
Aku semakin tidak berselera makan setelah mendengar penjelasan dari Jun. Aku merasa bahwa nasibku kini, tidak lebih baik dari saat aku menjadi 'sampah', dulu.
"Besok, aku akan urus kontraknya. Kamu bisa merevisi isinya. Kita akan tanda tangani bersama setelah menemukan mufakat Tetang isinya. Aku ingin kamu merasa nyaman dan tidak di rugikan."
"Nyaman? aku tidak pernah merasakan kenyamanan selain saat bersama Evan. Lakukan apapun yang ingin anda lakukan, Presdir. Toh, aku hanya harus menerima bukan? tidak ada pilihan bagiku."
"Baguslah. Selamat malam."
Dia pergi. Aku memejamkan mata, meremas dada yang terasa sangat sesak, seperti di tindih gada raksasa.
Nasibku benar-benar sangat buruk. Meski aku begitu membenci Bapak, sebagai anak, aku tidak ingin dia mati karena diriku.
"Bagaimana bisa Presdir mengancam akan melenyapkan Bapak jika aku tidak mau menikah dengannya? kenapa? kenapa harus aku?"
Tidak tahan lagi rasanya membendung rasa sesak ini. Aku melepaskan semuanya dengan berteriak sekeras mungkin. Melempar piring makanan ke segala arah.
Prang!
Brakk!
Gedebugh!
Apapun. Apapun yang ada di dekatku, berubah menjadi UFO.
"Kenapa harus aku? tidak adakah wanita lain yang bisa kamu nikahi? aarghhhh!"
Aku terduduk lemas. Mengacak rambut dengan kasar. Menangis sejadinya.
"Nona." Bibi dan dua pelayan datang.
"Apa anda baik-baik saja? jangan seperti ini. Oh, ya tuhan. Cepat, segera ambilkan kotak obat!"
Aku merasa sedikit lega. Meski air mataku tidak bisa berhenti menetes, setidaknya aku tidak meraung keras seperti tadi.
"Anda terluka, Nona." Aku melihat Bibi mengelap tangan kananku, rupanya aku terkena serpihan piring yang aku lempar.
"Bibi,"
"Iya, Nona. Ada apa?" dia masih sibuk mengobati lukaku yang tidak seberapa ini.
"Apa mati itu menyakitkan? apa hidupku sekarang lebih menyakitkan daripada kematian? rasanya aku sangat lelah."
"Nona, jangan seperti ini. Kuatkan diri Anda. Selama anda mengikuti keinginan Tuan Kim Joon, makan Anda akan baik-baik saja. Hanya itu."
"Bagaimana dengan ini?" aku menunjukkan hatiku. Hatiku yang sangat sakit. "Dia sudah ada pemiliknya, aku tidak bisa seseorang menjadi suamiku jika ini sudah menjadi milik Evan." aku kembali menangis.
"Nona." Bibi memegang bahuku. "Dia sudah beristri. Tidak baik mencintai suami orang lain, jangan lakukan itu. Itu hanya akan menyakiti dirimu saja."
"Aku rela di madu, Bi."
"Istri Dokter Evan belum tentu mau, Nona." Bibi mengelus rambutku. "Nona, saya hanya bisa bilang, jalani saja apa yang ada di depan, raih apa yang bisa di raih. Memaksakan kehendak jika menyakiti orang, itu buruk."
"Aku mencintai dia, Bi. Meski dia berbohong tentang statusnya, aku masih tetap mencintai dia. Hu hu hu." Aku menangis tersedu.
Malam semakin larut. Hatiku, dan pikiranku begitu kacau. Aku tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Bulir-bulir bening dari mataku tak henti-hentinya meluncur deras.
Kemarin, aku tinggal di tempat kumuh. Tempat ku tidak senyaman ini memang. Setiap hari aku di kejar rasa takut akan di kejar para preman itu lagi. Badanku remuk setelah mereka menghajarku setiap kali mereka menangih hutang.
Kini, aku berada di istana. Hidup bagaikan putri dengan banyak pelayan di sekitarku. Fasilitas mewah dengan materi berlimpah. Namun, aku tidak bahagia. Aku tidak mendapat kebebasan dalam menentukan jalan hidup. Hanya ada sebuah paksaan dimana aku hanya harus bilang 'iya' pada apa yang tidak aku inginkan.
