Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
TAMAT


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 50


Oleh Sept


Kisah seperti Tari saat awal menjalani biduk rumah tangga, sering sekali terjadi di masyarakat. Banyak yang salah kaprah, dengan memandang rendah seorang IRT. Padahal, IRT itu adalah pekerjaan yang cukup berat. Kelihatan tidak WOW seperti wanita karier, tapi sebenarnya pekerjaan paling mulia ya Ibu Rumah Tangga.


Bukan omong kosong belaka, seorang IRT mampu menjadi sekolah atau guru untuk anak-anaknya, dia akan jadi madrasah pertama. Dan seorang IRT juga bisa jadi koki, jadi cleaning service, jadi dokter yang akan selalu memberikan pertolongan pertama untuk anggota keluarganya. Dia bangun paling awal, dan istirahat tidur paling terakhir.


Jika ada yang meremehkan seorang IRT, betapa hebatnya anda. Hebat karena sudah menganggap anda lebih hebat dari yang lainnya. Sungguh, awal kehancuran yang haqiqi adalah kesombongan dalam diri. Astaga ... malah ngelantur. Hehehehe.


Untuk semua IRT, dan untuk semua ibu-ibu hebat di luar sana. Kalian HEBAT!


Untuk ibu pekerja, kalian sama-sama hebat, semangat untuk kita semua! Semoga kisah Tari bisa diambil baiknya, dibuang buruknya ya. Selamat menikmati kisah akhir Tari dalam mengarungi hidup rumah tangga yang penuh gejolak. Dipertemukan suami durjana, suka marah-marah. Ipar julid, mertua ikut campur ... Sebuah ujian rumah tangga yang seringkali kita temui dalam kehidupan nyata.


Namun, perlu kita ketahui. Hidup selamanya tidak akan pahit. Akan ada manis, meskipun cuma sedikit.


Happy Reading ... 🥕🥕🥕


***


Di dalam kamar, Rio dan Tari sedang melakukan ritual wajib bagi seorang pengantin baru. Rio sepertinya tidak mau menunda-nunda lagi, padahal suasana hati Tari sudah carut marut. Gejolak jiwanya tidak terbendung, sekarang dia menuntut haknya pada Tari.


Rasa penasaran itu pun mulai terobati, Rio yang sudah menahan cukup lama, akhirnya akan mendapatkan apa yang dia butuhkan. Mungkin sebuah kepuasan tersendiri, mendapatkan Tari setelah sekian lama. Tari mungkin tidak gadis lagi, pun sama dengannya. Dia juga bukan laki-laki suci yang selalu hidup lurus. Dia punya masa lalu juga yang tidak mulus.


BUKKK


....


Tari seketika menoleh, dilihatnya Rio berbaring tepat di sebelahnya.


"Naiklah ..."


Tari ini sedang galau, malah disuruh naik segala. Rio benar-benar tidak mengerti moodnya.


"Ayo ..."


Dengan hati yang tidak baik-baik saja, Tari akhirnya naik. Dan cukup kaget saat Rio mencengkram pinggangnya.


"Gerakkan, Tari ..."


Rio sudah mirip berbicara dengan robot. Tari benar-benar kaku sekali. Ya, dapat ia pahami. Tari ini sedang dilema saat ini. Namun, dia juga butuh pelepasan. Daripada masuk lobang lain, mending dia minta Tari untuk memuaskannya. Tari bermain tanpa perasaan, terlihat dari ekpresinya yang datar. Padahal sang suami wajahnya sudah menegang karena akan segera menyemprotkan mayonaise.


"Sayang ... "


Tari berhenti bergerak, dan cukup kaget saat Rio menyentak dengan keras. Sesaat kemudian, pria itu mengatur napas yang sebelumnya memburu dan menetralkan detak jantungnya yang hampir meledak.


Akhirnya, setelah selama ini hanya di keluarkan di kamar mandi, kini bisa menyembur di tempat yang lebih hangat dan menggigit.


Rio yang sudah puas, kini miring dan memeluk Tari. Padahal badan gerah, tapi masih peluk-peluk juga. Dan Tari merespon sangat selow. Ia membalas pelukan Rio kemudian memejamkan mata. Rasanya ia lelah, ingin istirahat sebentar.


