
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 46
Oleh Sept
Kalau tidak ada pelayan yang terdengar melangkah mendekati mereka, Tari paling sudah disedot sampai kering oleh pria tersebut.
Buru-buru Tari melepaskan diri, kemudian pura-pura melihat gaun pengantinnya. Ini bukan pernikahan pertama, tapi lebih bagus dari pada yang sebelumnya.
Terlihat dari cara Rio menyiapkan semuanya, meskipun pernikahan ini tidak dicatat secara resmi. Karena butuh beberapa bulan sebelum Tari bisa nikah lagi secara hukum.
Beberapa bulan ini dia memang bersama Rio, dan mereka tinggal satu atap. Meskipun status Tari sebelumnya ada masih istrinya Dewa. Dan setelah sekian lama menunggu, akhirnya keputusan pengadilan keluar juga.
Tidak mau menunggu terlalu lama, Rio pun mengajak Tari segera menikah. Alhasil, mereka pun akan menikah secara agama dulu, walaupun nanti, inilah yang akan merugikan Tari. Sebab status hukumnya tidak jelas, tidak tercatat di negara.
Kata Rio, setelah 3 bulan, mereka akan meresmikannya. Itu kata Rio, itu janji lelaki tersebut.
Kini, keduanya sudah selesai fitting baju pengantin, dan sama-sama puas. Tinggal menghitung hari, Rio akan mendapatkan sesuatu yang selama ini dia incar.
***
Di tempat lain, Ibel sedang bersama Tantenya. Mulanya rewel sekali, anak yang biasanya ceria, kini murung dan banyak menangis. Bahkan tidak mau makan, susah sekali dibujuk, sampai tantenya kadang emosi dan marah-marah.
Barulah saat sang papa datang, Ibel langsung tersenyum ceria.
__ADS_1
"Papa."
Dewa yang wajahnya agak biru-biru itu pun menggendong Ibel.
"Kamu gak pernah kasih makan dia?" omel Dewa pada adiknya.
Sang adik menghela napas dalam-dalam.
"Susah sekali dia makannya, Mas ... eh ... Mas. Wajah Mas Dewa kenapa?"
Dewa langsung memalingkan muka, kemudian meminta adiknya untuk merapikan pakaiannya Ibel.
"Masukkan baju-baju Ibel ke tas. Beberapa saja."
Meskipun kadang julid, tantenya Ibel ini sayang sama keponakan. Maklum, Ibel ini keponakan satu-satunya.
"Sudah, lakukan saja apa kataku."
"Mas mau kasih ke wanita itu?"
Dewa langsung melotot, seketika adek nya pun langsung layu. Tidak berani lagi membantah, memang Dewa ini tipe watak keras.
***
__ADS_1
D-Day
Tari sedang bersiap, semalam dia menginap di rumah ibunya. Hari ini dia akan menikah lagi. Sebenarnya semalam dia galau, makanya minta tidur di rumah ibunya. Rio menolak, tapi karena Tari memaksa, akhirnya ia mengantar Tari ke rumah orang tuanya.
"Cantik sekali kamu, Tar? Seperti kembali muda ... malah lebih cantik saat ini," puji ibunya yang melihat Tari dirias.
"Ibu bisa saja."
"Ibu jujur, gak basa-basi. Kamu cantik sekali, beda sekali pas jadi istrinya Dewa, Ibu rasa kamu jadi kurang merawat diri. Pesan Ibu ... meskipun nanti sudah menikah. Kamu harus tetap jaga penampilan. Jangan sampai suami jajan di luar," pesan sang ibu.
Tari diam sejenak, Rio memang bukan pria baik, kalau melihat rekam jejaknya. Dia bukan manusia suci, tapi setidaknya Rio terlihat lebih baik daripada Dewa. Mendadak Tari galau. Apa pilihannya sudah tepat?
"Sudah, kok malah melamun. Ibu siap-siap dulu."
Tari mengangguk, "Ya, Bu."
...
Beberapa saat kemudian.
Calon pengantin itu kemudian menatap gaun indahnya, dia sudah sendirian di ruangan. Yang lain sedang menunggu. Setelah memantapkan hati, dan mengambil napas dalam-dalam, Tari kemudian keluar dan membawa bucket bunga kecil di tangannya.
"Ma ..."
__ADS_1
Tiba-tiba Ibel muncul dan langsung memeluk Tari yang kala itu sudah pakai gaun pengantin. Bersambung