
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 29
Oleh Sept
Pulang dari bertukar pikiran dengan Mia, Tari malah bingung. Mia mendukung dia bercerai. Sedangkan Tari masih galau, bagaimana nanti dengan Ibel?
Sampai akhirnya dia tidur di rumah, sedangkan Ibel masih di rumah ibunya. Jujur saja, mengetahui bukti perselingkuhan Dewa, cukup membuat Tari lelah. Baik badan dan pikiranya sama-sama lelah.
Bangun-bangun hari sudah sore, dan Tari pun menelpon ibunya.
"Bu ... Tari agak gak enak badan. Ibu bisa kan naik taksi bawa Ibel ke sini?"
"Loh? Kamu sakit?"
Rupanya Tari ngedrop karena banyak pikiran. Gara-gara punya suami seperti Dewa.
Malam itupun sang ibu menginap, dan kebetulan mertua Tari main ke sana. Alasannya mau melihat cucu, padahal sedang jadi CCTV untuk putranya.
Kabar Tari minta cerai sampai juga di telinga sang mertua. Dew yang memang anak mama, ia cerita pada ibunya itu. Dan malah meminta ibunya menyelidik, Tari sedang dekat dengan siapa.
Alhasil, malam itu mertua dan ipar datang bertamu. Cukup kaget karena ada ibunya Tari. Jadi agak sungkan kalau ribut-ribut.
Ibel yang biasanya lengket sama nenek dan tantenya, malam itu hanya mau digendong Tari atau nenek dari pihak perempuan.
"Ini kenapa Ibel jadi gak mau sama Ibu?" omel sang mertua.
"Agak rewel, Bu. Pilek." Tari masih sopan, meskipun keduanya masih perang dingin.
__ADS_1
"Jangan dibawa ke rumah ibumu terus, kami juga keluarganya," celetuk ipar Tari.
Ibu Tari pun menatap sinis, sepertinya dia tahu sikap mereka selama ini pada putrinya.
"Kalau mau dekat sama cucu, ya sering-sering berkunjung," celetuk ibunya Tari.
Sang besan langsung sinis, karena srlama ini Ibel lebih dekat dengan keluarga pihak laki-laki. Hanya baru-baru ini saja Ibel lengket sama ibunya Tari.
Mertua dan ipar Tari pun kelihatan tidak senang. Dan mereka melirik-lirik rumah. Mencaci jejak laki-laki lain di rumah itu.
"Besok biar Ibel menginap di tempat kami," kata mertua Tari kemudian.
Tari panik, jangan-jangan ini suruhan suaminya.
"Tidak usah repot-repot, biar Ibel sama saya saja."
Dan dua wanita paruh baya itu malah ribut di rumah Tari dan Dewa. Tari yang tadinya kepalanya pusing, semakin pusing lagi.
"Bu ... sudah, Bu." Tari berbisik pada ibunya, agar mau mengalah. Percuma melawan mereka, karena mereka ini suka adu mulut dan tidak mau kalah. Maunya selalu menang sendiri, mirip seperti Dewa.
Ibunya Tari tidak mau mengalah, masih ngotot.
"Sudah malam, Bu. Ayolah ... jangan ribut-ribut. Gak enak didengar tetangga."
Sedangkan sang mertua, bibirnya terlihat sinis. Lirikan matanya pun menatap remeh. Mungkin karena selama ini keluarga Dewa lebih berada, jadi agak bagaimana gitu. Merasa lebih yes, lebih oke, karena lebih banyak materi yang mereka miliki.
"Ibel ... sama Tante, Yuk. Beli ice cream," bujuk ipar Tari. Tapi Ibel mengusap matanya, sepertinya ngantuk mau tidur.
__ADS_1
"Jam berapa ini, jangan biasakan tidur sore-sore," omel sang mertua.
Lagi-lagi Tari selalu salah di mata mereka, tidak ada benarnya sama sekali. Begini salah, begitu pun salah.
Ibel merengek, rumahnya berisik sekali. Ia jadi setres dan pusing sampai merajuk dan minta gendong. Mana Tari juga badannya kurang fit.
"Tari masuk dulu, kasian Ibel rewel," kata Tari lalu masuk ke dalam kamar.
Baru juga menutup pintu, sudah terdengar suara emak-emak saling mengomel.
"Astaga ... apa mereka gak capek?"
Dari dalam kamar, Tari bisa mendengar samar-samar. Mereka meributkan siapa yang salah antara Dewa dan Tari.
Sampai akhirnya Tari kesal, sambil menggendong Ibel, Tari membuka lemari, mengeluarkan amplop coklat yang ia dapat tadi pagi.
KLEK
Semuanya menatap ke arah Tari.
BUKK
Tari meletakkan benda di tangannya tepat di atas meja.
"Tari gak mau ribut-ribut, Tari juga tidak mencari pembenaran. Hanya saja ... Ibu perlu tahu bagaimana selama ini Mas Dewa di belakang Tari."
Ipar Tari langsung meraih benda tersebut, buru-buru membukanya dan mulutnya langsung terbuka.
__ADS_1