Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Tidak Sinkron Antara Tubuh Dan Pikiran


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 48


Oleh Sept


"Astaga ... kenapa pakai dikunci?"


Tari yang habis ganti baju, ia pun menatap aneh pada Rio yang kelihatan sangat khawatir.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir," kata Rio kemudian mendekati Tari lalu memeluknya erat.


Sedangkan Tari, biarpun dipeluk oleh pria se perfect Rio, entah mengapa hatinya tetap saja kosong dan hampa.


"Jangan membuatku khawatir," bisik Rio kemudian mengusap lembut wajah Tari.


Wanita itu kini sudah resmi menjadi miliknya.


Lupa tidak mengunci pintu, karena tadi kondisi menegangkan, Rio pun melepaskan Tari sebentar, lalu mengunci pintunya dari dalam.


Tari seolah mengerti, bahwa hari ini akan terjadi. Di mana laki-laki yang selalu mengajak berhubungan itu, kini akan mendapatkan haknya.


"Aku mandi dulu," kata Rio yang merasa gerah. Dia harus mandi dulu biar tambah seger dan fres.


***

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, Rio sudah keluar dari kamar mandi. Dia berjalan dengan percaya diri, padahal cuma pakai handuk yang melilit di pinggang.


Rio kemudian melihat Tari yang sedang duduk di meja rias. Tari sedang make up tipis-tipis. Ingat kata sang ibu, kalau sudah menikah, wajib dandan. Jangan sampai suami bosan dan jajan di luar.


Mendadak, pikiran Tari berkecamuk. Dia bagai raga tanpa nyawa. Meskipun tangannya mengoles lipstik, tapi matanya terlihat kosong. Dia baru tersadar dari lamunannya ketika lengan dingin Rio yang habis mandi memeluk tubuhnya dari belakang.


"Aku sudah siap," bisik Rio.


Sepertinya Rio sudah tidak sabar, sudah sekian lama dia menunggu momentum ini.


Tari melepaskan lengan Rio, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Tanpa disuruh, tiba-tiba Tari melepaskan pakaiannya. Rio jelas bingung, ini terlalu mudah.


"Sayang ... Kamu oke kan?"


Tari mendongak, mata mereka saling memandang.


Rio tertegun, ini kali pertama Tari memanggilnya dengan sebutan MAS. Pria itu pun menelan ludah, lalu merengkuh pinggang istrinya tersebut.


"Ya ... dari saat pertama melihatmu tumbuh menjadi remaja yang cantik ... aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama," bisik Rio.


PRETTT


Tari tidak percaya, sebab itu adalah kalimat yang sama yang diucapkan Dewa suaminya dulu. Semua laki-laki ternyata sama saja. Raja gombal!


"Ada apa dengan wajahmu ... kau tidak percaya?"

__ADS_1


Tari menggeleng, dia bersikap jujur. Dan Rio jadi gemas. Pria itu langsung mengigit kecil pipi Tari.


Tari yang tadinya sendu, sedikit bisa senyum. Walau senyumannya tidak sepenuh hati. Gara-gara memikirkan nasib Ibel.


"Kenapa lagi ... jangan sedih begitu ... ini hari bahagiaku. Akhirnya kita bisa bersama ..."


Tari mencoba tersenyum, tapi matanya malah perih. Ibel yang memanggil namanya, seolah ada di depan pelupuk mata.


"Jangan menangis di depanku," gumam Rio, kemudi mengusap mata Tari.


"Kamu harus bahagia, di depanku ..."


Tari menundukkan wajahnya, bagaimana bisa bahagia? Ketika belahan hatinya sudah tidak bersama?


"Mulai sekarang, kamu milikku ..."


Perlahan Rio merebahkan tubuh istrinya itu, lalu mulai menyentuh kulit halus Tari yang bersih dan lembut. Rio juga mendekatkan wajahnya, seperti menikmati aroma yang menguar dari dalam tubuh itu.


Menciptakan sensasi rasa yang membuat jantungnya berdegup. Akhirnya, tanpa penolakan, dia akan menyelami lautan asmara bersama Tari yang baru saja ia nikahi.


CUP


Sebuah kecupan di perut, yang mampu membuat tubuh Tari langsung menggeliat. Untuk sejenak, sentuhan Rio mulai membuat Tari melayang. Lama tidak dicas, mungkin sebenarnya nalurinya pun ingin. Bagaimana pun juga Tari ini masih normal, masih tertarik sama lawan jenis.


Walaupun hati sedang gundah gulana, kalau tubuhnya terus saja dimanjakan dengan banyak sentuhan yang meresakan, jelas ia pun terpengaruh.

__ADS_1


"Mas ..." Tari memegangi tangan suaminya.


"Tidak apa-apa ..." Wajah Rio langsung hilang di bawah sana. Entah ia sedang apa ...


__ADS_2