Dan, aku juga harus mematahkan hatiku sendiri. Dia yang aku cintai telah menjadi milik orang lain sejak lama. Besok, aku harus menandatangani kontrak pernikahan. Menikah dengan orang yang begituan menakutkan. Baik tidaknya dia, bahkan aku tida tau.
Mata melirik jam antik di dinding. Menunjukan pukul 05.45 WIB. Mataku belum sempat terpejam sedetikpun.
"Nona, saya masuk." Aku tidak menjawab karena Bibi pasti akan masuk meski aku diam.
"Nona," sapanya. Di mendekatiku. "Ya ampun. Kenapa mata Anda bengkak? apa semalaman ini Anda menangis?"
Aku masih diam. Jangankan bicara, bergerakpun tidak.
"Nona, sebentar lagi Tuan datang. Sebaiknya kita bersiap. Tuan tidak akan suka jika Nona seperti ini. Dia menyukai kebersihan dan keindahan."
"Permisi."
"Ya," jawab Bibi seraya menoleh kebelakang.
"Saya asisten Nona Kinan, saya di minta oleh Presdir untuk datang kemari."
"Oh, bagiku rupanya."
"Saya akan melayani Nona, dan ini orang yang akan mengurus pakaian dan juga tampilan Nona."
"Baiklah. Saya akan mengantar Non Kinan mandi dulu, lebih baik kalian tunggu di luar."
__ADS_1
"Saya membawa sabun khusus untuk Nona. Ayo berikan," titahnya pada dua orang wanita di belakangnya. Dia maju dan menyerahkan paper bag pada Bibi.
"Aku tidak mau kemanapun. Kalian, pergilah."
"Tapi Nona."
"Jika aku adalah Tuan putri yang kalian layani, apa kalian berani menentang? keluar sekarang juga."
"Baiklah, kami permisi. Ayo, kita semua keluar sekarang." Bibi meminta semua yang ada di kamar untuk keluar. Termasuk tiga orang wanita yang baru datang. Apa? asisten pribadi? bahkan Jun memberiku orang yang khusus mengurus pakaian dan penampilanku. Berlebihan sekali. Sungguh, aku tidak kuat.
Samar-samar aku mendengar suara sedikit riuh di luar, ruangan ini kedap suara. Hanya saja pintu tidak tertutup rapat. Bibi sengaja membuka pintu, mungkin agar dia bisa mengawasiku. Apa itu juga perintah Jun?
Pintu terbuka lebar. Jun masuk. Laki-laki yang selalu terlihat sempurna itu berjalan dengan angkuhnya.
Dia hanya diam saat melihatku yang masih ada di tempat tidur. Apa yang Bibi katakan benar, dia tidak akan menyukaiku dengan penampilan yang seperti ini saat dia datang.
Tanyanya memberi isyarat agar para bodyguard yang selalu ikut dengannya pergi keluar. Pintu tertutup rapat yang akan secara otomatis terkunci. Aku masih tetap diam. Bahkan saat dia akan mencekik leher ku sampai matipun, aku tidak perduli.
Dia membuka jas dan dasinya. Dia duduk dengan muka kesalnya.
"Apa Anda ingin mencekik saya lagi, Presdir? silahkan, bahkan jika sampai aku benar-benar tidak bisa hidup kembali."
"Pikirkan saja apa yang akan Bapak kamu terima."
Lagi-lagi dia mengancam dengan membawa Bapak.
"Kenapa tidak wanita lain saja? wanita yang jauh lebih baik untuk mendampingimu? aku–"
"Aku hanya tau mana yang layak atau tidak." Dia berdiri, mengambil jas. "Semua tergantung padamu, aku tidak akan memaksa lagi." Dia pergi begitu saja.
Saat dia menghilang di balik pintu, ada rasa sesal yang begitu dalam. Dia selalu berhasil membuat hatiku bingung.
Pinter banget bikin orang gak enak ati.
Berpikir sejenak dan memutuskan untuk mengikuti jalan yang ada di depan. Menikah atau tidak, hidupku pada akhirnya tetap harus tersudut pada pilihan yang bukan kehendak hatiku.
