Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Barisan Sakit Hati


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 39


Oleh Sept


"Jangan Rio," gumam Tari sambil menahan tubuh laki-laki itu.


Rio mendesis, lagi-lagi dia kembali ditolak. Rasanya ingin segera ia mempercepat waktu, agar Tari langsung mendapatkan putusan pengadilan.


Kalau begini terus, dia hanya bisa sakit kepala.


Rio kembali harus berjuang sendiri di bawah guyuran shower. Membuang benih-benih kehidupan miliknya. Daripada terus sakit kepala, dia memutuskan arisan di kamar mandi.


Setelah selesai, dilihatnya Tari duduk di sofa sambil menatapnya.


"Apa kamu kecewa?" tanya Tari tiba-tiba.


Rio yang kala itu mengosok kepalanya pakai handuk karena habis keramas, hanya menggeleng. Namun, Tari tahu bahwa pria itu sedang kecewa. Terlihat dari wajahnya yang muram.


***


Sidang pertama dan kedua sudah digelar, bukti-bukti perselingkuhan pun sudah disertakan. Rio tidak sabar menunggu ketok palu, tapi ia tetap harus sabar menunggu.


Tari agak sedikit lega, sampai akhirnya dia mendapat telpon dari ibunya.


"Tari ... mertuamu mengamuk di rumah Ibu. Dia marah-marah, katanya kamu memutar balikkan fakta. Dia tidak terima fakta di persidangan kemarin, dia yakin kamu yang selingkuh. Bagaimana ini, Tari ... sebisa mungkin kamu hati-hati. Jangan keluar dari sana."


Tari menghela napas berat.


"Ibu tenang saja, Tari aman di sini."


"Baguslah. Hati-hati, mereka sepertinya sangat sakit hati sekali."


"Ibu juga hati-hati, kalau ada apa-apa, hubungi Tari."


"Ya sudah. Kalau begitu. Ibu tutup telponnya."

__ADS_1


"Ya, Bu."


Tari merebahkan tubuhnya di sofa, kemudian menatap ponsel barunya hadiah dari Rio. Ia lalu membuka medsos yang dia punya. Melihat video-video lama Ibel.


"Sayang ... tunggu Mama."


Tari kemudian memeluk ponselnya dan memejamkan mata dalam-dalam.


***


Hari persidangan.


"Kamu yakin kamu mau hadir?" tanya Rio.


"Ya, Rio."


Rio galau, dia berat melepaskan Tari. Ditambah lagi mereka memang tidak boleh kelihatan berdua. Entah kenapa, pagi ini feeling Rio sangat buruk.


"Tetaplah bersama tim pengacara nanti waktu di pengadilan," seru Rio sambil memeluk Tari dari belakang.


"Aku tidak peduli," bisik Rio dan semakin erat memeluk Tari.


"Ish ... nanti kamu telat. Katanya ada meeting."


"Baiklah. Semiga lancar untuk persidangan hari ini."


"Hemm ... makasih, Rio."


Laki-laki itu mengangguk, kemudian mencondongkan tubuhnya dan mengecup pipi Tari yang cubby.


"Aku berangkat dulu."


"Bye."


Rio keluar apartemen terlebih dahulu, dia tidak tahu kalau sedang lengah. Saat Rio keluar apartemen, seorang laki-laki menyelinap masuk lift dan langsung berhenti di depan pintu unit apartemen Tari.

__ADS_1


Tok tok tok


Baru lima menit, masa Rio sudah kembali. Tari pikir ada yang ketinggalan. Ia pun berjalan ke arah pintu, lalu langsung membuka tanpa mengintip.


KLEK


Seorang laki-laki dengan masker tiba-tiba mendesak masuk, lalu mengunci pintunya. Tari panik, dia langsung berbalik dan lari ke mana saja. Tiba-tiba saja dia sudah terjebak di balkon.


Di depannya terlihat gedung-gedung tinggi, dan di belakangnya ada sosok laki-laki yang kemudian membuka masker.


Tari menggeleng, kemudian memohon agar laki-laki itu tidak mendekatinya.


"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!"


Laki-laki itu langsung mencengkeram pergelangan tangan Tari dengan tatapan marah.


"Lepaskan! Aku bilang lepaskan!"


Tari diseret dengan paksa, kemudian tubuhnya di dorong ke atas ranjang.


"Kau mau cerai? Kau berselingkuh dengan atasanku? Baik ... setelah ku hancurkan kamu, kita lihat ... apa laki-laki itu mau menerimamu!" ancam laki-laki itu sambil mengikat tangan Tari.


Dengan kasar dia merobek pakaian yang melekat pada tubuh Tari, lalu mengeluarkan ponsel dalam saku jaketnya.


Tari menggeleng keras, kemudian mencoba melepaskan ikatan di tangannya. Tapi semua sia-sia, ikatan terlalu kuat. Tari ingin teriak, tapi mulutnya sudah disumpal sapu tangan.


Merasa dicurangi dan ditusukk dari belakang, Dewa yang akhirnya tahu siapa laki-laki di balik Tari selama ini, langsung membalaskan dendam. Apalagi ketika dia dipecat tanpa alasan. Karirnya hancur, begitu juga rumah tangganya. Kini, Tari pun harus hancur juga.


Drettt drett ...


Ponsel Tari berdering. Dan Dewa langsung mematikannya.


***


Di dalam mobil, Rio kelihatan gelisah.

__ADS_1


__ADS_2