Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Kemarahan Dewa


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 32


Oleh Sept


Seperti biasa, kalau keluar dari ruangan Rio, pakaian Tari akan sedikit kusut. Dan satu lagi, bibirnya akan terlihat memble. Ini gara-gara penyedot debu merek Rio tersebut yang suka kelepasan kalau bersama Tari. Mungkin Tari mengandung magnet, membuat Rio maunya nempel.


Sejak dibolehkan, Rio seolah ketagihan. Wibawanya hilang sejenak saat mereka cuma berdua di ruangan tertutup. Namun, sampai sejauh ini Tari masih aman, walau bibirnya sudah tercemar. Rio belum berhasil mengajak Tari tidur, lantaran Tari menolak.


Selangkah lagi, mungkin cita-cita Rio akan berhasil. Karena sepanjang yang ia tahu, Tari dan Dewa sudah mulai renggang. Bahkan, menurut orang dalam, Tari mungkin akan segera bercerai. Lalu, siapa orang dalam Rio?


***


Tari kini duduk di meja kerjanya, menatap berkas tapi pikirannya tidak fokus. Apalagi lidah dan ujung bibirnya sakit, sempat digigit bosnya sendiri.


Sambil melirik ke arah depan, Tari kemudian mencoba fokus. Lalu menggeleng, kejadian bersama Rio selalu membuat bulu-bulu halus di tubuhnya merinding. Astaga, mungkin dia kurang belaian. Efek jarang dibelai oleh suaminya.


Di tempat lain, di negara tetangga, Dewa sedang mengajukan cuti beberapa hari. Anehnya, langsung dikabulkannya. Padahal banyak pekerjaan saat itu. Siapa lagi kalau bukan ulah Rio. Pastinya ia mempermudah kepulangan Dewa hanya untuk mengurus surat-surat cerai.


Padahal, Dewa masih belum mau melepaskan Tari. Entah karena apa, saat ada disia-siakan. Sekarang istrinya mau pisah malah dipersulit. Sungguh pria yang banyak drama. Dia yang memulai perselingkuhan, tapi dia yang tidak terima.


***


Sabtu sore, langit sudah berwarna jingga merata. Tari habis pulang kerja, dan dia sangat terkejut saat pulang, suaminya ada di rumah sang ibu. Baru masuk pagar, wajah Dewa muncul dan cukup mengejutkan.


"Mas ... Mas kenapa di sini?" tanya Tari yang kala itu baru masuk pagar rumah ibunya. Dilihatnya Dewa sedang mengendong Ibel yang sedang tidur.


Sementara itu, dari belakang sang ibu hanya bisa diam dengan wajah menahan emosi. Sepertinya ada keributan antara menantu dan mertua tersebut saat Tari belum tiba.


"Mas ... Mas mau bawa ke mana Ibel?" tanya Tari kemudian menatap ibunya dan Dewa bergantian.


Karena Dewa tidak mengatakan apapun, Tari langsung ikut saja suaminya itu.


"Mas!"


Dewa meletakkan Ibel di jok belakang dan Tari ikut masuk.


"Mas!" panggil Tari berkali-kali, tapi Dewa seolah budex, tidak menjawab pertanyaan sang istri.


WUSH ...

__ADS_1


Mobil melaju meninggalkan kediaman keluarga Tari, kemudian masuk ke jalanan besar. Saat Dewa fokus menyetir dengan wajahnya yang galak, Tari memeluk putrinya agar tetap tenang dalam tidurnya. Entah apa yang dikatakan sang ibu tadi, keluar dari rumah kok Dewa kelihatan marah sekali.


"Mas pelan-pelan!" seru Tari saat Dewa ngebut dan menyalip banyak kendaraannya di depannya.


"Kamu ini kenapa sih, Mas! Kamu pikir nyawa kami gak berharga?" omel Tari yang marah karena Dewa menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata.


