Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Masa Lalu Belum Selesai


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 42


Oleh Sept


Rio ini sedang stress berat, video Tari sudah mulai tersebar. Meskipun dia sudah berhasil meringkus pengunggah pertamanya, dan itu bukan Dewa. Laki-laki itu menghilang tanpa jejak. Rio juga sudah membayar tenaga IT terbaik, agar bisa meretas video-video Tari yang terlanjur tersebar. Meskipun mulai bisa dibereskan, Rio tetap merasa marah. Karena ulah Dewa yang mempermalukan wanitanya itu.


Mungkin sebagian sudah melihat video memalukan itu, dan itu pasti meninggalkan jejak digital yang mengerikan. Rio adalah seorang pengusaha, pasti rivalnya akan mencari cela untuk menjegalnya.


Tari bagaikan titik kelemahannya, tapi kalau bukan Tari, dia juga tidak mau. Cinta pertama terlanjur dalam, meskipun ada wanita lebih dari Tari, sepertinya itu tidak akan sama.


Walau Tari sebelumnya telah menikah dengan Dewa, dan itulah yang membuatnya sangat membenci suami Tari tersebut. Ditambah sikap Dewa yang seperti itu, Rio pun semakin ingin menghancurkan Dewa. Sayang, kini tidak hanya Dewa yang telah hancur. Bahkan Tari pun harus menerima konsekuensinya.


Marah pada keadaan, setelah tamu-tamunya pergi, Rio pun lari ke minuman. Dia minum beberapa gelas, untuk melepaskan penat di kepalanya. Bukannya masalah selesai, Rio malah menciptakan masalah baru.


"Rio ... jangan Rio!"


Tari sudah memohon, dia memeluk tubuhnya sendiri karena ketakutan melihat seringai jahat Rio saat itu.


"Kau ... kau mencintaiku kan? ... Dan aku juga sama ... iyaa kan ... Apa yang salah? Nanti ... nanti atau sekarang pasti sama saja," kata Rio setengah tidak sadar. Ia kemudian memegang kedua bahu Tari.


Sedangkan Tari, dia menghindar dan terus saja meronta, sampai kakinya reflek menendang.


Laki-laki yang tadinya membuatnya nyaman, seketika membuat Tari takut. Baru saja mengalami kejadian tidak enak, sekarang Rio malah menambah rasa traumatiknya.


Ditendang berkali-kali, Rio tidak merasa kesakitan. Mungkin juga karena maboook, jadi tubuhnya kebal. Rio malah semakin mendesak Tari, tidak mendengarkan teriakan Tari kala itu.


Di bawah sana, Art terbangun, dan juga penjaga rumah. Mereka menatap lantai atas, kemudian saling menatap.


"Bibi tidur saja lagi, tidak usah ikut campur," kata security.


"Emm ... tapi itu ... kayaknya minta tolong ... nanti kalau kenapa-kenapa ... emm. Bagaimana?"


"Saya bilang Bibi masuk kamar saja, itu urusan Tuan."


Bibi pun balik ke kamar, tapi kepikiran. Karena suara-suara itu cukup keras hingga terdengar sampai lantai bawah.


***

__ADS_1


Di dalam kamar.


Rio terlihat sudah di atas tubuh Tari, dia merampas bibir Tari dengan paksa, tidak peduli penolakan dan pukulan Tari yang ditujukan ke tubuhnya.


"Rio ... lepaskan!"


BUGH


Saking kuatnya menendang, Rio sampai jatuh dari ranjang.


"Rio," pekik Tari.


Rio meringkuk seperti udang. Tari menendang tepat di bagian paling rawan. Aset Rio yang paling berharga.


"Rio ... kau baik-baik saja?"


Karena Rio masih meringis dan tidak bangun, Tari pun turun, padahal kancing bajunya juga sudah lepas semua. Ini gara-gara si Rio yang tadi seperti serigala kelaparan.


Sambil membetulkan pakaiannya, Tari pun jongkok di depan Rio.


"Rio ... Rio ..."


***


Pagi harinya.


Tari tidur sambil duduk, sedangkan Rio, laki-laki itu terbaring di ranjang.


Tok tok tok


"Tuan, ada tamu."


Tari yang masih tidur langsung membuka matanya, dilihatnya Rio juga masih pulas.


"Tuan ..." panggil orang di luar pintu.


KLEK

__ADS_1


"Siapa, Bik?"


"Tamu, Nyonya. Mencari Tuan Rio."


Tari pun mengangguk, "Sebentar. Minta tunggu sebentar."


"Baik, Nyonya."


Setelah menutup pintu kembali, Tari langsung membangunkan Rio.


"Rio ... bangun. Ada tamu."


"Hemm."


"Rio."


Pria itu kemudian membuka matanya, kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang, ditambah itunya terasa nyeri.


"Tari ... apa yang terjadi semalam?" tanya Rio sambil memegangi kepalanya yang pusing.


"Awas kamu minum lagi! Aku mungkin akan benar-benar menghilang darimu," gumam Tari.


Rio langsung melotot, menatap tajam wanitanya.


"Ada tamu, temui dulu. Mungkin ada urusan penting," kata Tari.


"Ambilkan aku minum dulu," seru Rio.


Mereka belum menikah, tapi sudah seperti suami istri saja. Ckckck ...


***


Beberapa saat kemudian.


Rio sudah ada di bawah, dan dia begitu kaget melihat tamu yang datang.


"Untuk apa kamu ke sini?" Muka Rio terlihat masam, ia juga menoleh ke tangga. Takut Tari turun ke bawah.

__ADS_1


"Jangan begitu! Meskipun kita sudah berakhir, dia tetap anakmu!"


Seorang anak perempuan keluar dari balik tubuh ibunya. Gadis kecil yang manis, dan matanya menatap takut melihat sosok Rio.


__ADS_2