Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Ukuran


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 13


Oleh Sept


"Ehem! Pak Rio, apa boleh saya di luar selagi menunggu?" kata Tari kemudian.


"Kenapa? Kau pikir aku akan macam-macam?" tuduh Rio dengan muka datar tapi tatapan dalam.


Tari menggeleng cepat, meskipun itu maksudnya, hanya saja dia tidak bisa jujur. Tidak mau menyinggung perasaan pria tersebut.


"Bukan begitu, Pak. Hanya saja ..." kata-kata Tari langsung dipotong oleh bosnya itu.


"Istirahatlah! Bersikaplah profesional!" cetus Rio yang tidak mau tahu.


Tari terlihat menahan napas, harusnya dia senang kan satu ruangan dengan sosok pria dengan kualifikasi super premium. Pria idola para kaum hawa, tapi entah mengapa kali ini Tari merasa kurang srek. Mungkin karena dia sudah punya suami.


Walau suaminya tidak perhatian lagi, dia tetap punya suami. Meskipun Dewa saja tidak tahu kalau Tari sedang kerja. Jadwal kepulangan Dewa masih bulan depan. Dan Tari bebas sampai saat itu.


Satu jam kemudian.


Tari merasa lelah, karena sejak tadi hanya duduk sambil sesekali melihat HP. Sedangkan Rio, pria itu sedang fokus pada laptop. Perempuan itu mungkin tidak sadar, kalau sedang diperhatikan diam-diam oleh Rio.


Hoam ... Rasa kantuk mulai menyerang. Tari menguap, lalu melihat jam tangannya. Jam tangan paling bagus yang ia punya. Walaupun harganya tidak mahal.


Sejak menikah, Tari memang jarang beli-beli barang mewah atau branded. Kalau ada sisa uang belanja, sering ia tabung. Lumayan, kalau ada kebutuhan mendesak tidak usah minta suami. Misal kalau sang ibu minta transferan.


Harusnya dia bekerja sejak dulu, mungkin dia akan seperti teman-temannya. Menjadi wanita karier dan penampilan menarik. Tiba-tiba tari menatap tubuhnya sendiri.


Kemudian ia membungkuk, menatap sepatunya yang kekecilan. Bukan sepatu yang kekecilan, mungkin kaki Tari yang sedikit mengembang. Sejak menikah semuanya serba berlebih. Terutama lemak, di perut, pinggang dan pipi.

__ADS_1


"Apa aku harus diet?" pikir Tari kemudian mendongak dan melihat Rio yang kebetulan kepergok menatapnya.


"Beli kopi!" titah Rio untuk mengalihkan perhatian. Biar tidak ketahuan kalau sedang memperhatikan Tari diam-diam.


"Baik," kata Tari lalu beranjak.


"Tunggu! Pakai ini!" seru Rio lalu mengeluarkan sebuah kartu.


Tari pun menggeleng.


"Pakai saja!"


Tari menelan ludah, kemudian mengambil kartu milik Rio.


Hanya 15 menitan, Tari akhirnya kembali dengan segelas kopi panas dan satu cup es kopi dengan topping cream serta coklat.


"Letakkan di sana!" titah Rio. Pria itu kemudian melipat laptop.


Rio sempat melirik apa yang Tari beli.


"Kurangi yang manis-manis!" celetuk Rio.


Ia berkata seperti itu mungkin karena peduli dengan kesehatan Tari. Dan wanita itu pun hanya mengangguk. Hanya bos tapi sudah ngatur-ngatur apa yang dia makan.


Sambil menikmati minum kopi, Rio tetap menyempatkan diri untuk melirik.


Setelah kopinya habis, ia pun memakai jasnya kembali.


"Ikut denganku!" titah Rio sudah seperti pimpinan yang otoriter.

__ADS_1


"Mau ke mana, Pak? Meeting masih lama."


Tari menunggu jawaban, tapi cuma dapat lirikan tajam.


Tap tap tap


Tari lantas berjalan di belakang Rio yang melangkah tegak lurus dengan postur tegap dan berwibawa.


Mereka naik mobil bersama dengan sopir, sampai mobil berjalan, Tari masih bingung. Ini bukan menuju gedung tempat meeting, lagian jadwalnya juga malam.


"Pak Rio ... Maaf, sebenarnya kita akan ke mana?" tanya Tari yang sangat penasaran.


"Nanti kau tahu sendiri."


Kalau bukan bosnya, pasti sudah tari omeli sejak tadi. Akhirnya Tari pun ikut alur, mengikuti ke mana saja bos-nya pergi.


"Oh ... ke toko baju," gumam Tari saat mobil masuk ke sebuah boutique ternama di Kote tersebut.


"Turunlah!" titah Rio.


Tanpa diperintah dua kali, Tari lantas segera turun lalu berjalan. Kali ini di sebelah Rio, karena langkah pria itu yang terkesan lambat.


"Selamat datang," sapa pelayan sambil membuka pintu.


"Satu set gaun malam!" ucap Rio kemudian langsung berbalik dan duduk begitu saja.


"Ukuran nya, Tuan?"


Rio langsung menatap Tari.

__ADS_1


__ADS_2