
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 36
Oleh Sept
Rio yang memang sudah menahan diri sejak lama, ia pun mulai terbawa suasana. Di ruangan tertutup, hanya mereka berduaan. Sangat mudah baginya untuk meluluhkan Tari saat ini.
Sekali gerakan, ia sudah berhasil merengkuh pinggang Tari. Dan dia bisa merasakan penolakan dari sang wanita, tapi Rio mengabaikan begitu saja. Ini adalah daerah kekuasaannya. Toh Tari akan segera bercerai dan jadi miliknya. Sekarang atau nanti, semuanya sama saja. Daripada menunggu semakin lama, rasanya Rio ingin makan Tari saat itu juga.
CUP
Ketika bibir mereka bertemu, ketika kulit bersentuhan dengan kulit, dan ketika lidah Rio hendak menyusup masuk, Tari langsung mengunci mulutnya rapat-rapat.
Kepalanya menggeleng pelan. Kemudian menepi tubuh Rio yang gagah perkasa itu.
"Jangan, Rio ... tolong jangan lakukan itu."
Rio menarik napas dalam-dalam, kemudian berbisik di telinga Tari.
"Aku sudah menunggu lama momen seperti ini," bisik Rio sambil mengigit kecil telinga Tari. Aura-aura serigala sudah terasa.
Rasanya Tari seperti melihat hantu, bulu-bulunya berdiri merinding seketika itu juga.
"Kamu menyukaiku?" tanya Tari sambil menahan bahu Rio agar tidak semakin dekat.
Rio mengangguk, "Perlu aku jawab?"
__ADS_1
"Kamu tidak menyukaiku ... Kamu hanya penasaran dengan rasanya, rasa saat berhasil berhubungan denganku," gumam Tari sambil tersenyum miris.
Wanita itu sudah lama menikah, dan pasti tahu bagaimana tatapan orang yang sedang ingin. Ya, mungkin itu hanya napsuuh saja yang diperlihatkan oleh Rio malam ini.
"Bicara apa kamu, Tari ... jika aku ingin. Aku bisa melakukan dengan wanita lain sejak dulu. Aku bisa dengan mudah memanggil gadis-gadis di luar sana untuk memuaskan setiap malam ku," ucap Rio sambil tangannya mengusap pipi Tari yang cubby. Rasanya ingin dia gigit saja pipi yang lembut dan empuk tersebut.
"Kalau begitu ... jangan sentuh aku sampai kita bersama. Benar-benar bersama, bukan seperti ini, statusku masih istri orang."
Rio langsung mundur, menarik napas berat. Tadinya sangat ingin, karena mendengar kata-kata Tari, moodnya langsung amblas.
"Buktikan kalau kamu memang tulus, Rio ..." kata Tari.
Rio melemaskan otot lehernya, kemudian melepaskan sabuk dari kulit asli yang harganya cukup mahal sekali. Jika ditukar dengan sepeda motor, mungkin akan dapat beberapa unit.
Sedangkan Tari, dia tambah panik. Bukannya sadar, Rio kok malah pakai melepaskan sabuk.
"Jangan takut, aku tidak akan memasukkannya!"
Tari menelan ludah, masalahnya benda di bawah sana sudah menyembul dan mengerikan.
"Terasa sesak, harus kubuka sedikit," kata Rio dengan santai, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sebenarnya, kepalanya pusing atas dan bawah.
Jendela balkon masih terbuka lebar, membiarkan bulan mengintip aksi keduanya. Lebih tepatnya menjadi saksi di mana Tari sangat takut malam ini satu ruangan dengan pria seperti Rio, yang bekat dan terlihat perkasa. Tari lama-lama ikut pusing gara-gara matanya melirik benda yang sudah menyembul tersebut.
Lama tidak disiram, jujur Tari juga merasakan sesuatu yang menjalar dan mulai membuatnya geli.
__ADS_1
"Rebahan di sini! Jangan takut. Jika aku bilang tidak, maka artinya tidak."
"Aku di sofa saja!" jawab Tari cepat.
"Berani tidur di sofa, kamu akan aku tiduriii!"
Tari cepat-cepat duduk di tepi ranjang saat mendengar ancaman Rio.
Melihat wajah Tari yang gelisah dan cemas, Rio tersenyum dalam hati.
Puk ... puk ...
Rio menepuk kasurnya, sebagai isyarat agar wanita itu mau rebahan bersamanya.
"Ke mari! Istirahatlah, jangan khawatir. Aku tidak akan menyakitimu."
Tari menelan ludah, pria itu benar-benar meresakan.
"Apa mau aku tarik paksa?"
Akhirnya Tari pun tidur di tepi ranjang dengan perasaan yang was-was. Ia membelakangi Rio, karena tidak nyaman. Sampai akhirnya, dia merasakan pergerakan di balik punggungnya.
Tari memejamkan mata rapat-rapat, dan tiba-tiba saja Rio sudah melingkarkan tangannya di pinggang Tari.
"Aku akan tunggu momen itu ... tidurlah," bisik Rio dengan kepalanya yang diletakkan di balik tengkuk leher Tari.
__ADS_1
Bagaimana mau tidur, Rio benar-benar sedang menggodanya. Ada yang gerak-gerak di balik tubuhnya.
Hemm!