalkan, aku menangis semalaman dan dia tidak perduli?
"Dasar es balokan!"
Aku memutus untuk segera membersihkan diri. Rasanya sungguh tidak nyaman, lengket. Terutama di bagian leher dan wajah.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan, selain duduk termenung di dalam kamar. Hingga aku teringat akan seseorang di kantor. Dia yang sudah lama tidak aku temui.
Aku segera memanggil Bibi, memintanya untuk memanggilkan asisten pribadiku yang entah ada di mana saat ini.
Tidak butuh waktu lama. Aku meminta mereka mendadani diriku yang akan pergi keluar.
"Bi, tolong siapkan mobil. Saya mau keluar sebentar."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
"Apa sudah cukup, Kinan?"
"Apa bibirku tidak terlalu merah? rasanya aku baru saja memakan ayam mentah. Tolong samarkan sedikit saja."
"Ok, akan aku lakukan. O, ya. Jangan sampai kena masalah lagi di luar, kasian supir kalau harus babak belur lagi."
"Ikutlah denganku, biar supir ada temannya untuk teraniaya."
"No! thanks."
"Apa kamu menolak?" aku mendelik.
"Tentu saja tidak, Nyonya." dia seperti ketakutan. Padahal aku hanya menggertak.
"Kalau begitu, ikutlah."
"Baik."
"Ayo, kita turun."
Aku segera turun. Tidak lupa dengan apa yang harus aku bawa yang sudah di persiapkan Bibi sebelumnya.
Tidak butuh waktu lama. Aku sampai di kantor Jun. Kali ini, mereka menyapa hormat dengan membungkukan badan begitu aku memasuki gedung perkantoran milik suamiku. Miris.
Tok
Tok
tok
Aku mengetuk pintu. Dan terdengar jawaban mempersilahkan masuk dari dalam.
"Apa saya mengganggu?" tanyaku di balik pintu.
"Wah, tentu saja tidak. Silahkan masuk."
Aku segera masuk dengan wajah yang ceria. Pria gendut yang selama ini begitu baik padaku, aku merindukannya.
"Apa yang kami bawa? sudah lama saya merindukan masakanmu."
"Kalau rindu, kenapa Ayah tida pernah berkunjung?" tanyaku pada ayah mertuaku. "Aku bawakan nasi beserta perkedel ayam kesukaan ayah. Aku juga membawa capcay brokoli dan juga sup jamur."
"Hmm. Kelihatan enak. Ayah cicip, ya."
"Silahkan, Ayah."
"Rasanya tidak seperti masakanmu. Ada yang beda." dia curiga.
"Maafkan saya, Ayah. Ini bukan saya yang memasak. Hihi."
"Ooo, pantas saja. Tidak apa, aku akan menghabiskannya, bagaimana pun juga, kamu sudah repot-repot datang kemari. Ku hargai itu."
"Terima kasih, Ayah."
"Bagaimana hubunganmu dengan Jun? apa semua baik-baik saja?"
"Iya, semuanya baik-baik saja, dia begitu baik pada saya."
"Jangan berbohong. Matamu tidak bisa melakukan itu. Kinan, aku tidak tau apa yang Jun lakukan padamu, tapi percayalah dia hanya tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Tolong bersabarlah."
"Iya, Ayah. Ayah, saya harus pamit. Masih ada hal yang harus saya kerjakan."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Semoga harimu menyenangkan, Nak."
"Terima kasih, saya undur diri."
Aku keluar setelah berpamitan pada pria gendut yang tak lain adalah ayah dari suamiku--Jun.
Aku melihat beberapa karyawan terlihat sibuk, tidak seperti biasanya. Mereka seperti sedang mempersiapkan acara. Jiwa penasaranku meluap, aku mengikuti mereka yang hilir mudik menuju aula utama. Benar, mereka sepertinya sedang mempersiapkan sebuah acara. Apa karena ini Jun pergi terburu-buru.
Aku berdiri di depan pintu utama, melihat sekeliling aula yang sudah di sulap begitu indah. Apa akan ada pesta pernikahan? aku terkagum melihat dekorasinya yang dominan oleh warna kesukaanku, purple.
Senyum di wajahku seketika hilang saat melihat seseorang yang begitu aku kenal sedang merangkul seorang wanita. Mereka dan Mia sedang asik berbicara.
Mia menyadari kehadiranku. Dia tersenyum seraya menunduk memberiku salam. Membuat Jun dan wanita itu menoleh. Aku segera pergi dari sana.
Bagaimana bisa, luka yang semalam saja belum sembuh, kini ada luka baru dalam hatiku.
Aku melempar sandal yang ber hak tinggi, yang membuatku berjalan sangat lambat.
Sadar Kinan! stop it!
__ADS_1