Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
The Wedding


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 45


Oleh Sept


Byuur ...


Seember air disiram tepat di atas pria yang terikat.


"Katakan sekarang, di mana kamu simpan memori cardnya?"


Pria yang tangannya terikat dengan wajah lebam itu sama sekali tidak peduli. Ia malah tersenyum getir.


"Baiklah. Kau boleh tutup mulut sampai mati," ujar pria berbadan tegap dan berpakaian serba hitam. Kemudian berbalik pergi setelah tidak mendapatkan apapun.


Sudah beberapa hari dia menyekap laki-laki itu atas perintah bos-nya. Dan sampai sekarang, mereka belum menemukan salinan atau data asli yang dimiliki laki-laki yang mereka sekap. Pria itu tidak gentar, meskipun disekap dan diikat. Ternyata nyalinya cukup besar juga, sama sekali tidak takut disiksa.


***


Suatu malam, ketika penjaga cukup lengan. Pria itu mencoba melepaskan talinya, agak sulit tapi akhirnya terlepas juga saat dia mencoba mengambil serpihan kaca yang berserakan tidak jauh dari sana.


Setelah bebas, matanya menyeringai. Kemudian naik meja yang disusun dengan kursi. Dia kabur lewat angin-angin yang sudah usang. Dan dengan senyap tanpa suara, ia menghilang antara semak-semak.


Waktu dini hari, saat penjaga memeriksa, semuanya langsung panik. Bos mereka bisa murka karena tawanan mereka kabur. Dengan cepat mereka pun memencar, malam itu semuanya mencari, dan harus dapat.


Sayang, sampai matahari terbit dari timur, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Tawanan mereka kabur tanpa jejak.


"Sial. Bos bisa marah besar," ucap pimpinan pria berbadan paling besar.


"Kerahkan yang lain, dia pasti tidak jauh dari sini."

__ADS_1


Semuanya mengangguk, tidak boleh menyerah, orang itu harus ditangkap. Kondisi fisiknya terakhir kelihatan lemah, pasti laki-laki itu tidak bisa kabur jauh dari sana. Ternyata apa yang mereka pikir itu benar, sebab sang tawanan telah bersembunyi di balik semak di bawah pohon yang rindang dan tersembunyi.


Butuh energi, apalagi tidak ada tenaga lagi. Pria itu sampai pingsan, entah pingsan atau justru ketiduran karena saking lelahnya.


***


"Apa? BODOHHHH KALIAN!"


Rio mencak-mencak, pria itu terlihat jahat dan culas. Dan sangat murka saat tawanannya kabur. Entah mengapa, dia seolah takut jika pria itu muncul dan sebagai ancaman baru.


"Aku tidak mau tahu! Cari dia sampai dapat!"


"Baik."


Tap tap tap


"Telpon siapa? Kenapa tegang sekali?"


Rio menggeleng, "Bukan apa-apa. Bagaimana? Apa sudah siap?"


"Sudah," jawab Tari yang sudah rapi dengan dres simple warna maroon serta tas warna senada.


"Oke. Kita berangkat sekarang."


Tari mengangguk, keduanya lalu keluar rumah dan menuju garasi.


"Bagaimana perasaanmu, Tari?"


"Perasaanku? Emm ... ya begitulah."

__ADS_1


Rio melempar senyum. "Ini akan jadi pertama dan yang terakhir kali bagiku," ucap Rio sambil meraih tangan Tari lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.


Mereka akan fitting baju pengantin, dan kini sedang menuju boutique. Rio seperti manusia dua wajah. Di depan Sari, dia terlihat ramah, manly, penyayang dan perfect.


Sikapnya sangat manis, sampai akhirnya Tari luluh dan mereka akan menikah. Janji Rio yang tidak pernah dilanggar selama berbulan-bulan mereka bersama, membuat Tari lama-lama percaya dan mulai menaruh keyakinan lagi pada sosok laki-laki.


Apalagi Rio selalu mengajak berhubungan terus, tapi juga selalu menghargai Tari kalau dia tidak mau. Oleh sebab itu, setelah resmi bercerai, ia pun mau menikah dengan Rio.


Pria itu yang menemaninya saat dia terpuruk, dan membantu segala masalahnya selama ini. Dan dia butuh Rio juga, untuk merebut Ibel.


Tidak sekedar rasa nyaman, rupanya Tari juga memiliki niatan tersendiri. Kalau dia menikah dan ekonominya terjamin, mungkin Ibel akan benar-benar jatuh padanya.


Sedangkan Rio, entah dengan alasan apapun itu, asal Tari mau hidup bersamanya, semuanya akan baik-baik saja.


***


La-Rora Boutique


Tari mulai keluar dari ruang ganti, tubuhnya tidak begitu Gemoy seperti dulu. Karena operasi potong usus, potong lambung, sedot lemak, dan banyak operasi canggih lainnya. Jelas Rio yang modalin, karena pria itu memang sultan.


Tari kini kelihatan menawan, bahkan kelihatan seperti gadis. Dari sana langsung terbukti, kalau cantik itu cuma butuh modal. Setelah punya sumber investor macam Rio, perawatan mahal apapun bisa Tari jalanin.


Sambil berkaca, Tari mengulas senyum. Dia kelihatan berbeda. Bukan Tari yang dulu, yang sering diledek ipar dan disindir mertua. Apalagi mantan suaminya, yang sering nyir-nyir. Andai Dewa tahu, bagaimana dia sekarang? Mungkin laki-laki itu menyesal. Tiba-tiba, Tari mulai kena penyakit star sindrom.


"Kamu cantik," bisik pria di belakang, sembari tangannya merayap seperti ubi jalar.


"Aku jadi tidak sabar," Rio mulai jahil. Laki-laki itu tiba-tiba saja mereeemmas bampernya Tari.


"RIO!" pekik Tari kaget. Namun, laki-laki itu justru langsung menempelkan bibirnya dan mulai beraksi seperti penyedot debu.

__ADS_1


__ADS_2