
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 35
Oleh Sept
Rio ini sosok laki-laki manipulatif, dia terlihat terkejut tapi dalam hati bersorak memekik kemenangan. Ini yang memang dia inginkan. Agar Dewa tidak lagi menyentuh Tari.
Obsesinya tentang Tari mulai membesar, dan dia tidak mau Dewa menyentuh wanitanya. Meskipun secara hukum, Dewa itu masih suami Tari yang sah.
"Bagaimana jika di persidangan nanti dia menuduh kita selingkuh?" tanya Tari sembari menatap pria di sebelahnya yang kini mencengkram setir mobil.
Rio pura-pura memijit pelipisnya, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu dan ikut pusing.
"Pengacaraku yang akan menangani semuanya. Kamu tahu beres," kata Rio kemudian.
Ia menghela napas panjang, kemudian menjalankan lagi mobilnya.
Wush ...
"Aku mau hak asuh atas Ibel."
"Aku tahu."
"Kalau dia angkat perselingkuhan ini, aku tidak akan mendapatkan apa-apa."
Tari panik, gelisah karena Ibel adalah anak satu-satunya.
"Kamu jangan takut, Ibel pasti jatuh ke tangan kita," ucap Rio penuh keyakinan dan terus menambah kecepatan.
"Rio ... Kamu pasti bohong!" Tari sampai tidak percaya. Ia rasa Rio hanya ingin dia tenang.
"Percaya padaku," kata Rio sambil sebelah tangannya menggenggam tangan Tari.
Tari agak tenang, genggaman tangan yang hangat itu cukup meredakan kepanikan yang ia rasakan saat ini.
***
Apartemen Boulevard. Tari dibawa ke sebuah apartemen mewah. Bukan tempat tinggal Rio, karena sangat berbahaya.
__ADS_1
"Sementara waktu, tinggal di sini."
"Apartemen siapa ini?"
"Itu tidak penting. Kamu aman di sini, suamimu juga pasti tidak akan tahu."
"Lalu bagaimana dengan Ibel?"
"Pengacaraku yang akan mengurus. Kamu hanya tinggal diam saja di sini."
Tari menggeleng tidak percaya.
"Kamu bohong! Rio."
Rio sampai menghela napas dalam-dalam. Lalu mendekati Tari, membuat Tari langsung mundur.
"Beri aku waktu beberapa hari, oke?"
Barulah Tari mengangguk, menunggu Rio membuktikan ucapannya itu.
***
"Ibu bilang juga apa! Tari itu sudah berselingkuh!" cetus sang ibu.
Dewa yang kini bermuka masam, hanya memegangi kepalanya yang pusing. Kok bisa Tari selingkuh? Ini gila. Ia pikir istrinya polos, lugu dan culu. Eh ternyata sama-sama suhu seperti dirinya.
Jika dia yang berselingkuh, sepertinya tidak masalah. Kalau Tari, Dewa kok jadi sakit hati sendiri.
Mana atasan di Singapura terus mendesak dia kembali. Jika tidak datang besok pagi-pagi, Dewa akan dipecat. Laki-laki itu hanya bisa mengumpat kesal.
Esok harinya.
"Jangan biarkan menginjak rumah ini. Mas percayakan Ibel sama kamu."
Dewa sudah bersiap pergi, dan menitipkan Ibel pada adiknya.
"Jangan khawatir, Ibel aman sama aku, Mas." Kebetulan, lagian dia juga tidak suka dengan kakak iparnya itu.
__ADS_1
Siang harinya, setelah mengunci semua pintu rumahnya, dan menitipkan Ibel, Dewa pun terbang ke Singapura. Begitu sampai apartemen, dia sudah disambut oleh kucing betina yang mengemasnya.
Saat wanita itu akan mengelayut manja seperti biasanya, Dewa tiba-tiba menepisnya.
"Tolong jangan dekati aku sekarang!"
Wanita itu hanya manyun, kemudian ke belakang dan mencari makanan.
Malam harinya, wanita itu merayu Dewa. Dan tumben sekali langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia sudah pakai baju paling tipis dan paling menerawang yang dia punya. Sudah pakai jurus paling ampuh, tatapan menggoda serta lidah yang dikeluarkan, melet-melet seperti gukguk.
Dewa sedang suntuk. Duduk di depan laptop, banyak laporan yang harus dia kerjakan. Untuk bersenang-senang, rasanya pending dulu. Lagian mood nya sedang ambruk. Gara-gara teringat tanda merah di tubuh Tari. Saking kesalnya, dia melempar bulpen dengan keras.
Di tempat lain, apartemen mewah.
Tari sedang berdiri di balkon, dan di sebelahnya ada Rio yang belum mau pulang. Padahal sudah jam 9 malam.
Keduanya menatap langit gelap, sambil membicarakan rencana perceraian Tari. Tadi siang, Tari sudah ketemu pengacara yang Rio utus. Keduanya berharap semuanya segera berjalan dengan baik.
"Terima kasih sudah membantuku," gumam Tari.
"Hemm."
"Terima kasih juga ... aku yakin paket itu yang mengirim pasti kamu."
Rio langsung diam.
"Apa kau marah?" tanya Rio.
Tari menggeleng. "Tidak, aku memang merasa suamiku mulai mendua. Tidak apa, cepat atau lambat, aku pasti tahu."
"Baguslah."
"Oh ya, kamu tidak pulang?"
"Pulang? Pulang ke mana? Ini apartemku."
Tari langsung menoleh, kilatan serigala kembali tergambar jelas di mata laki-laki itu.
__ADS_1