Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Babak Ke 2


__ADS_3

Bukan Salahku Indahnya Reuni Bagian 22


Oleh Sept


Tok tok tok


"Pak Rio."


Suara berat laki-laki terdengar dari balik pintu. Itu pasti sopir pribadi Rio yang sebelumnya dipanggil untuk mengantarkan Tari karena hari sudah gelap.


Sementara itu, Tari berusaha menetralkan detak jantungnya yang mau meledak. Aksi Rio berturut-turut memacu adrenalin wanita tersebut.


Sedangkan Rio, dia seolah di atas angin. Saat Tari tidak mendorong atau menepisnya, Rio merasa Tari juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.


Bermula dari malam itu, hal-hal lebih gilaa lagi mungkin akan terjadi antara mereka berdua.


Klek


Rio membuka pintu ruangan, kemudian Tari berjalan di belakangnya agak canggung. Pipinya bahkan masih terasa hangat dan merona.


"Antarkan Bu Tari ke rumahnya," titah Rio pada sang sopir.


"Baik, Pak Rio."


Tari pun menatap Rio sekilas, tidak berani menatapnya lama. Dan mengangguk pelan, seolah pamit mau pulang.


Rio pun balas mengangguk, kemudian melihat kepergian Tari yang berjalan bersama sopir pribadinya itu.


Setelah Tari benar-benar pergi, Rio seperti mendapatkan energi dari langit. Badannya yang kemarin lemas, tidak bersemangat dan lelah. Seketika menjadi segar bugar.


Sambil menutup lagi pintunya, bibirnya mengulas senyum. Sumringah dan matanya berbinar. Dapat vitamin C dari Tari barusan, Rio langsung sehat wal Afiat


Segala penyakit dan racun dalam tubuhnya seolah lenyap tak bersisa.

__ADS_1


***


Matahari sudah bersinar terang, Rio sudah pakai baju rapi.


"Katanya mau tambah dua hari?"


Rio tersenyum kecut.


"Ini resepnya!"


"Tidak usah," jawab Rio sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana.


Rio tidak butuh resep obat lagi di rumah sakit itu. Obatnya ada di kantor, dia tidak butuh dokter lagi, perawatnya siapa lagi kalau bukan Tari.


Pagi itu Rio sudah dijemput sopir setelah selesai mengurus administrasi rumah sakit.


Dia pergi dengan mood yang bagus, sampai dokter perempuan yang cantik itu mencibirnya beberapa kali.


Rio mencebik. Kemudian bersiap ke perusahaan. Tidak sabar bertemu vakum cleaner nya.


***


Di kantor, Tari duduk dengan gugup di meja kerjanya. Matanya menatap pintu berkali-kali. Entah mengapa, ia merasa nervous saat Rio bilang akan ke kantor hari ini.


Katanya sakit, kok cepat sekali sembuhnya.


Tap tap tap


Derap langkah kaki yang mendekat, belum apa-apa membuat Tari merinding. Itu pasti Rio.


"Tari."


Sudah tahu kalau itu Rio, tapi Tari tetap saja kaget saat namanya disebut.

__ADS_1


"Ya, Pak."


"Ke ruangan ku sekarang!" titah Rio lalu berjalan duluan mendahului Tari.


"Waduh."


Tari tambah ketar-ketir, mau diapakan lagi dirinya kali ini? Apakah ia kelihatan segampang itu? Astaga ...


Tari gelisah, masalahnya dia masih istri orang. Kalau begini ceritanya, lalu apa bedanya dia dengan Dewa?


Wanita itu ragu saat akan masuk pintu. Tapi tetap harus profesional. Ia mengatur napas kemudian membuka pintunya.


"Selamat pagi," sapa Tari.


"Duduklah!"


Rio meminta wanita itu duduk di tempat yang tersedia, kemudian matanya fokus pada laptop. Padahal, pikirannya sudah lari ke mana-mana.


Pipi Tari yang cubby, membuat Rio ingin menggigitnya.


Klik


Tari kaget, tiba-tiba Rio melipat laptop. Pria itu kemudian beranjak dari tempatnya. Lalu berdiri di sebelah bangku Tari.


Jantung Tari kembali diajak salto, tatkala laki-laki itu mencondongkan tubuhnya ke arah Tari.


"Apa semalam kau bisa tidur?"


Tari menelan ludah.


"Semalam aku memikirkanmu sepanjang malam," kata Rio lagi.


"Pak!" pekik Tari saat Rio memegang tengkuk lehernya lalu bersambung.

__ADS_1


__ADS_2