Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Menggebu


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 21


Oleh Sept


Mimpi apa Tari semalam, hingga kini jantungnya dibuat berdebar tak terkira. Tari menahan napas dalam-dalam tatkala bibir Rio berhasil menempel pada ujung bibirnya.


Mulut wanita itu masih terkunci rapat, Tari tidak berani membalas. Akan tetapi tangan Rio mulai beralih. Menyentuh pinggang Tari dan mulai naik ke atas.


Dalam hati Tari sudah penuh gejolak, ingin menepis segala rasa yang membuat tubuhnya menghangat. Tari terlena, tapi mencoba tetap waras, meskipun sulit menolaknya.


Sementara itu, Rio terus mencoba. Berusaha menggaet Tari sampai bisa.


Napas mereka beradu, jantung keduanya juga terpacu, sebuah awal perselingkuhan yang cukup menegangkan.


Tari menundukkan wajahnya dalam, tidak berani melanjutkannya.


Rio tidak mau kehilangan kesempatan ini, dia langsung menangkup wajah Tari dengan kedua tangan.


Tari pun terbelalak, saat bagian lembut dan dingin itu memaksa masuk ke dalam mulutnya.


Jantung Tari mau meledak rasanya, sungguh ini lebih gilaa daripada apa yang dia kira.


Apalagi saat bibir Tari akhirnya terbuka sedikit, dan Rio pun akhirnya bisa berkelana di dalam sana.


Fantasi Rio yang selama ini hanya ada di kepala, saat ini benar-benar ia buktikan. Rio mendadak jadi pria yang tidak tahu diri, berani merampas bibir istri orang.


Sementara itu, Tari dibuat gugup, tidak bisa berpikir jernih. Wajahnya memanas, pipinya terasa hangat. Mungkin karena lama jarang disentuh mesra oleh sang suami, sampai Tari ikut terbawa arus oleh buaiannnn Rio yang memabukkann.


Rio sendiri masih terus menjelajah. Merasakan apa yang selama ini hanya ada di kepalanya saja. Memberikan gigitan kecil, sampai Tari mencengkram bahu laki-laki tersebut.

__ADS_1


Rio tersadar, kemudian menarik diri dan memberikan ruang bagi Tari untuk mengambil napas.


Tari tidak berani menatap mata Rio, pandangannya terus saja ke bawah, dan justru itu yang membuatnya tambah panik.


Tari mengumpat kesal, kenapa matanya sampai melihat itu? Sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat!


Kaki Tari langsung lemas, pikirannya traveling, semuanya kacau tidak bisa berpikir jernih lagi. Sampai akhirnya, lengan Rio merengkuh pinggangnya. Memeluk Tari dalam-dalam.


Rio mengusap lembut punggung Tari, membuat Tari dilema. Antara nyaman dan tahu kalau ini salah.


"Rio ..."


Rio kemudian melepaskan pelukannya, pria itu kemudian menatap mata Tari dalam-dalam.


"Ya."


"Aku mau pulang," ucap Tari kemudian. Terlihat canggung, kikuk dan aneh sendiri.


"Tidak, naik taksi saja."


"Rumah dekat dari sini, sopirku selalu standby. 15 menit lagi pasti dia sudah tiba," tawar Rio. Padahal ia belum mau pisah dengan Tari. Sedangkan Tari, dia sudah malu, tidak enak, semuanya campur jadi satu.


"Gak usah," Tari menggeleng.


"Kenapa? Jangan katakan kamu takut dekat-dekat denganku?"


Rio mendekat, Tari refleks mundur. Pria itu kemudian tersenyum lepas, lalu duduk di sofa.


"Duduklah!"

__ADS_1


Rio kemudian mengulurkan botol minuman agar Tari minum dulu, kegiatan tadi mungkin cukup menegangkan dan membuat haus.


Karena terus-terusan disuruh, Tari kemudian duduk dan minum dengan sikap canggung. Bibirnya juga masih terasa kebas, Rio benar-benar menyesapnya seperti penyedot debu. Belum lagi ujung lidahnya sakit karena digigit vampir Rio.


Mungkin Tari sudah agak oleng, bukannya marah tapi jantungnya malah masih berdebar. Sudah salting terus saat Rio terus saja menatapnya.


Mana menunggu 15 menit, sudah seperti menunggu berjam-jam.


Mereka berdua duduk seperti orang bisu, sibuk dengan pikiran masing-masing. Rio merasa puas akhirnya mendapatkan bibir Tari, sedangkan Tari di ambang dilema. Antara Dewa yang durjana atau Rio yang membuat jantungnya mau meledak.


"Tari ..."


"Ya," Tari langsung mendongak menatap Rio.


"Besok bekerjalah seperti biasa, jangan sampai kau re-sign gara-gara kejadian barunya," ancam Rio.


Tari menelan ludah, kemudian menundukkan pandangan.


"Kau dengar aku kan?"


"Ya, Pak."


Tidak lama kemudian, sopir mengetuk pintu ruang VVIP tersebut.


"Itu sepertinya sudah datang," kata Rio sebelum membuka pintunya.


Tari pun beranjak, tapi saat akan mau, tangannya langsung diraih Rio.


Tari harus menahan napas saat itu juga karena takut ketahuan. Rio benar-benar bar-bar, laki-laki itu kembali menempelkan bibirnya.

__ADS_1


Ampun Rio!


__ADS_2