
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 41
Oleh Sept
"Minum ini, Tar. Cerita pelan-pelan, apa yang sudah terjadi."
Tari mengusap wajahnya yang basah, matanya sembab. Untuk saat ini dia belum bisa bercerita.
"Oke. Fine ... Kamu tenang. Kamu aman di sini."
"Maafkan aku, Mia ... aku harus merepotkan kamu," kata Tari dengan suara serak.
"It's okay. Kamu tenang, tenangkan pikiran kamu sekarang. Untung kamu cepat ke sini, lihat dirimu. Astaga ... entah apa yang sudah kamu alami," kata Mia yang merupakan teman sekaligus pemilik klinik kecantikan tersebut.
Mia kemudian melihat pergelangan tangan Tari yang kemerah-merahan. Ini pasti bekas ikatan. Apa mungkin pacar Tari yang melakukannya? Tapi tidak mungkin. Jika itu adalah ulah suaminya Tari, maka Mia lebih percaya 100 persen.
***
Kediaman Mia.
Tari kini istirahat di kamar tamu, tidak punya tempat tujuan, Tari meminta tolong Mia untuk menolongnya. Karena Tari tidak ingin pulang dulu, apalagi tetap bertahan di apartemen. Tari hanya ingin menghilang setelah apa yang Dewa lakukan.
Ketika Tari tertidur karena kecapekan dan kelihatan tertekan, Mia kemudian menelpon seseorang. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahnya yang sepi.
Mia bergegas keluar, kemudian menutup menutup pintu rumah, di intipnya sebentar, sebelum membuka pintu. Ia merasa lega, saat seorang laki-laki berdiri di depan mobil menunggu gerbang dibuka.
"Silahkan masuk, dia ada di dalam."
Sebenarnya, tanpa disuruh pun sosok tersebut langsung bergegas masuk ke dalam. Dan Mia pun menyusul setelah mengunci pagar rumahnya.
"Ada di kamar itu!" tunjuk Mia karena sosok tersebut sepertinya akan salah kamar.
Ia menoleh sebentar, lalu buru-buru membuka pintunya.
"Tari ..."
Dipanggilnya Tari, tapi tidak menyahut. Mungkin karena terlelap dalam tidurnya.
"Dia mungkin masih ngantuk berat, aku terpaksa memberikan obat penenang dan obat tidur, entah dia minum yang mana tadi."
"Terima kasih sudah menolongnya," kata si pria.
"Sama-sama. Aku tinggal keluar dulu."
Pria itu mengangguk. Dan menghela napas berat. Matanya tertuju pada lengan Tari, dan sorot mata yang tadinya sendu, langsung menajam.
Ia menjauh sebentar, lalu menelpon seseorang.
"Tidak usah mencarinya lagi," ucapnya di telpon kemudian kembali menyimpan ponselnya. Setelah Tari ditemukan, pencarian pun dihentikan.
***
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
Tari mulai terbangun, matanya mengerjap. Dan jari-jari tangannya juga sudah bergerak-gerak. Ada perasaan nyaman saat ia tidur, bukan karena kasur yang empuk, bukan pula karena AC yang dingin dan membuatnya nyenyak. Namun, karena ia tertidur dalam dekapan hangat seorang pria.
Saat tersadar dia sedang di mana dan dengan siapa, Tari reflek beringsut. Dia menarik diri dari pria yang mendekapnya. Akan tetapi, ia justru semakin didekap.
"Maafkan aku ..."
Suara lirih dari sang pria hanya membuat Tari semakin sesak. Ia lalu melepaskan lengan yang saat ini memeluknya bagaikan jeratan.
"Rio ... tolong lepaskan aku."
Disuruh melepaskan, Rio malah kembali membawa Tari dalam pelukannya.
"Hari ini kau sangat membuatku khawatir ... entah apa yang akan terjadi, jika hal buruk kembali terjadi padamu."
"Jangan begini ... tolong lepaskan aku."
"Tidak akan, tidak akan pernah," ucap Rio dengan tegas.
Tari hanya bisa menangis, hari ini terlalu berat untuk dilalui.
***
Setelah menegangkan pikiran, Tari dan Rio sekarang pamit pada Mia.
"Terima kasih sudah membantu Tari," kata Rio dengan tulus.
"Kalau ada apa-apa, datang saja ke sini," kata Mia sambil memegangi tangan Tari.
Melihat merah-merah di pergelangan tangannya Tari, Mia jadi ikut kesal.
"Makasih banyak, Mia."
"Hemm."
Rio pun akhirnya membawa Tari pergi dari sana. Dan tidak mungkin dibawa ke apartemen lagi, Rio justru membawa Tari ke rumahnya.
***
"Kamu akan lebih aman di sini," kata Rio sambil membuka mobil untuk Tari.
Mereka sudah di depan sebuah rumah berlantai tiga.
"Tenang saja, di rumah ini tidak ada orang lain, cuma pembantu saja."
Malah itu yang mengerikan. Namun, Tari percaya pada lelaki tersebut. Sebelum kata sah, Rio janji tidak akan mengajak berhubungan lagi.
Tari kemudian disambut Art.
"Antar dia ke kamar utama," seru Rio.
__ADS_1
"Baik, Pak Rio."
Tari kemudian naik ke lantai atas lewat lift.
"Mari Nyonya," kata bibi.
Mungkin dia mengira kalau Tari ini istri baru Rio, karena disuruh masuk ke kamar utama.
"Silahkan, Nyonya."
"Terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi."
Tari mengangguk. Tidak lama kemudian, Rio muncul, laki-laki itu masuk kamar sambil membawa P3K.
Rio langsung duduk di sebelah Tari, dan langsung meminta Tari mengulurkan tangannya.
"Mana tanganmu!"
"Aku tidak apa-apa," kata Tari.
Rio langsung menarik lengan Tari, dan langsung mengolesi pakai salep khusus.
"Aku tidak apa-apa, Rio."
Mata Rio terlihat kosong melihat bekas ikatan di tangan Tari.
Rio sedang marah, melihat wanitanya diperlakukan seperti ini. Apalagi sampai sekarang, Dewa belum diketahui di mana.
"Sudah, Rio!"
Tari menarik tangannya kuat, dan Rio hanya diam saja. Tidak memaksa seperti sebelumnya.
***
Menjelang malam, mereka makan malam bersama. Walaupun semua makanan enak itu terasa hambar untuk Tari.
Sambil makan, dia melihat internet. Ingin memastikan sesuatu.
"Makanlah dulu, Tari ... Kamu butuh tenaga," kata Rio.
Usai makan, Tari langsung naik ke atas. Sedangkan Rio masih di bawah.
Tari tidak bisa tidur, walaupun sudah jam 9 malam lebih. Rio juga tidak kelihatan, sepertinya ada tamu di bawah, karena Tari mendengar suara orang berbicara.
Sampai akhirnya jam 12 lebih, Tari sudah bisa tidur nyenyak. Namun, tidurnya terganggu saat merasakan sesuatu yang aneh. Ia seketika terbangun ketika sebuah tangan merayap di atas tubuhnya.
"Rio ..."
Tari semakin panik, apalagi ia merasakan aroma minuman yang menyengat.
__ADS_1
"Rio ... jangan!"