
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 33
Oleh Sept
Nasib apes bagi Tari, mungkin ini akan menjadi puncak kemarahan sang suami. Sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan, sesuatu yang membuat mata lelaki itu memerah karena menahan amarah.
"Katakan padaku! Siapa laki-laki kurang ajar itu?"
Dewa mencengkram rahang Tari cukup keras, sampai mamanya Ibel tersebut meringis sakit.
"M ... Mas."
"Berani sekali kau selingkuh di belakangku?" Dewa sangat marah. Ia melepaskan tangannya dan mendorong Tari cukup keras.
Dengan emosi yang tidak terkontrol, Dewa yang selama ini acuh terhadap telepon seluler milik sang istri, saat itu langsung mencari keberadaan benda pintar tersebut.
Tari melotot melihat ponsel sudah pindah tangan. Benda pintar dan pipih itu kini berada dalam kuasa Dewa. Pria itu mencoba membuka layar, tapi tertutup sandi.
"Katakan betapa sandinya!" sentak Dewa dengan arogan.
Tari tidak mau menjawab, dia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan laki-laki itu. Lagian, suaminya jauh lebih para. Tari pernah melihat suaminya menyimpan foto-foto wanita dalam ponsel Dewa. Begitu juga di laptop lelaki tersebut, Dewa tidak lebih suci dan bersih daripada dirinya. Jadi mereka sebenarnya sama saja.
"Cepat katakan!" bentak Dewa cukup keras.
"Kembalikan hpku!" Tari mulai berontak. Ia mau merebut paksa Hpnya, tapi Dewa langsung menyembunyikan di balik punggungnya.
"Kau berani padaku sekarang? Hem?"
Dewa mencengkram lengan Tari dengan keras, dan Tari mencoba melepaskan diri. Keduanya terlibat cekcok mulut dan juga sedikit adu fisik.
"Aku mau cerai!" teriak Tari saat Dewa tidak melepaskan cengkraman tangannya.
__ADS_1
"Tutup mulutmu!" ujar Dewa.
Dari jauh, samar-samar terdengar suara isakan Ibel. Anak itu rupanya terbangun dan menangis melihat orang tuanya ribut.
Tari langsung menepis tangan suaminya, kemudian merapikan kancing baju dan mendekati Ibel. Namun, sayang sekali. Tiba-tiba Dewa muncul dari belakang kemudian menepis tubuh Tari.
"Mas!"
Ibel sudah berada dalam gendongan Dewa, pria pergi ke kamar anak kemudian menutup pintunya dari dalam.
Tari jelas panik, ia mengendor pintu agar dibuka. Karena tidak lama kemudian terdengar suara tangis Ibel.
"Mama ... Mama."
"Ibel! Diam!" sentak Dewa.
"MAMA ..."
Dewa yang pikirannya sudah tidak beres, dia langsung melotot tajam. Baru kali ini Ibel melihat papanya marah. Dan dia kelihatan amat takut sekali.
Sedangkan Dewa, dia berkaca pinggang. Mondar-mandir di dalam kamar.
"Siapa pria brengkes itu?" gumam Dewa yang masih emosi.
Tari terduduk di depan pintu kamar, me'nekuk kakinya dan menunggu Dewa keluar membuka pintu.
Malam itu, Ibel kembali tidur dengan mata yang sembab. Ia tidur di sebelah papannya. Sementara Tari, wanita itu tertidur di sofa.
***
Tok tok tok
__ADS_1
"Mas ... Mas."
Tari terbangun dan mengetuk pintu kamar lagi.
KLEK
Dewa terbangun, tapi langsung menutup pintunya sebelum Tari memeriksa masuk ke dalam.
"Mas, kenapa melarangku masuk? Aku ibunya!"
"Kau mau cerai, kan? Tinggalkan rumah ini."
Tari menelan ludah.
"Aku mau Ibel."
Dewa mencebik. Kemudian menyimpan kunci dalam sakunya.
"Mas! Mas Dewa gak bisa begini! Aku yang melahirkan Ibel, aku yang merawatnya selama ini!"
"Cukup! Tidak usah banyak bicara! Kau mau cerai? Kau tidak sebaik seperti apa yang aku pikirkan. Aku juga sudah muak, apalagi kau sudah tidak punya harga diri."
Tari tersentak, tapi apa yang dikatakan Dewa benar. Gara-gara Rio yang meninggalkan bekas kecupan di sekitar lehernya. Masalah ini pun menjadi sangat panjang.
"Apa aku mengenal laki-laki brengsekkk itu?"
Tari langsung membuang muka.
Drettt ... drett ..
Ponsel Tari bergetar, dengan cepat Dewa langsung mengambil smartphone tersebut. Tari melotot melihat suaminya yang mengangkat telpon miliknya.
__ADS_1
Untuk sesaat, Dewa menempelkan ponsel itu ke telinga, kemudian mengatakan sesuatu pada orang yang menelpon.
"Datang ke sini, Brengsekkk!"