
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 28
Oleh Sept
Tari sudah masuk ke dalam rumah, pagi itu harusnya dia berangkat kerja. Namun, gara-gara paket misterius yang dikirim ke rumahnya, Tari pun minta ijin pada Rio lewat telpon kalau tidak bisa kerja. Dengan alasan sakit.
"Maaf, Pak Rio. Hari ini saya kurang enak badan," ucap Tari di telepon.
"Ok."
Rio tidak banyak bertanya, dan sepertinya dia tahu. Umpan sudah dimakan oleh Tari.
"Terima kasih."
"Hem. Segera bekerja saat sudah sehat kembali," ucap Rio basa-basi.
"Baik, Pak."
Tari kemudian mematikan menggenggam ponselnya. Kemudian melihat ke meja. Tumpukan foto perselingkuhan Dewa dengan seorang wanita terpampang nyata.
Tari terlihat gamang, bingung harus bagaimana. Sampai akhirnya, dia menelpon Dewa untuk minta kejelasan. Walau sudah lama curiga, tapi kali buktinya sangat nyata.
Beberapa kali telepon, tapi tidak diangkat. Sampai Tari mengirim pesan singkat.
[Angkat telponnya, Mas. Penting]
Namun percuma karena yang ditelpon sedang tidur sambil memeluk wanitanya.
Setelah keributan yang terjadi, Dewa kembali berdamai. Dan menjanjikan apapun asal wanita itu mau melepaskan janin yang baru berusia beberapa minggu.
Keduanya masih terbuai oleh kesenangan duniawi, dan asal saling memuaskan, sepertinya tidak masalah.
Drett ... Drett ...
Wanita itu kemudian mengambil ponsel Dewa dan mematikannya.
"Siapa?" gumam Dewa sambil mengosok mata.
__ADS_1
"Istrimu," jawab wanita yang selalu pakai baju minim tersebut.
Ada nada benci saat dia menyebutkan kata istri. Mungkin ingin juga mempunyai status yang sama, bukan cuma wanita yang hanya disimpan dan disembunyikan dari publik.
"Mana HP nya!"
Dewa langsung duduk, kemudian menyalakan ponselnya yang sempat mati.
Hanya pakai segitiga biru, Dewa turun dan menjauh. Kemudian menelpon Tari.
"Ada apa?"
"Aku mau kita bicara."
"Bicara saja!" cetus Dewa. Sedangkan wanita di belakangnya sibuk menguping.
"Lebih baik kita bicara langsung," ucap Tari.
"Masalah apa? Apa tidak bisa dibicarakan di telpon? Aku sangat sibuk."
Tari memejamkan mata, kemudian membuka matanya dan melirik foto Dewa yang berpose sangat intens dengan lawan jenis.
"Aku mau cerai ..."
Kata itu akhirnya meletus dari bibir Tari. Mungkin karena ada yang baru, sampai dia berani mengatakan kata cerai.
"Apa maksudmu?" Terdengar suara Dewa yang keras. Bangun tidur istrinya minta cerai, ada-ada saja. Siapa yang tidak kaget?
"Aku tahu, Mas tinggal dengan wanita lain di sana," gumam Tari.
Seketika Dewa menoleh. Dia melihat ke belakang, di mana wanita yang dimaksud Tari sedang berdiri lalu mengelayut padanya. Reflek Dewa langsung menepis dan kembali menjauh.
"Apa yang kau katakan?" omel Dewa.
"Aku sudah tahu, Mas. Aku tahu semuanya."
"Cukup. Jangan bicara ngelantur!" sentak Dewa yang ketahuan.
__ADS_1
"Terserah Mas mau mengaku apa tidak, aku mau berpisah."
"Tari! Baru beberapa saat bekerja, kau mulai ngelunjak dan minta cerai?"
"Aku juga mau hak asuh Ibel," tambah Tari menegaskan.
Mata Dewa langsung melotot.
"Kita bicara saat aku pulang!"
Tut tut tut
Dewa langsung mematikan ponselnya. Jika dia tidak cinta, harusnya mudah menceraikan Tari. Namun, entahlah. Dia masih belum mau menceraikan istrinya itu.
"Jangan-jangan dia selingkuh ... mungkin benar apa kata ibu. Sampai dia berani minta cerai," gerutu Dewa seolah makhluk paling benar sendiri.
"Jangan begitu!" sentak Dewa kasar saat tangan wanitanya bergerilya. Dewa saat ini tidak mood gara-gara Tari berani minta cerai.
***
Sementara itu, di kediaman Dewa yang ada di Jakarta. Ada Tari yang memasukkan segala bukti perselingkuhan sang suami.
Ia menyimpannya di dalam lemari, kemudian menelpon sahabatnya. Tidak enak bicara di telepon. Tari kemudian datang ke klinik kecantikan milik Mia.
Di sana Mia langsung menggurui Tari, menghina Tari karena sudah sangat bo+doh selama ini.
"Harusnya kamu belajar dari aku. Laki-laki ... kalau udah selingkuh sekali, bakalan susah sembuh. Kamu mau sampai kena penyakit K? Hemm? Dia bebas masuk keluar goa, kamu gak takut bakal ketularan? Yang cerdas Tari! Jangan gara-gara mikirin anak, kamu yang jadi korban."
Tari diam saja, tadi dia cerita panjang lebar. Baru masalah Dewa, belum cerita kalau dia juga main hati.
"Mia ... sepertinya aku juga salah."
"Salah apa? No! Suamimu melirik wanita lain, bukan karena kamu. Tapi memang burungnya saja yang gatal!"
"Aku juga suka pria lain," potong Tari sangat jujur dan polos. Seketika Mia terdiam.
Suasana langsung hening, dan Mia memperhatikan sekeliling.
__ADS_1
"Cerai dulu," ucap Mia lirih, seperti tidak terkejut.
Sampai Tari mendongak menatap heran pada temannya itu. Reaksi Mia kelewat biasa.