
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 44
Oleh Sept
"Rio, kamu sudah janji kan?" Tari mengingatkan Rio kembali.
"Kita sudah sama-sama dewasa, Tari. Dan kita juga tidak sedang terikat dengan hubungan apapun," ujar Rio dengan kondisi sadar sesadarnya.
Tari menggeleng, "Nggak ... Rio. Ini gak bener."
Tari jelas menolak, dia jadi ingat wanita yang datang ke rumah Rio tempo hari. Datang bersama anak, entah anak Rio apa bukan. Bisa saja kalau Rio sudah bosan dengannya, nanti dia juga akan mengalami hal yang sama. Maka dengan tegas Tari menolak ajakan Rio untuk check-in.
"Maaf, Rio ... aku ga bisa."
Rio menghela napas panjang. Tari benar-benar wanita yang susah diajak tidur bersama. Dari jaman masih polos, minim make up, sampai se glowing ini, benar-benar sulit ditaklukan. Namun, itulah yang menantang. Kalau mudah diajak tidur sejak awal, sudah pasti dia menyerah. Tidak akan mengejar-ngejar Tari seperti saat ini.
Mobil pun melaju meninggalkan area hotel, keduanya akhirnya mampir ke rumah ibunya Tari. Di sana calon mertua menyambut dengan hangat. Mungkin karena Rio banyak plusnya. Kaya dan tambah, terus kelihatan baik. Jadi camer mana yang tidak suka?
Padahal setiap orang pasti ada sisi baik dan buruknya, kebetulan saja yang terlihat saat ini hanya kebaikan Rio saja. Baru tampak baik-baiknya, yang jelek masih tersembunyi sangat rapi.
Ketika Tari menyiapkan minuman di dapur, ibunya menyusul, kemudian bertanya tentang cucunya.
"Ibel bagaimana?"
Tari menggeleng.
"Masih ada sama keluarga mas Dewa, Bu. Mereka tidak mengijinkan dan tidak memberi akses Tari untuk ketemu Ibel," ucap Tari.
"Dasar mereka, kenapa egois sekali? Ibel kan kamu yang melahirkan?"
__ADS_1
Tari hanya diam, beginilah perceraian. Yang jadi korban selalu anak. Apalagi keluarga mantan suaminya sangat membenci Tari sekarang. Sudah pasti Ibel disembunyikan. Belum lagi Dewa yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Sejak peristiwa itu, Dewa seperti tidak ada di dunia ini. Bahkan nomornya pun tidak aktif. Dan sosial media pria itu pun dibekukan. Ke mana dia? Kadang Tari curiga pada satu orang, siapa lagi kalau bukan Rio. Karena pria itu bisa melakukan apa saja.
"Sudahlah, Bu ... Tari juga capek. Tari bahkan pernah menunggu seharian di rumah ibunya mas Dewa. Tapi mereka tidak mau membuka pintu. Dan sepertinya Ibel juga gak di sana."
"Ya ampun Tari, kasian cucu Ibu ..."
Resiko cerai, Tari susah bertemu anaknya itu. Keluarga mantan suami membatasi. Semuanya egois, mementingkan diri sendiri, tidak memikirkan tumbuh kembang si kecil Ibel.
***
"Bagaimana? Enak masakan Ibu?"
Rio mengangguk, ia makan masakan camer. Meskipun tidak pas dengan selera lidahnya.
Tari kemudian mencoba, dan terasa pedas.
"Masak?" tanya ibunya Tari.
"Gak, Bu. Masih level aman," kata Rio.
Pulang dari rumah camer, Rio harus bolak-balik ke kamar mandi. Pria itu lambungnya seperti dicuci, jadi harus bolak-balik sampai lemes.
"Kalau gak bisa makan pedas, gak usah dimakan," omel Tari sambil melipat tangan di depan Rio yang KO.
"Biasanya gak apa-apa. Lagian gak enak, nanti ibumu tersinggung aku gak makan."
"Bukan begitu konsepnya, ini sama saja kamu nyakitin diri kamu sendiri," gerutu Tari.
__ADS_1
Meskipun perutnya sakit, Rio malah tersenyum. Tari sekarang mulai mencair, tidak canggung lagi. Bahkan pinter ngomel-ngomel seperti emak-emak. Entah mengapa, Rio justru suka dimarahi seperti itu.
"Sekarang bagaimana? Obat lagi?"
"Gak lah, dan minum banyak. Memangnya aku sakit apaan?"
"Besok makan pedes lagi ya?" sindir Tari.
"Of course, kalau kamu yang masak ... apapun itu akan aku makan," ucap Rio. Gombal, Tari tidak percaya. PRETT!
"Mau ke mana ... sini, temani aku," kata Rio saat melihat Tari berbalik akan pergi.
Tari pun bersandar pada bagu bidang itu, bahu yang membuatnya merasa nyaman, meskipun kadang mengandung misteri.
"Rio ..."
"Hemm."
"Aku kangen Ibel."
Rio diam sejenak.
"Apa kamu mau aku membawa Ibel dengan paksa dengan orang-orangku?"
Tari langsung menggeleng.
"Jangan! Nanti Ibel trauma. Sudahlah, semoga Ibel bisa bertemu dan berkumpul dengan kita lagi."
Rio hanya diam, dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
***
Di sebuah gudang tua, seorang pria diikat dengan wajah yang lebam.