Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Serangan Pertama


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 27


Oleh Sept


Mendengar ajakan Rio yang sangat berani itu, Tari reflek mencengkram bahu lelaki tersebut. Bisikan halus itu seperti tamparan yang langsung menyadarkan Tari.


Sembari menelan luda, Tari langsung merapikan bajunya. Membetulkan kancing bajunya yang sudah lepas beberapa.


Sementara itu, Rio pun tertegun. Melihat Tari yang langsung menarik diri, laki-laki itu pun mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Maafkan aku ... aku terbawa suasana," gumam Rio masih sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Tari menunduk, kemudian berjalan keluar dari ruangan. Setelah Tari keluar, Rio mendesis kesal. Kemudian membuang berkas di atas mejanya.


Hingga sampai sore, Rio dan Tari tidak bertemu. Adapun pekerjaan yang harus Tari selesaikan, ia menunggu ruangan Rio kosong baru dia masuk dan meletakkan tugas-tugasnya. Untuk saat ini, Tari mencoba menghindar dulu.


Sampai waktunya pulang, Tari sengaja bersembunyi. Dan Rio menyadari hal tersebut. Ia sadar, Tari kembali menjaga jarak.


Kalau sudah begini, Rio pun mengambil jalan pintas. Satu-satunya adalah memberikan segala bukti yang dia miliki. Agar mata Tari terbuka, dan berpisah dengan Dewa.


Dengan sorot mata yang tajam, Rio menelpon seseorang.


"Kirim semua bukti yang ada, segera!" titah Rio di telpon.


"Baik, Tuan."


"Langsung kirim ke alamat yang aku kirimkan!"


"Baik. Ada lagi, Tuan?"


"Pastikan dia melihatnya!"

__ADS_1


"Baik."


Tut tut tut


Rio mematikan ponselnya, kemudian menyimpan dalam saku jasnya. Masih dengan tatapan yang penuh ambisi, sepertinya ini jalan satu-satunya memiliki Tari.


***


Sedangkan Tari, dia pulang kerja dengan wajah murung. Sampai tiba di rumah ibunya, sang ibu bertanya dengan khawatir.


"Kamu sakit?"


Tari menggeleng, "Nggak, Bu."


"Jaga kesehatan."


"Hem. Ya, Bu."


Tari mengangguk tidak bersemangat. Setelah kejadian tadi di kantor, Tari memang jadi kepikiran terus. Ia merasa tidak ada bedanya dengan sang suami. Mendadak merasa risih sendiri.


Hingga malam tiba, Tari tidak bisa tidur. Ajakan Rio benar-benar meresakan, membuat Tari kepikiran terus.


"Apa aku serendah itu?" pikir Tari karena gampang sekali laki-laki mengajaknya tidur.


Tari menggeleng keras, menepuk pipinya, sambil berbaring dan melihat ponselnya yang sepi seperti kuburan. Biasanya Rio akan video call, tapi malam ini sepertinya absen. Mungkin gara-gara kejadian tadi pagi di kantor.


Tari pun menghela napas panjang, mengapa asmaranya menjadi sangat rumit begini?


***


Jam terus berputar, tidak terasa hari sudah pagi. Karena tidak punya baju ganti formal, pagi-pagi Tari pulang. Sementara Ibel masih tidur.

__ADS_1


"Tari titip Ibel lagi, ya Bu."


"Ya, sudah ... Kamu jangan khawatir."


"Tari pergi, Bu."


"Iya. Hati-hati."


Tari mengangguk lalu masuk mobil taksi online yang tadi sudah dipesan. Sepanjang perjalanan Tari malah melamun, entah apa yang sudah memenuhi isi kepalanya.


Saat sampai di rumah, suasana sekitar sangat sepi. Tari pun membuka pagar dan cukup kaget ada paket. Sebuah paket dibungkus rapi warna hitam. Perasaan dia tidak belanja online. Lalu milik siapa? Apa paket salah alamat?


Tari berjalan ragu, jangan-jangan paket aneh-aneh. Ia pun melihat siapa pengirimnya. Tidak ada, kosong tanpa nama. Ia pun tambah curiga.


"Punya siapa ini?"


Tari keluar dari pagar rumahnya, lalu melihat kanan kiri yang masih sepi.


"Paket apa ya? Hemm."


Penasaran, Tari duduk di teras. Ia kemudian membuka paket tersebut dengan tangan kosong karena tidak sulit dibuka.


Krekkk ...


Tari merobek bagian luar, dan mengeluarkan isi di dalamnya. Sebuah amplop coklat yang masih di lem. Tari makin penasaran, ia pun meletakan tasnya di atas meja di teras rumahnya, lalu membuka perekat pada amplop tersebut.


"Apa ini?" gumam Tari kemudian membalik kertas-kertas foto di tangannya.


Gambar pertama hanya foto laki-laki memeluk pinggang wanita dan kelihatan masuk ke sebuah apartemen.


Tidak kelihatan wajahnya, karena foto diambil diam-diam dari belakang. Namun, jantung Tari sudah berdegup kencang.

__ADS_1


Tari kemudian membuka lembaran foto yang lain. Kali ini terlihat tangannya bergetar, dan kertas-kertas itu jatuh berhamburan di bawa kakinya.


__ADS_2