
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 24
Oleh Sept
Rupanya Dewa sengaja pulang tidak bilang-bilang. Itu juga hanya dua hari, besok malam dia harus balik. Begitu tiba di rumah, ternyata rumah masih kosong, padahal hari sudah sore.
Alasan lain Dewa pulang juga karena aduan dari sang mertua, katanya rumah Dewa sering kosong. Istri Dewa gak nurut, padahal dilarang bekerja. Cukup fokus ngurus anak dan rumah saja.
Ipar pun ikut nyir-nyir. Sungguh berat bagi Tari. Diam di rumah dipandang rendah, kerja seperti sekarang dibilang gak nurut, kan repot!
***
"Papaaa!"
Seperti biasanya, kalau ketemu sang papa, Ibel langsung minta gendong. Mengelayut manja pada papanya itu.
"Anak Papa ... kangen Papa gak?"
Ibel langsung mengangguk, dan melingkarkan tangannya di leher sang papa. Meletakkan kepalanya di bahu papanya itu.
Meskipun dingin dengan sang istri, kalau dengan anak, Dewa memang seperti Malaika. Wajahnya full senyum, coba kalau sama Tari, isinya masam. Namun, itu kemarin-kemarin. Sekarang, saat ia melihat Tari pakai pakaian kerja yang modis, meskipun Gemoy, kok Tari kelihatan menarik.
"Bongkar kopernya, aku bawa mainan sama oleh-oleh coklat buat Ibel," seru Dewa sambil melirik Tari.
"Iya, Mas."
Ibel mengajak papanya masuk kamar, dan memperlihatkan banyak mainan baru.
__ADS_1
"Banyak sekali mainan Ibel?"
"Iya Papa. Ayo main yuk ... Papa jadi anaknya. Ibel jadi dokter."
Dewa diam saja, kemudian berbaring menuruti sang putri yang comel dan lucu tersebut.
"Ibel periksa ya Papa," celoteh Ibel sambil menekan-nekan tubuh papanya.
Tap tap tap
Tari mendekat, ia berdiri di ambang pintu. Kalau melihat kedekatan anak dan ayah tersebut, kayaknya galau juga kalau ganti suami. Aduh, Tari bingung.
Beberapa saat kemudian.
Ibel sudah ketiduran, duduk sambil dipeluk dan dipuk-puk oleh papanya. Setelah memastikan anaknya terlelap, Dewa kemudian keluar kamar.
Dilihatnya Tari sedang mengeluarkan pakaian dari bungkusan laundry. Biasanya juga nyuci sendiri, sekarang pakai laundry segala.
"Ada, sebentar. Aku angetin. Tadi pagi aku masukin kulkas."
Dewa langsung mencebik, Dewa ngomel tersebut kembali mengoceh bak burung beo.
Mana mau Dewa makan barang angetan, ia pun langsung mencari ponselnya. Dan memilih memesan makanan online.
Melihat hal itu, Tari hanya menghela napas dalam-dalam, lalu memasukkan semua baju dalam lemari. Barulah dia berangkat mandi, setelah membereskan rumah. Sedangkan sang suami, asik makan ayam goreng sendiri sambil nonton TV.
Selesai mandi, Tari kemudian melakukan sedikit perawatan wajah. Masih dengan pakai bathrobe. Sedangkan suaminya masih di luar sana.
__ADS_1
Saat mengolesi cream malam di wajahnya, tiba-tiba Dewa masuk.
Laki-laki itu sedikit kaget saat melihat Tari.
"Tumben sekali perawatan?" batin Dewa sambil memperhatikan Tari.
Sedangkan Tari, dia masih tetap melakukan pembersihan wajahnya.
"Mulai besok, tidak usah bekerja!" ucap Dewa yang tiba-tiba sudah berada di balik tubuh Tari.
"Kita sudah bicara kan, Mas. Aku tetap bekerja. Masalah Ibel, Mas jangan khawatir. Dan urusan rumah, Mas lihat kan? Tidak ada masalah."
"Kamu mulai tidak menurut, ya?" balas Dewa.
Tari meletakkan serum yang tadinya mau ia pakai. Ia kemudian berbalik dan menatap suaminya.
"Terus mau mas Dewa apa? Aku di rumah setiap hari, dan harus makan hati sama ucapan keluarga Mas?"
"Kenapa mengalihkan perhatian? Kenapa menyalahkan keluargaku? Bukannya alasan kamu bekerja hanya untuk membantu perekonomian ibumu itu? Hanya untuk bebas di luar sana?" tuduh Dewa.
Tari menarik napas panjang, kemudian mendongak.
Wajah keduanya cukup dekat, dan Dewa bisa melihat, mutiara yang dulu sempat tertutup lumpur, sekarang kelihatan bersinar. Dari dekat Tari tampak glowing. Pipin cubby, dan bampernya yang kelihatan banyak muatan lemak, kok sekarang kelihatan menarik dan aduhai.
Dewa mencoba menjernihkan pikiran. Ia rasa sudah oleng. Karena istrinya kok kelihatan menarik, apalagi saat sekarang ini, mendongak menatapnya dengan marah, matanya lentik, bola matanya tajam dan cantik.
Dasar Dewa, mungkin juga masih ada rasa yang tersisa. Dewa langsung maju dan merengkuh pinggang istrinya.
__ADS_1
Waduh!
Kalian tim mana? Tim Rio apa Dewa?