Tidak lama kemudian, terdengar dengkuran halus bersumber dari Tari. Rio menjauh, lalu menatap istrinya dalam-dalam. Bibirnya mengulas senyum, kemudian ikut memejamkan mata. Akhirnya, rasa penasarannya sudah terobati.


***


Bangun-bangun kamar sudah sepi, Tari kemudian melihat sekeliling. Rio tidak ada di dalam kamar, ia pun memakai pakaian dan ke kamar mandi.


Selesai berhias, Tari turun ke bawah. Tidak sengaja ia mendengar samar-samar suara orang berbicara. Tari pun berjalan pelan, ia menguping karena sepertinya ini rahasia.


Di balik lemari di sebelah gorden gelap, Tari terus menajamkan pendengaran untuk menguping Rio yang sedang telpon.


"Transfer saja! Berapa pun yang ia mau."


...


"Jangan! Tidak usah libatkan polisi. Biarkan dia. Semua salinan juga sudah tidak ada."


...


"Lakukan dengan rapi. Biarkan dia meninggalkan negara ini."


...

__ADS_1


"Tidak masalah, aku hanya butuh anak itu."


...


"Kawal sampai pelabuhan, jangan berikan uangnya selama anak itu tidak diberikan!"


...


"Kau mengerti? Fokus pada anak itu."


...


"Aku tunggu kabar selanjutnya!"


Rio langsung tidak terdengar lagi bicara di telepon. Dan Tari pun pelan-pelan berbalik agar tidak ketahuan.


Sementara itu, Rio tersenyum tipis. Jangan dikira dia tidak tahu ada Tari. Bayangan Tari saja terlihat dari pantulan lemari besar di depannya. Dasar Tari.


***


Rio pura-pura ke kamar mencari istrinya, dilihatnya Tari sedang duduk di depan meja rias.


"Ayo kita makan," ajak Rio.


"Aku belum lapar."


"Oh ... oke. Kalau begitu aku akan keluar. Kamu tetap di rumah ini. Ini rumahmu sekarang."


Tari hanya mengangguk mendengar gombalan Rio.


Pengantin baru itu pun akhirnya berpisah, Rio harus mengurus sesuatu. Dan Tari dibiarkan di rumah bersama rasa bosan dan dilema memikirkan putrinya.


***


Pukul 7 malam.


Rio baru pulang, begitu pulang laki-laki itu bukannya mandi dan ganti baju, ia malah langsung membawa Tari masuk ke kamar.


Tari yang belum nyadar mau di ajak olahraga, ia malah buka lemari, dan menyiapkan pakaian ganti suaminya.


Tari seketika bengong, bagaimana bisa pulang kerja langsung tegang. Pasti suaminya macam-macam.


"Kamu habis ketemu perempuan cantik di luar sana?" tiba-tiba Tari langsung insecure. Dia jadi teringat suaminya yang pertama dulu.


"Bicara apa kamu, Tari?"


"Lalu kenapa pulang-pulang sudah tegang?" tanya Tari dengan tatapan menyelidik.


"Itu karena aku memikirkan mu saat perjalanan pulang tadi," kata Rio yang langsung menangkup wajah Tari.


Seperti biasa, kalau sudah melihat bibir Tari, penyedot debunya langsung automatis.


Tari tidak percaya, dia sudah tinggal bertahun-tahun dengan buaya. Gelagat laki-laki seperti ini perlu dicurigai. Ia pun mundur, dan memalingkan wajah. Gak mau disedot-sedot lagi. Lagi gak mood.


"Ish ... "


Rio tidak hilang akal, dia langsung membopong tubuh istrinya dan langsung meletakkan di tengah ranjang.


"Malam ini, kamu wajib memberikan hadiah untukku. Harus lebih dari kemarin ... kau tahu, kamu hampir membuatku bangkrut."


Tari kedap-kedip karena tidak paham.


"Ibel sedang di pesawat, 5 jam lagi mungkin dia akan mendarat dengan selamat. Sebelum dia datang ... bayar dulu padaku."


