
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 31
Oleh Sept
Pertengkaran di telepon berbuntut panjang, Dewa yang marah akibat sikap Tari yang mengusir ibunya dan telah ketahuan selingkuh. Yang salah siapa, tapi dia yang berteriak paling keras.
Malam itu Tari benar-benar suntuk, tidak mertua, tidak ipar, tidak juga suaminya. Semuanya menyerang dengan kata-kata tak pantas. Keluarga yang dulu pernah menerima Tari dengan hangat, kini semuanya balik menyerang. Menyalahkan Tari, di mata semua orang Tari tidak ada benarnya.
***
Di tempat lain, Rio berdiri di balkon kamarnya. Seperti biasa, menatap langit malam yang gelap. Seorang diri, sembari menunggu hari esok. Umpan sudah disebar, jaring sudah dipasang. Tinggal menunggu waktu, Rio akan mendapatkan apa yang dia mau. Tari bisa bebas dan bisa dia dapatkan segera.
Apa itu cinta? Entahlah. Mungkin sebatas obsesi karena menyukai Tari sejak dulu. Atau karena rasa nyaman di masa lalu, membuat Rio begitu mendamba istri orang.
Udara malam semakin dingin di luar, Rio pun masuk ke dalam rumah. Tidak bisa tidur, dia jiga tidak menelpon Tari. Ia justru menunggu wanita itu menghubunginya terlebih dulu.
Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah tengah malam. Rio menatap ponselnya yang angker karena tidak ada notifikasi sama sekali.
BUKKK ...
Akhirnya dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang luas tersebut. Ranjang yang sepi dan dingin, sebentar lagi akan ada penghuni baru.
Sudut bibirnya terangkat, sorot matanya pun berubah, ada sesuatu dalam diri Rio yang aneh dan ia mulai membayangkan Tari ada di dekatnya. Ya, rasa sukanya pada Tari mungkin lebih mirip seperti sebuah obsesi.
***
Pagi hari di rumah Dewa.
"Kamu istirahat saja, kayaknya kurang sehat," kata sang ibu.
Tari memang kelihatan kurang fit. Apalagi matanya sembab, wajahnya kusut, pasti kurang istirahat.
"Gak apa-apa, Bu. Gak enak kemarin sudah gak kerja. Ibu di sini sana, titip Ibel. Tapi kalau ibu mau pulang juga gak apa-apa. Tolong jagain anak Tari ya, Bu. Jangan kasih ke mereka."
__ADS_1
Ibunya kelihatan berpikir.
"Ya sudah, Ibu pulang saja. Lagian Ibu juga gak sudi ke sini, kalau bukan karena Ibel, semalam ibu sudah pulang."
Ibunya mungkin marah karena sikap besannya semalam.
"Sudahlah, Bu. Semalam semuanya pada emosi. Kita ngalah dulu."
"Jangan ngalah saja kamu ini. Mau mereka menginjak-injak harga diri kita terus?"
Tari langsung diam, ia pun memilih siap-siap ke kantor.
"Tari berangkat ya, Bu."
"Ya. Hati-hati."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Di mana-mana banyak masalah, kadang Tari ingin istirahat, amnesia sebentar untuk melupakan segala beban masalah dan beban pikiran yang ada di kepalanya.
Tiba di kantor, Tari langsung ke ruangannya. Berharap Rio tidak memanggil. Dan harapan Tari pun terkabul, Rio tidak memanggil sampai siang. Namun, laki-laki itu yang menghampiri meja kerjanya.
"Tolong salin ini!" titah Rio basa-basi. Padahal dia ingin melihat muka Tari. Melihat suasana terkini.
"Baik, Pak."
"Antar ke ruangan ku kalau sudah."
"Baik," kata Tari sambil menundukkan kepalanya. Jelas ini jebakan Batman.
Di ruangan Rio ada scanner, bisa saja dicopy pakai itu. Ini pakai nyuruh Tari segala, ditambah suruh ke ruangan. Jelas modus lelaki tersebut.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Tari ragu berdiri di depan pintu ruang Presdir. Antara masuk apa tidak, tapi akhirnya dia mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Masuk!" seru Rio yang duduk membelakanginya meja kerjanya.
Tap tap tap
Tari berjalan sangat hati-hati, seperti takut diterkam serigala lapar.
"Saya letakkan di sini," kata Tari kemudian.
"Saya permisi, Pak."
"Tunggu!" Rio langsung memutar kursinya dan beranjak dari tempat duduk.
"Aku mau bicara sebentar," kata Rio lagi.
"Ya."
"Maaf yang kemarin," ucap Rio tiba-tiba. Rio minta maaf karena ajakan Rio yang terkesan tidak sopan kemarin.
Tari mengangguk, kemudian bingung mau apa lagi. Sampai akhirnya, Rio maju dan berdiri di sampingnya.
Perlahan tangan Rio menyentuh rambut Tari yang sudah di rebonding. Lembut, halus dan wangi. Membuat Rio ingin terus membelainya dan memiliki.
Tari sedikit bergeser, karena ia rasa Rio suka melakukan sentuhan fisik. Meskipun caranya sangat lembut, Tari tapi takut. Ia takut tidak bisa kontrol dan malah melakukan hal-hal di luar norma.
Rio merasakan hal itu, di mana Tari seperti mengindar darinya. Dan dari sorotan mata Rio, terlihat sekali dia tidak suka penolakan tersebut.
Mungkin karena reflek atau spontan, Rio mencondongkan tubuhnya, ia membungkuk dan langsung merampas bibir Tari.
"RI ..."
__ADS_1
Tari mendesis, ia mencengkram kedua lengan bosnya itu. Tapi Rio justru menyesapnya sangat dalam.