
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 30
Oleh Sept
"Jaman sudah canggih, ini pasti editan! Kenapa kamu fitnah anak saya?" omel Mertua Tari yang tidak terima anaknya dijelekkan.
"Ini alamat apartemennya di Singapura, dan Ibu lihat baik-baik, ini asli."
"Halah! Bohong! Bilang saja kamu sudah punya laki-laki lain, jangan pikir Ibu tidak tahu!" tuduh sang mertua.
Tari menelan ludah, masalah memang tuduhan itu benar adanya.
"Kon nyalahin anak saya. Anak selingkuh malah dibela. Didikan yang tidak benar!"
Orang tua Tari maju di garda terdepan. Meskipun kalah lewat materi, tapi harga diri harga mati.
"Kalian sama saja!" ujar ibunya Dewa. Mungkin kalah dengan bukti, jadi bicaranya mulai ngaco kemana-mana.
"Tolong bawa Ibu pulang, gak enak didengar tetangga," usir Tari dengan halus sambil menatap iparnya.
"Apa? Berani kamu mengusir saya? Ini Rumah anak saya! Ini rumah Dewa, kamu tidak tahu malu ya. Sudah berani sekali pada orang tua, lihat saja nanti, Dewa pasti akan memberikan balasan yang pantas. Berani sekali mengusir saya!"
Situasi mulai memanas. Emak-emak mulai ribut dan keluar kata-kata yang tidak enak didengar telinga.
__ADS_1
"Kalian pikir Tari suka tinggal di sini?" oceh ibu kandung Tari yang tidak suka dihina dina. "Ambil semuanya, anak saya tidak butuh. Ayo Tari ... pulang ke rumah ibu. Kita masih punya harga diri!"
Loh loh, Tari tambah panik. Kok malah dia yang harus keluar?
"Bu ... sabar, Bu. Ini sudah malam." Tari mencegah agar ibunya tidak gegabah. Bagaimana pun juga, rumah itu juga harta bersama. Tari dan Ibel berhak tinggal di sana. Apalagi ini yang selingkuh duluan kan Dewa, jadi Tari gak mau rugi banyak-banyak.
"Ayo ... ngapain kamu di sini?" sentak ibunya.
"Bu, ini juga rumah Tari," kata Tari.
"Hei! Ini rumah anak saya. Dewa menikah dengan kamu itu gak punya apa-apa."
Mertuanya semakin berkicau, Tari yang mencoba sabar langsung bersikap tegas.
"Tari! Yang sopan kamu sama orang tua!" sela sang ipar yang ikut-ikutan.
"Kamu juga, urusi saja urusanmu!" balas Tari.
Mertua dan ipar cukup kaget, kok Tari jadi berani dalam berbicara.
"Kita tunggu Dewa pulang!" ucap sang mertua kemudian lalu pergi dengan marah-marah dari sana.
Setelah semuanya pergi, Tari merebahkan tubuhnya di sofa, kepalanya sakit, pusing. Sedangkan Ibel, ia digendong neneknya.
__ADS_1
"Rumah tangga macam apa yang kamu jalani selama ini?"
"Bu ... Tari capek. Tari mau istirahat sebentar."
Ibunya langsung diam, sepertinya paham kalau Tari sedang banyak pikiran.
Tidak lama berselang, Dewa langsung video call. Pasti dapat aduan dari ibu dan adiknya.
"Apa yang kamu lakukan pada ibu? Berani sekali kamu mengusir mereka? Apa kamu sudah tidak waras?" cercah Dewa sambil wajahnya di dekatkan kamera.
Tari yang jengkel, ia kemudian mengarahkan layar ke atas meja. Di mana foto-foto mesra dan tak pantas milik Dewa tergambar jelas dan nyata.
"Kau menguntit aku selama ini?" tuduh Dewa.
"Aku mau cerai. Aku mau Ibel dan rumah ini."
"MIMPI!"
Tari memejamkan mata, mengepalkan tangannya. Menahan segala rasa yang berkecamuk dalam jiwa.
"Sebelum aku kena penyakit K, aku mau segera berpisah."
"Gilaa kau Tari!" sentak Dewa dan kelihatan sangat gusar.
__ADS_1