"Apa ada orang di luar?" aku berteriak. Astaga! ini kamar meski ada bom Hiroshima di sini, di luar tidak akan ada yang mendengar jika pintu di tutup rapat.
"Kalian." aku menunjuk asistenku. "Masuklah, dandani aku sekarang juga," ucapku di pintu. Mereka memberiku sabun dan shampo untuk mandi.
Hmm. Rasanya sungguh rileks, kepalaku sedikit ringan.
Saat aku keluar dari kamar mandi. Mereka mulai menyiapkan segalanya. Memijit tubuhku sebentar. Mengeringkan rambut dengan beberapa vitamin dan entahlah apa itu, banyak sekali sesuatu yang mereka berikan pada rambutku.
Rambut dan tubuh selesai, mereka mulai meraba wajahku. Bagian ini adalah yang paling lama mereka sentuh. Aku tidak tau apa yang mereka bubuhkan, apa yang mereka lakukan, aku hanya diminta untuk tetap menutup mata sampai mereka selesai bekerja. Kenapa gak sekalian pas tidur aja kalau begini?
"Sudah selesai, Nona. Silahkan buka mata anda."
Perlahan aku mulai membuka mata. Sebenarnya agak berat sih karena aku hampir tertidur. Hahaha
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat di cermin. Benarkah itu aku? apa yang mereka lakukan pada wajahku.
"Nona, kenapa? apa Anda tidak suka dengan riasannya?"
"Bukan, bukan, aku hanya–." apa ini benar-benar aku? kenapa aku merasa begitu cantik?
"Aaahh. Terima kasih ...." aku berdiri dan memeluk mereka. "Kalian, seperti peri. Melalu banyak keajaiban. Makasihhhh." aku kembali memeluk mereka. Mereka tersipu dan terlihat sungkan.
"Jangan sungkan kalau kita hanya ber empat seperti ini. Oke?" aku mengedipkan sebelah mata pada mereka. Dan di balas dengan senyuman ramah. "Aku pake sepatu apa sandal ini?"
"Ah, sampai lupa. Pakai ini, Nona."
"Gak salah? itu tinggi banget, nanti aku kecengklak."
"Ini nyaman kok, coba saja dulu di pakai."
"Baiklah." aku memakainya. Saat sedang asik berputar di depan cermin besar sekalian mencoba sandalnya, Bibi masuk.
"Nona," ucapnya dengan nafas ngos-ngosan. "Tuan, pergi."
"Apa?" aku mengangkat gaunku yang cukup panjang menjuntai. Berlari mencoba untuk menyusulnya. Saat menuruni tangga, aku melihat dia baru saja keluar dari pintu depan.
"Presdir." Aku mencoba memanggilnya. Sepertinya dia tidak mendengar dan terus saja berjalan. Aku masih terus berlari dengan sandal dan gaun yang aku kenakan.
"Jun, tunggu." Mereka sudah masuk mobil saat aku masih ada di dalam rumah.encoba berlari secepat yang aku bisa untuk mengejar Jun.
Mobil mereka sudah melaju, tapi aku tidak putus asa. Aku mengejar mereka meski sudah mulai keluar gerbang.
"Security, hentikan mobil Presdir." Menyebalkan sungguh, security hanya bertindak bingung, dia mungkin segan menghentikan mobil bos nya yang gila.
Terpaksa aku masih harus berlari. Bahkan tatanan rambutku sudah berantakan lagi. semoga makeup ini tidak berantakan. Apa jadinya saat Jun melihat wajahku seperti badut?
__ADS_1
Aku terus berlari, hingga otakku tiba-tiba saja encer. Aku mengambil batu yang ada di jalan. Melemparkannya sekeras mungkin. Dan ....
Bugh! yes! berhasil.
Mobil berhenti. Lama tidak ada reaksi selain diam. Pintu belakang terbuka, dan aku melihat Jun keluar dari sana.
Ahh. Lega rasanya.
Aku berjalan mendekat. "Auch!" aku merasa kakiku begitu sakit. Benar saja, sepertinya aku terkilir. Kenapa tidak berasa, ya? kapan aku terkilir?
