
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 37
Oleh Sept
Pada akhirnya, Tari pun terlelap dalam dekapan hangat seorang pria yang bukan suaminya. Dia tertidur dalam pelukan Rio yang sudah berjanji tidak akan menyerangnya meskipun Tari tertidur.
Sesuai janji yang terucap di bibir, begitu melihat Tari sudah tidur, Rio pun meninggalkan ranjang. Lelaki itu pergi ke kamar mandi, menyalakan shower dan berlayar sendirian.
Tidak mungkin dia mengeluarkan cairan itu di dalam tubuh Tari, dengan terpaksa dan berat, ia pun melepaskan kecebong-kecebong miliknya ke dalam saluran pembuangan air. Mengalir bersama air hangat yang mengucur dari atas shower.
Lagian sangat berbahaya kalau sampai mereka berhubungan, jika sampai Tari hamil, bisa-bisa anak itu berstatus anak Dewa. Mana mau Rio hal itu terjadi. Akhirnya dia pakai sabun untuk mengeluarkan penat dalam kepalanya.
***
Matahari sudah bersinar cerah, Tari mengerjap. Dan cukup kaget ketika kelopak matanya perlahan terbuka. Sosok laki-laki tampan berbaring di sebelahnya, menatap Tari tanpa kedip.
"Aku kira kamu pingsan, tidurnya lama sekali," gumam Rio lembut.
Laki-laki yang sebelumnya terlihat penuh wibawa itu tiba-tiba jadi sosok hangat dan penyayang. Dari caranya menatap dan mengusap rambut Tari, rasanya Tari ingin cepat-cepat ganti suami.
"Jam berapa ini?"
"Jam 7."
Tari langsung beranjak dan duduk sempurna, matanya menatap sekeliling, kemudian tangannya mengikat rambut dengan asal.
"Begini ya ... kalau bangun tidur," gumam Rio dalam hati.
Tari buru-buru ke kamar mandi dan langsung mengosok gigi. Tidak pede bicara dekat Rio kalau bau mulut habis bangun tidur.
Tidak lama berselang, Tari sudah segar. Aroma sabun berpadu dengan mint yang menyejukkan.
"Kalau mau mandi, pakai kemejaku saja."
Rio menatap lemari.
"Tapi aku mau pulang, aku mau melihat Ibel."
"Tetap si sini, Ibel tidak ada di rumah. Laki-laki itu juga sudah balik ke luar negeri," kata Rio penuh keyakinan.
"Dari mana kamu tahu?"
"Apa aku kelihatan seperti orang yang membual? Aku tahu semuanya. Turuti saja apa kataku, kamu akan mendapatkan Ibel nanti."
"Benarkah?"
"Hemmm. Tetap di sini, aku pastikan Ibel akan kamu dapatkan."
__ADS_1
Tari tidak mau percaya, tapi Rio ini kelihatan menyakinkan. Alhasil, dia pun percaya saja.
***
"Kita sarapan di sini saja, sebentar lagi makanan kita akan datang."
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, pesanan online sudah datang.
"Mengapa tidak makan di luar?" Tari penasaran.
"Jangan, perceraian mulai diurus. Sebisa mungkin, kita tidak kelihatan bersama di depan publik."
"Kenapa?"
"Ikuti saja rencana ku!"
Tari mengangguk. Ia akhirnya sarapan bersama Rio, dengan memakai kemeja Rio yang seperti dress pendek saat ia kenakan. Makanan sangat enak, suasana sangat indah, romantis dan Rio yang sesekali menatapnya dengan tatapan dalam.
Harusnya Tari bahagia, tapi ternyata tidak. Hati kecilnya masih memikirkan Ibel, putrinya dengan Dewa.
***
Singapura
Pulang kerja Dewa tidak sempat enak-enak, pikirannya masih bercabang. Antara pekerjaan dan juga telpon tadi siang.
Terlalu banyak bukti, dan bukan editan. Membuat Dewa tambah setres. Dia sampai penasaran, kira-kira siapa laki-laki di balik Tari? Siapa laki-laki yang sudah membuat Tari seperti punya power.
Kalau begini, hak anak bisa-bisa jatuh ke tangan istrinya. Padahal Dewa ini sakit hati, karena Tari selingkuh. Ingin memberikan pelajaran, biar Tari menderita saat tidak mendapatkan hak atas anak mereka.
"Siapa laki-laki tua yang menjadi selingkuhan mu, Tari?" desis Dewa sambil memegang kepalanya yang pusing.
Dia pikir, yang doyan Tari pasti orang tua yang matanya sudah rabun. Duda kaya raya, sudah uzur dan jelek.
"Sayang ... main yuk!"
Suara menggoda itu berasa dari atas ranjang, pakaian tempur pun sudah dikenakan.
Dewa menghela napas panjang, lalu mengabaikan panggilan yang penuh goda tersebut.
"Dewa ..." suaranya lirih memanggil nama Dewa.
Tidak digubris, wanita itu langsung melepas baju haramnya. Lalu mendekati Dewa dan langsung duduk di pangkuan pria tersebut.
Kucing dikasih ikan pindang, ia pun langsung hap.
Moodnya yang tadinya buruk, perlahan mulai naik. Apalagi kekasihnya itu sangat nakal dan gemar merayu. Dewa suka wanita seperti ini, liar, nakal, dan menggoda.
__ADS_1
Sesuatu yang tidak ia dapatkan dari Tari, kepuasan itu dia dapatkan dari wanita nakal yang mampu membuat imajinasinya menjadi sangat liar. Wanita itu bisa melakukan gaya apa saja, tidak menolak jika disuruh. Bahkan mau menelan dan memainkan barang pribadi tanpa risih. Jelas itu yang Dewa harapkan.
Tari terlalu baik dan santun, sehingga bagi Dewa kurang menarik. Padahal, bagi pria lain, diam saja Tari sudah membuatnya tegang. Rio sampai harus menahan panas kalau mereka satu ranjang. Kalau tidak ingat status Tari, sudah pasti Rio membuat istri orang hamil.
***
Jakarta
"Tari ..."
"Ya."
Tari menoleh, ia berdiri sambil memegangi pagar balkon, dengan posisi dipeluk dari belakang. Terasa hangat, dan nyaman.
"Apa? Kenapa diam saja?"
"Tidak ... tidak ada. Hanya ingin memanggil saja. Bangun tidur langsung menatapmu ... makan bersama, tidur bersama ... ini seperti tidak nyata."
Tari terkekeh, sejak kapan Rio menjadi lebay seperti itu. Mana bos-nya yang tegak, galak, garang, dan berwibawa itu.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Rio.
"Lucu saja ..."
"Apanya yang lucu?"
Tari menggeleng.
"Katakan ..."
Keduanya saling menggoda, saling bercanda. Tari sudah bisa tersenyum saat tadi habis telepon pengacara. Proses akan cepat, karena ini adalah perselingkuhan.
Tari yang sempat murung, mulai tidak sabar mendapatkan Ibel. Dan hidup bersama laki-laki yang tulus menerima dirinya apa adanya.
"Aku senang, kau sekarang bisa tersenyum."
"Itu karenamu," kata Tari.
Rio tersenyum tipis, kemudian mengecup kening Tari. Lalu kembali memeluknya dalam-dalam, seolah Tari hanya miliknya.
"Jadilah milikku selamanya," bisik Rio tanpa melepaskan pelukannya.
"Hemm."
"Aku mencintaimu ..."
Tari terdiam.
__ADS_1