Wajah Tari kelihatan shock.


"Kamu bohong."


Tari lalu mengingat pas dia menguping tadi pagi.


"Aku serius. Aku hampir ditipu oleh Dewa, dia hampir membawa uangku tanpa menukarnya dengan Ibel ... Kamu tahu, jika itu terjadi, mungkin aku akan benar-benar bangkrut. Aku mungkin tidak bisa melihat senyum cantik di wajah istriku ..."

__ADS_1


"Bohong ..."


Tari yang selama ini sering ditipu, jadi susah sekali percaya pada orang.


Rio menghela napas dalam-dalam, kemudian memperlihatkan HP. Di mana Ibel sedang duduk di bisnis class di sebuah pesawat terbang.


"Kapan ini?"


"Tadi sore. Dia mau kabur jauh. Untung anak buah ku bisa mencegah."


"Terus Ibel sama siapa sekarang? Dia pasti takut."


"Tidak, ada orang ku yang menemani. Ayahnya lebih memilih uang, daripada putrinya sendiri. Kau tenang saja."


Tari menelan ludah, "Berapa? Berapa uang yang kami kasih?"


Rio tersenyum tipis.


"Banyak, dan kamu harus membayarnya dengan hidup bersamaku selamanya, untuk bunganya ... kau boleh bayar dengan anak-anak nanti."


Tari mau menangis, ia pun langsung melingkarkan tangannya di leher Rio.


"Makasih banyak, Rio ... terima kasih ..."


"Aku tidak terima pembayaran terima kasih, oke?" kata Rio kemudian melepaskan lengan Tari yang membelenggunya.


Tari kemudian menatap dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku bayar ... bersama bunga-bunganya," gumam Tari.


Seketika hidung Rio langsung kembang kempis. Tanpa komando, dia langsung menggarap sawahnya. Mumpung Ibel masih OTW. Kalau putri sambungnya pulang, bisa-bisa Tari akan dibagi jadi dua. Mumpung cuma berdua sekarang, hingga lima jam kedepan, mereka akan main sampai puas.


***


Kamar mandi. Dua manusia itu sedang mandi di dalam satu bathtub.


"Nanti, saat Ibel sudah tinggal bersama kita. Aku harap ... Kamu tetap melayani seperti ini. Ingat ... hutangmu banyak."


Bukannya marah, Tari malah tersenyum. Kemudian menyadarkan kepalanya.


"Kenapa kamu jadi mesyumm dan perhitungan sekali."


Rio ikut mesem, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Tari. Sekalian elus-elus biar jin botolnya keluar. Dan akhirnya, acara mandi pun jadi acara plus-plus.


Kalau hati senang, servis pun dengan sepenuh hati. Rio benar-benar merasakan bedanya, tidak sia-sia dia mengeluarkan banyak asetnya demi mengambil Ibel dari tangan mantan suami Tari.


***


"Mama ..."


Tari yang baru keluar dari kamar dan rambut agak basah, seketika turun dari tangga sambil berlari.


"Jangan lari!" ujar Rio tidak suka.


Tari menatap suaminya, lalu buru-buru menghampiri Ibel. Setelah bisa memegang Ibel, ia langsung memeluk erat putrinya itu.


"Ibel sayang, sekarang jangan ke mana-mana. Ibel sama Mama saja. Ibel gak boleh ke mana-mana," peluk Tari yang emosional.


Rio pun membiarkan istrinya itu, dan dia hanya duduk sambil menikmati pemandangan di depannya.


Barulah saat sudah tenang, dan Ibel sedang makan, Rio mendekat. Pria itu lalu berbisik.


"Jangan lupa, bunganya."


Tari menoleh, hingga pipi dan bibir Rio bersentuhan.


"Nanti malam, aku cicil mulai nanti malam," kata Tari.


Bagai dijanjikan surga, Rio langsung full senyum.


Ternyata, untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan, kadang kita perlu menderita semenderitanya, sakit sesakitnya.

__ADS_1


Selamat menikmati hari-hari bahagia Tari. Semoga bisa nyicil hutang sama BOS Rio.


THE END


__ADS_2