Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
SAH


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 47


Oleh Sept


"Ibel ..."


Tari meletakkan bucket bunga miliknya, kemudian langsung memeluk putrinya itu. Sedangkan di sana juga ada Dewa yang wajah dan lengannya banyak bekas luka.


"Kamu akan menyesal jika menikahi laki-laki tersebut, ini ambil. Semuanya selesai, aku dan Ibel akan pergi. Mungkin ini terakhir kalinya kamu melihat Ibel."


Dewa memberikan sebuah memori card dan juga sebuah flashdisk.


"Aku hanya ingin mengingatkan, pilih laki-laki yang memang menyukaimu apa adanya!" ucap Dewa sekali lagi dan langsung mengambil Ibel dalam gendongan Tari. Jelas Tari tidak mau. Dia mempererat pelukannya.


"Mama ..." Ibel menangis.


"Ibel! Ikut Papa!" ujar Dewa lalu merebut paksa.


Dewa berhasil mengendong Ibel dan beberapa orang di sana hanya melihat saja. Mungkin juga tidak mau ikut campur, karena itu urusan keluarga.


"Ibel!"


Tari mengejar dengan gaun pengantin yang ia kenakan, sedangkan Dewa, laki-laki itu sudah masuk mobil.


Tari mengendor kaca mobil, tapi tidak dihiraukan.


"Mas ... Mas!" panggil Tari berkali-kali.


Mbermmm ...

__ADS_1


Mobil putih itu langsung jalan, dan Tari mengejar di belakang. Tari terus berlari, dengan tanpa alas kaki. Bayangan tangisan Ibel, membuatnya tidak mau melepaskan mobil itu. Untuk apa dia menikah lagi? Kalau akhirnya Ibel harus pergi darinya?


Selama ini, kehidupan sempurna bersama Rio nyatanya ilusi semata. Kebahagiaan itu tidak benar-benar ada. Dia hanya ingin memperlihatkan dan membuktikan pada mereka, kalau bisa mendapatkan laki-laki lebih dari Dewa.


Tapi apa, setelah ia mendapatkan semuanya. Kemewahan, kesempurnaan, jika tanpa buah hatinya, semuanya hampa.


"Ibel ..."


Dia tetap mengejar seperti orang gilaa, sampai sebuah mobil berhenti tepat di depannya.


CHITTT ...


"KAU SUDAH GILAA!" sentak laki-laki tersebut sambil menarik tangan Tari dengan kasar.


"Ibel ..."


"Sudah aku bilang, percaya padaku ... akan aku usahakan untuk anakmu itu," ujar teh Rio dengan wajah merah padam.


Tari menggeleng, entah di dunia ini kepada siapa dia bisa percaya.


"Dengarkan aku!" Rio menegang kuat kedua bahu Tari sampai wanita itu menatapnya.


"Kau mau Ibel? Oke. Aku berjanji. Pegang kata-kataku. Setelah kita menikah, aku berikan Ibel padamu."


Teri menggeleng. Memangnya Rio siapa berani bersumpah. Ibel sedang di bawa papanya, dan itu ayah biologisnya.


"Sadar Tari! Kita sudah membicarakan hal ini berkali-kali. Jangan lemah, Dewa hanya ingin menghancurkan kebahagiaanmu."


Tari rasanya lemas, apalagi saat melihat mobil Dewa sudah hilang di ujung jalan. Hari bahagianya mungkin sudah lewat, tidak ada yang namanya bahagia.

__ADS_1


***


Tari seperti orang linglung, dia kembali ke rumah dan kini barang yang diberikan Dewa sudah ada di tangannya. Tari lalu membakarnya di atas asbak, kemudian menatap kosong pada abu yang tersisa.


Lalu bagaimana dengan pernikahan? Ternyata tetap dilakukan. Meskipun wajah pengantin sudah tidak seperti sebelumnya. Ada rona sendu dalam pancaran wajahnya.


Ketika kata Sah menggema hanya di depan segelintir orang tersebut, terselip rasa kepuasan tersendiri bagi Rio. Walau wajah pengantin perempuan muram kala itu.


Tari pun langsung dibawa ke sebuah rumah, di mana dia akan menjadi nyonya besar di sana.


"Kamu istirahat saja, sepertinya sangat lelah," kata Rio setelah melihat wajah istrinya yang tanpa senyum tersebut. Ini gara-gara Dewa. Rio pun menelpon anak buahnya. Meminta mereka memburu laki-laki itu.


Setelah selesai bicara di telpon, dia pin menatap lantai atas. Kemudian menyusul Tari.


KLEK


Pintunya dikunci.


Tok tok tok


"Tari ..."


Rio menatap sekeliling, lalu mengetuk lagi.


"Tari ... Sayang!"


Cukup lama pintunya tidak dibuka, Rio pun langsung turun dan mengambil kunci cadangan.


KLEK

__ADS_1


__ADS_2