Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Pengadilan Agama


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 43


Oleh Sept


"Dena ... ucapkan salam pada Papa!" seru perempuan cantik dengan tubuh proporsional tersebut. Dari caranya berpakaian, jelas dia tahu fashion. Dan dilihat dari tas yang dia bawa juga, jelas dia kalangan elit bukan golongan ekonomi syulit.


Sebab tas yang dibawa wanita tersebut termasuk tas branded merek kremes yang harganya fantastis, bisa senilai sebuah rumah tingkat.


"Dena! Mama bilang sapa papamu!" desak wanita tersebut. Padahal putrinya kelihatan tidak nyaman.


"Jangan jadikan Dena alat untuk bertemu denganku. Untuk apa kamu ke sini? Apa laki-laki itu mulai membuangmu?" sindir Rio dengan sarkas.


Wanita itu langsung melipat kedua tangannya, dan duduk manis sambil mengangkat satu kaki dan ditumpukan ke kaki lain.


"Itu bukan urusanmu. Aku hanya ingin mengantarkan Dena. Dia hanya ingin bertemu papanya!" celetuknya kemudian.


"Sampai sejauh ini, aku belum yakin benar ... kalau Dena anakku. Jadi ... sia-sia kamu datang ke sini."


"RIO!"


Wanita itu marah, karena Rio lagi-lagi meragukan putrinya. Beginilah susahnya mantan pasangan kumpul sapi. Tidak ada status jelas, dan sekarang anaknya diragukan.


"Jangan berteriak di rumahku. Kalau tidak ada urusan lagi, kamu boleh pergi."


Wanita bernama Laura itu langsung geram, ia tidak sengaja menatap sosok wanita di ujung tangga. Hanya kelihatan kakinya dan ujung dress saja.


"Oh ... oke. Baiklah. Tidak masalah kamu tidak sayang pada Dena. Aku anggap kamu sedang khilaf. Dan jangan menyesal ... jika nantinya kau mencari anakmu ini."


Laura kemudian fokus pada kaki di ujung tangga yang mulai mundur. Dan Laura semakin kencang berbicaranya.


Tapi Rio langsung menatapnya tajam.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Status! Status Dena!"


Rio paham, bukan status yang Laura cari. Wanita itu terlalu licik, dan Rio bisa melihat kalau Laura selama ini hanya mengincar hartanya. Beda sekali dengan sosok Tari, bahkan ia harus memaksa Tari agar mau menerima pemberian darinya. Kalau Laura, matanya sudah hijau saat melihat black card.

__ADS_1


"Pintu keluar kamu masih ingat, kan?"


Laura mendelik, bola matanya yang biru karena lensa kontak terlihat semakin bulat dan kelihatan cantik tapi tidak menarik lagi di mata Rio.


"Rio! Apa gara-gara perempuan itu?"


Laura tidak terima karena malah diusir, dulu mereka sangat mesra, tapi sekarang Rio murka.


Sedangkan Dena, anak kecil itu tambah tidak nyaman. Keributan yang terjadi, membuatnya takut.


Rio menghela napas panjang, lalu naik ke tangga. Meninggalkan Laura dan Dena begitu saja.


"Rio!"


Laki-laki itu menelpon security-nya. Dan saat ia menatap ke depan, ada Tari yang menatapnya penuh tanya.


"Siapa dia? Istrimu?"


Rio menggeleng. Kemudian meraih tangan Tari, tapi langsung ditepis.


"Ada anak kecil di sana, apa itu anakmu?"


"Kamu bohong ... kamu menipuku."


Rio menarik napas lagi dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya.


"Dia hanya masa lalu, seperti kamu ... semuanya pasti punya masa lalu."


"Tapi kenapa kamu tidak mengakui anak itu?" Tari langsung menyela.


"Karena itu bukan darah dagingku!" jawab Rio dengan nada tinggi, bersamaan dengan Laura yang keluar. Agak senang karena mendengar teriakkan Rio sampai bawah.


Sedangkan Tari, dia mulai ragu. Rio tidak setulus yang dia kira. Melihat keraguan Tari sekarang, Rio mendesis kesal, gara-gara Laura masalahnya jadi bertambah.


"Tari ... kau mau ke mana?"


"Aku mau pulang."

__ADS_1


"Tari!" sentak Rio dengan kasar sambil memegang lengan Tari.


"Lepaskan Rio! Aku mau pulang. Ini bukan tempatku. Dan tidak benar jika aku tinggal di sini," ucap Tari yang kala itu pikirannya sedang bingung.


"Kau mau ke mana?"


"Lepaskan!"


Rio langsung mendekap tubuh Tari.


"Tetap di sini bersamaku ..."


Tari yang semula meronta, perlahan luluh dalam dekapan teh Rio.


Semua orang punya masa lalu, Rio dan Sari, keduanya sama-sama punya masa lalu yang tidak baik-baik saja.


***


Pengadilan Agama Jakarta Selatan


Sidang putusan telah dibacakan, tanpa kehadiran Dewa. Tari datang dengan pakaian tertutup, kacamata hitam dan masker serta topi.


Keluarga Dewa tidak ada yang datang, begitu juga keluarga Tari. Hanya ada Tari yang mengambil akta cerai ditemani kuasa hukumnya.


Tiba di parkiran, Rio sudah menyambutnya. Pria itu yang mengantar Tari, dan yang menjemput Tari juga. Keduanya merasa lega saat menatap sampul hijau bergambar gedung pengadilan Agama tersebut.


Rio seperti mendapat golden tiket, pria itu pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kita mau ke mana?" tanya Tari saat arah tujuan mereka berlawanan dengan arah ke rumah.


Rio tidak menjawab, hanya tersenyum tipis dan kembali fokus pada jalanan. Tidak lama kemudian, mobil itu masuk ke sebuah plataran hotel berbintang lima.


Tari panik, dan dia menatap Rio.


"Rio ..."


Rio balas menatapnya, kemudian meraih tangan Tari, dan mengecupnya singkat.

__ADS_1


"Kita masuk ke dalam!"


__ADS_2