
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 26
Oleh Sept
Tari dan keluarga kecilnya sedang menikmati sarapan buatan Tari. Ibel kelihatan senang karena ada sang papa di rumah. Sedangkan Tari, dia makan seperti biasa. Menikmati masakan yang ia buat. Lain dengan Dewa, laki-laki itu kelihatan banyak pikiran. Pasti gara-gara telepon tadi.
"Kenapa? Gak enak, Mas?" celetuk Tari.
Dari cara Tari menatap sang suami, kelihatan B saja. Padahal sebelumnya mereka LDR. Biasanya kalau ketemu pasti melepaskan rindu. Ini Tari malah merasa biasa saja.
Dewa pun makan, meskipun makanan Tari terasa hambar. Sebenarnya, bukan masakannya yang hambar, atau lidah Dewa yang mati rasa. Ini sebenarnya karena Dewa sedang stres. Banyak pikiran, bagaimana tidak, punya istri tapi dapat kabar selingkuhannya malah hamil.
Drett ... drettt ...
Ponsel Tari bergetar, wajah Tari langsung panik. Mungkin takut ketahuan. Buru-buru dia pamit ke belakang, lalu buka HP di dapur.
[Hari ini saya gak masuk, maaf Pak Rio. Ada urusan]
Bukannya telpon, Tari langsung WA. Mungkin takut ketahuan. Tari sudah mirip maling saja.
Rupanya begini rasanya main hati, uji adrenalin dan membuat was-was di setiap saat.
[OK]
Tari menghela napas saat membaca balasan dari Rio. Kemudian menyembunyikan ponselnya dalam saku. Cukup menegangkan juga, beginilah rasanya selingkuh diam-diam.
Dua manusia ini memang benar-benar sedang uji nyali, mereka berdua sudah berani bermain api. Entah siapa yang pertama kali terbakar duluan.
"Mama ..."
Tari melonjak kaget, tiba-tiba Ibel menyusul.
"Iya, Sayang."
"Mau coklat."
"Aduh, makan dulu. Coklatnya nanti."
Ibel langsung membuka kulkas, mengambil coklat yang kemarin dibelikan sang papa.
"Maem dulu ya, Ibel."
Anak kecil itu menggeleng, membuat poninya bergoyang.
"Mau ini duyu." Ibel langsung ngacir setelah mendapatkan makanan kesukaannya.
***
Saat Ibel sedang senang karena pesta coklat dan banyak oleh-oleh yang papanya bawa dari Singapura, kini papanya yang pusing. Beberapa kali dia mengecek HP. Banyak panggilan masuk, selain urusan pekerjaan, juga ada dari panggilan pribadi. Siapa lagi kalau bukan selingkuhannya.
Sampai akhirnya Dewa pura-pura ke teras rumah. Dan mengirim pesan pada wanita yang katanya hamil tersebut.
[Aku sedang bersama istriku. Jangan menghubungi selagi aku tidak menelpon!]
Dewa memijit pelipisnya, pusing tujuh keliling.
Di balik rasa pusing yang mendera Dewa, ada laki-laki yang duduk di meja kerjanya dan tersenyum puas.
Laki-laki itu adalah Rio, dia sedang berbicara dengan kaki tangannya.
__ADS_1
"Kamu yakin itu anaknya?" tanya Rio memastikan lagi.
Pria berjas hitam di depan Rio kemudian mengangguk.
"Benar, Tuan."
Seperti dapat jackpot, Rio seolah dapat golden ticket. Dewi Fortuna seakan mendukung penuh dirinya. Kabar kehamilan simpanan Dewa, membuat langkah Rio akan mulus.
"Selanjutnya apa yang harus kami lakukan, Tuan?"
"Tetap awasi, dan kumpulan banyak bukti. Jangan sampai lolos."
"Baik, Tuan."
Senyum jahat Rio langsung mencuat.
***
Kediaman Dewa.
Karena tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaan, Dewa akhirnya kembali. Banyak pikiran, sampai dia tidak fokus pada Tari. Entah mau kerja, entah mau apa. Yang penting Ibel baik-baik saja, Dewa pun balik Singapura lagi.