"Awww!" aku begitu terkejut saat tiba-riba Jun mengangkat tubuhku. Dia menggendongku seperti pengantin. Aku malu, apa yang dia lakukan? kenapa tidak memapahku saja?
Aku menatapnya tanda berkedip. Dia yang hanya memandang lurus ke depan. Sikapnya yang kadang menakutkan, tapi di lain waktu, aku merasa aman di dekatnya.
Meski segan dan ragu. Aku mencoba melingkarkan tangan di lehernya. Itu membuat dia menoleh ke arahku. Menatapku dengan waktu yang lama tanpa menghentikan langkahnya.
"Presdir, ayo kita menikah." Dia hanya diam. Menetap ke depan tanpa memperdulikan ucapanku.
"Presdir, aku mau menikah denganmu. Ayo kita menikah."
Dia masih diam.
"Presdir ... apa anda mendengar?" tanyaku berbisik. "Ayo kita menikah." aku berbisik lagi.
Dia tetap diam.
"Presdir! kenapa diam saja, ayo kita menikah. Apa anda tidak mau menikahiku sekarang?" aku merengek dengan mengguncang-guncang tubuhnya. Die berhenti berjalan. Dan menurunkan tubuhku.
"Kamu pikir kita itu kambing. Begitu mau nikah saat itu juga menikah ap–"
"Kambing itu kawin, Presdir. KA-WIN."
"Apa kita juga harus KA-WIN sekarang?"
"Kita? Anda saja karena saya bukan kambing."
Dia memicingkan mata, dengan rahang yang mengeras. Lalu pergi.
"Presdir! tunggu." aku berusaha mengejar dengan kaki pincang. "Auch!" aku tersangkut gaun dan terjatuh. Dia kembali saat aku mengurut kaki yang terasa sakit.
"Merepotkan saja!" keluhnya. Aku yang kesal mengerucutkan bibir.
Cup!
Aku terbelalak dengan mulut sedikit terbuka saat dia mencium bibirku.
Cup!
Dia kembali menciumku, kali ini dengan sedikit *******. Lidahnya sempat masuk ke dalam mulutku.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Sungguh, apa yang dia lakukan membuat aku hampir kehilangan jeroanku saat ini. Jantung, kita berjuang bersama, ok!
"Lain kali, jangan begitu. Bibirmu menantang siapa saja yang melihatnya. Beruntung karena aku calon suamimu. Jadi aku punya hak."
"Apa? hey, Presdir! Bukan aku yang menantang untuk berciuman, tapi otak anda sepertinya yang kotor."
"Kamu yang akan membersihkannya, nanti."
"Apa?"
Dia membelakangiku. "Naiklah. Jangan sampai kita menikah dengan kakimu yang pincang." Dia memintaku naik ke punggungnya. Aku menurut. Takut dia akan melakukan hal yang membuatku mati dadakan.
"Apa kamu ingin aku mati?" tanyanya saat dengan sengaja aku sedikit mengencangkan pelukanku di lehernya.
"Ya, aku sangat ingin," candaku. Segera aku melonggarkan tanganku.
Mataku tak hentinya memandang kepalanya. Apa sebenarnya yang ada di dalamnya? kenapa harus ada manusia seperti ini? rasanya seperti gado-gado, semua rasa ada di dalamnya.
Aku mengeratkan tanganku di dadanya. Aku ingin mencoba memeluk tubuhnya. Jika situasinya seperti ini, tidak akan ketahuan bukan?
"Apa kamu sedang menikmati tubuhku saat ini? sungguh tidak sabaran. Setelah menikah, kamu bebas memeluk setiap inci tubuhku."
"Presdir, apa anda juga seorang peramal."
"Ya, tentu."
"Apa yang bisa anda ramal tentang hidupku di masa depan? apa akan selalu seperti ini? hidup di bawah tekanan orang lain?"
"Hidupmu akan di penuhi kebahagiaan. Kamu hanya harus melihat dunia dengan hati yang murni."
Aku tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Meski otaku berusaha mencari tau, tetap buntu.
Aku hanya akan menikmati apa yang sekarang sedang terjadi. Merelakan apapun yang ada di hati, meski itu sakit. Paling tidak aku memang terlihat beruntung di mata orang lain bukan?
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