
Sejak malam itu, aku dan Evan tidak banyak bicara. Ada jurang pemisah di antara kami yang entah kenapa terjadi.
Aku berpikir bahwa dia mungkin menyesal karena menciumku tanpa izin. Ataukah dia malu karena saat itu dia bahkan tidak bisa mengontrol dirinya hingga sesuatu di antara kami hampir terjadi.
Lalu kenapa aku pun diam? Aku sangat malu, aku yang seharusnya menolak, tapi aku menikmati setiap sentuhan Evan. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku merasakan semua itu. Dan ... ah! tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Apa yang Evan pikirkan tentang aku? bibir ini masih basah mengatakan bahwa aku memiliki harga diri, nyatanya? aku bahkan membiarkan dia menjamah sebagian tubuh ini. ****
Hari ini, aku berangkat di antar supir. Pelayan bilang Evan pergi selama dua pekan ke luar negeri untuk mengikuti sebuah seminar. Aku kecewa karena dia sama sekali tidak memberitahu, meski lewat pesan.
"Ini." Kepala pelayan memberikan aku sebuah kartu. "Itu ATM dan juga kartu kredit. Tuan bilang, itu untuk kebutuhan anda selama dua pekan ini."
"Dia masih perduli tapi kenapa tidak bilang padaku kalau dia mau pergi," gumamku. "Terima kasih, Bi."
"Sama-sama."
Aku keluar rumah. Di sana sudah ada supir yang siap mengantarkan kemana saja aku pergi. Tapi tidak ke kantor. Selalu sama saat aku berangkat dengan Evan. Apa yang akan orang pikiran bahwa seorang cleaning service seperti aku, mempunya supir dan mobil mewah seperti ini.
Apa mungkin mereka akan menyebut aku seorang gundik? tapi, apa bedanya? nyatanya aku hidup di bawah seseorang yang bukan muhrim.
"Kinan, mulai hari ini kamu akan melayani Presdir."
"Apa? siapa yang nyuruh, bos?"
"Ya, Presdir sendiri lah! masa orang tua kamu. Udah! sana naik. Beliau memerintahkan kamu untuk melayani dia saja."
"Tapi, Bos."
Dasar nenek sihir! belum juga selesai ngomong udah pergi aja.
Dengan langkah yang begitu berat. Aku menuju lift, menundukkan kepala sebagai tanda bahwa beban yang aku bawa begitu berat.
"Kenapa harus dia? apa bisa aku bekerja dengan benar? rasanya aku tidak punya tulang saat berada dekat dengannya. Ahhhh."
"Kalau begitu, cari pekerjaan yang lain saja."
__ADS_1
Jangan loncat! jeroan, tolong pegangan dengan erat.
"Presdir." aku menyapa dengan penuh ketakutan. Sementara dia hanya diam bergeming.
Ya ampun. Kenapa wajahnya seperti magnet? aku kesulitan untuk bergerak sekarang.
"Aku tidak suka di lihat terlalu lama."
Aku memelotot dan sadar bahwa aku harus segera mengalihkan pandangan.
"Segera kirim aku kopi, dengan sedikit gula dan krim."
"Iya, Presdir."
Pintu lift terbuka. Aku yang begitu gugup segera berjalan keluar. Namun, saat yang sama, Presdir juga berjalan keluar. Tubuh kami beradu di depan lift.
"Aww." kami sama-sama mengaduh.
"Ma-Maaf, maaf, Presdir."
Dia memegang bahunya yang terbentur dengan pintu lift. Berlalu begitu saja dengan wajah yang tampak marah.
Aku berusaha bersikap tenang. Membuat teh seusai yang dia pesan. Dengan perasaan yang masih sangat gugup, aku mengetuk pintu dan masuk membawakan minuman untuknya.
"Silahkan, Presdir. Ini tehnya."
Dia yang sedang mengetik di laptop menoleh. Tanyanya berhenti bergerak dan menatap lekat cangkir yang ada di meja.
"Teh? bukankah aku pesan kopi dengan sedikit gula dan krim."
Tuh kan salah lagi. Hadeuhhhhhh.
"Maaf, biar saya ganti dengan yang baru saja."
"Tidak perlu!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, saya akan dengan sangat cepat membuat kopi sesuai keinginan Anda."
"Tidak apa, ini saja cukup."
"Tidak, Presdir. Saya akan ganโ."
Presdir menggeliat dengan urat leher yang kentara jelas. Dia bangkit dari kursinya. Tanyanya mengibaskan tangan yang terkena percikan teh panas yang tumpah.
"Sa-saya minta maaf. Ma-maafkan saya." Aku mengambil beberapa helai tisu untuk mengelap air yang ada di jas nya.
Bukannya menyelesaikan masalah. Jas Presdir malah kotor karena tisu-tisu itu menempel.
Aku melihat raut mukanya begitu kesal atas kesalahan yang aku buat.
"Pergi." suaranya tertahan. Mungkin menahan amarah.
"Saya, minta maaf, Presdir."
"Pergi! apa kamu tuli? dengarkan saya baik-baik. Saya tidak tau apa yang kamu pikirkan, tapi saya benci kamu selalu menatap seperti orang bodoh! bisakah kamu bersikap seperti pegawai biasa?"
"Ba-baik, Presdir."
"Sekarang ... keluarlah! hari ini jangan tunjukan wajah kamu di hadapan saya lagi. Saya tidak ingin terkena sial lagi."
"Saya mengerti, Presdir. Saya permisi."
Aku tidak bisa membendung air mata. Ucapannya yang begitu tajam menusuk tepat pada hatiku yang paling dalam. Sesak.
Aku masuk ke dapur, mengunci pintu dan menangis sesenggukan. Kenapa rasanya begitu sakit? bukankah aku sudah biasa di bentak oleh Bos yang seperti nenek sihir itu?
Tuhan, tidak bisakah kau memberikan aku tetap bahagia?
Evan. Aku merindukanmu. Kenapa tidak ada kabar sama sekali? bahkan aku tidak bisa menghubungi mu. Kamu kemana?
Tangisku semakin pecah saat aku mengingat dirinya. Dia yang selalu memperlakukan aku dengan baik.
__ADS_1
Maaf, kamu pergi saat aku marah. Cepatlah kembali. Aku merindukanmu, Evan ....
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