Ada drama sedikit, saat Ibel merajuk tidak mau ditinggal papanya.
"Nanti Papa pulang lagi, oke?"
Bibir ibel bergerak-gerak, mau menangis. Dan akhirnya tangisnya pecah, sampai Tari harus menggendong dan merayunya.
Setelah Dewa berangkat, Tari langsung merasa lega. Dan langsung ke luar rumah, ke mall untuk menghibur Ibel. Biar lupa dan tidak merajuk lagi.
Sore harinya, Tari pulang dengan banyak membawa kantong belanjaan. Ibel minta mainan banyak, sekalian Tari shopping. Kelihatan sekali Tari lepas saat belanja. Mungkin karena punya uang sendiri. Dan tidak usah laporan kalau uang bulana habis. Tidak perlu mendengarkan suami ngomel-ngomel lagi. Indahnya LDR, Tari merasa bebas dan lepas.
***
Malam harinya. Ibel sudah tidur, eh Rio video call. Mungkin Rio sudah tahu, kalau suami tari sudah balik.
"Sedang apa?" Wajah Rio terpampang di layar ponsel. Kelihatan ganteng.
"Mau tidur." Mau tidur tapi wajahnya sumringah.
"Ngantuk?"
"Belum."
"Ibel sudah tidur?" tanya Rio.
"Sudah."
"Oh."
Hening sesaat, mereka seperti ABG yang lagi PDKT.
"Tari ..."
"Ya."
Keduanya saling menatap walaupun lewat kamera ponsel.
"Ya sudah, istirahatlah. Besok datang pagi-pagi."
__ADS_1
"Iya."
"Aku tutup telponnya."
"Hem."
Setelah telpon mati, dua manusia itu senyum-senyum sendiri.
Tari rasa dia mulai gilaa, sedangkan Rio, dia merasa bersemangat. Sebentar lagi Tari ada dalam genggamannya.
***
Singapura. Di sebuah apartemen yang sepi.
"Aku gak mau! Aku mau mengandung anak ini."
"KAU SUDAH GILA!"
"Aku gak mau!" wanita itu mundur saat Dewa memberikan obat padanya.
"Minum ini!" sentak Dewa.
BLAKKK ..
Wanita itu menepis tangan Dewa, sampai obatnya jatuh.
Dewa yang emosional, langsung mencengkram erat rahang wanitanya. Kemudian meraih obat lagi, dan memaksa wanita itu untuk menelannya.
Uhuk ... uhuk
Wanita itu terbatuk sampai jatuh di lantai. Dan Dewa kelihatan kena mental, setres berat sampai memegangi kepalanya.
Setelah itu tersadar, setelah gelap mata barusan. Dewa jongkok di depan wanitanya, kemudian mendekap wanita itu dalam pelukannya.
"Harusnya, kau lakukan saja apa yang aku katakan!" gumam Dewa dengan tatapan kosong.
***
Jakarta.
Matahari sudah bersinar cerah, secerah wajah Rio yang menunggu kedatangan Tari di ruang kerjanya.
Tadi dia sudah menelpon, meminta Tari mengantar berkas fotocopy yang dia minta. Itu sebenarnya hanya modus. Ia sengaja meminta Tari ke ruang kerjanya, kemudian terjadilah hal-hal yang seperti sebelumnya.
Tok tok tok
"Masuk!"
Tari menarik napas dalam-dalam, kemudian membuka pintu. Baru masuk, Rio langsung menghampiri dan langsung merengkuh pinggang Tari.
Sarapan C + IUM untuk pagi yang cerah dan jantung yang bergemuruh.
Tari sudah terserang virus, ia terkontaminasi oleh lidah api yang membakar tubuhnya. Tanpa ia sadari, tubuhnya terlalu merespon. Apalagi saat tangan Rio mulai berani menyusup masuk.
"Rio ..." desis Tari lirih.
Kalau sudah begini, Rio pun ikut pusing. Kepala atas dan bawah ikut nyut-nyutan. Sampai-sampai harus melongar kan dasi segala.
"Ber cinta lah denganku ..." bisik Rio.
__ADS_1