Dewa hanya menoleh sebentar, lalu kembali memacu kendaraan seperti pembalap profesional. Dalam hati, Tari hanya banyak-banyak istighfar, karena suaminya seperti sedang kerasukan.


Flashback


Kediaman orang tua Tari.


Ibel sedang tidur di kamarnya neneknya karena capek habis bermain dan makan camilan. Tiba-tiba, ada tamu datang. Tanpa mengintip, ibu Tari langsung membuka pintunya.


Beliau cukup kaget melihat anak mantu durjana yang datang. Sebelumnya, sebelum tahu kasus-kasus perselingkuhan sang menantu, mereka baik-baik saja. Namun, sekarang tidaklah sama. Bahkan ibunya Tari malah ceplas-ceplos membuat kuping Dewa panas.


"Mana Ibel?" tanya Dewa lalu masuk tanpa permisi.


"Sedang tidur, nanti saja kalau bangun. Baru tidur, nanti rewel," kata sang mertua.


Dewa malah tersinggung. Mungkin karena capek juga, baru datang dari Bandara langsung ke sana. Sebab di rumah tidak ada orang.


Wanita paruh baya itu tersulut emosi, padahal dulu wanita paling sabar. Akhirnya keduanya adu mulut, sampai sang mertua keceplosan.


"Baguslah kalian bercerai, Tari akan mendapatkan pria yang lebih darimu."


Dewa langsung melotot, lalu masuk kamar dan membawa Ibel dengan gusar.


Flashback End.


Di dalam mobil, tiba-tiba Dewa mengerem mendadak.


CHITTT


DUG ...


Kepala Tari sampai kejeduk, untung saja Ibel tidak apa-apa karena dalam pelukannya.


"Mas! Hati-hati kalau nyetir!"

__ADS_1


Masih di perbatasan lampu merah, mobil berhenti dan belum jalan. Dewa kemudian menoleh dan berbicara.


"Aku tidak akan menceraikan mu!"


Tari mendongak menatap suaminya.


"Terserah, Mas mau atau tidak. Tapi aku tetap ingin bercerai," ucap Tari dengan penuh ketegasan. Kali ini dia yakin, karena sikap Dewa yang kebut-kebutan seolah tidak sayang nyawa anak mereka.


"Apa kau mau menikah lagi?" cetus Dewa.


Tin tin


Lampu sudah hijau, tapi Dewa yang sedang berdebat tidak segera menjalankan mobilnya.


Tin tin, klakson kembali berbunyi.


"Siapa laki-laki itu, hemm?"


Tari mencoba tidak panik, kalau sampai dia ketahuan ada main sama Rio, bisa-bisa hak pengasuhan anak jatuh pada Dewa.


"Mas bicara apa?"


Dewa hafal gelagat sang istri. Tari kelihatan menyembunyikan sesuatu. Ia pun berbalik dan fokus mengemudi karena suara klakson sangat mengusiknya.


***


Tiba di rumah, Dewa yang paham betul tentang perempuan, ia pun mencoba membuktikan kecurigaannya. Dewa merasa Tari sekarang suka dandan, lebih menarik meskipun berisi. Sejak kerja, istrinya itu lebih merawat diri. Dewa curiga, dan sangat curiga malahan.


Sampai setelah menidurkan Ibel di kamar, Dewa langsung menarik Tari ke dapur. Ditarik begitu, jelas Tari kaget.


"Mas! Sakit!" pekik Tari, tapi pria itu tidak peduli.


Dewa hanya ingin membuktikan, bahwa feeling-nya sebagai seorang buaya itu tepat. Ia menarik Tari lalu mendudukkan wanita itu di kursi.


"Mas!" teriak Tari yang kaget karena Dewa langsung membuka paksa kemeja warna lemon yang dikenakan.


Tari refleks menutup area yang terbuat tersebut. Dan Dewa langsung merebut tangannya dengan paksa, kemudian wajahnya merah padam.


Melihat ekspresi sang suami, jantung Tari mau meledak. Sebenarnya apa yang Dewa lihat?

__ADS_1


__ADS_2