Bukan Salahku, Indahnya Reuni

Bukan Salahku, Indahnya Reuni
Di Setiap Ada Kamu ... Aku ingin


__ADS_3

Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 38


Oleh Sept


Pernah jatuh cinta terlalu dalam dan dikecewakan, bukan hal mudah bagi Tari untuk percaya pada laki-laki sepenuh hati. Sulit baginya percaya lagi pada yang namanya kaum Adam. Meskipun ia merasa nyaman di sisi Rio, bukan berarti dia juga jatuh cinta pada laki-laki tersebut.


Tari mungkin sedang dalam fase nyaman, ketika berhasil lepas pada hubungan yang cukup membuatnya menderita batin. Kini ia dihadapkan pada sosok sempurna seperti Rio. Laki-laki yang entah bagaimana bisa menyukai sosok Tari.


"Kenapa tidak menjawab?" bisik Rio lembut.


Rupanya laki-laki itu sedang menunggu cintanya dibalas. Sedangkan Tari, dia hanya bisa menunduk.


"Apa kamu malu?" tanya Rio yang kemudian mengangkat dagu Tari, agar wajah itu menatap padanya. Dan Rio bisa melihat mata indah dengan bibir yang cukup membuatnya tergoda.


Tari mengatupkan bibirnya, mengerjap sekali, lalu mencoba untuk tersenyum. Dan Rio sadar, senyum itu terkesan dipaksakan.


"Kamu kenapa? Apa masih kepikiran Ibel? Bukankah sudah aku bilang, pengacaraku akan mengurus semuanya. Kamu tidak perlu mencemaskan anak mu itu."


Mana mungkin Tari bisa sesantai itu, Rio begitu karena mungkin Ibel bukan anak kandungnya. Dan sebagai seorang ibu, pasti hati Tari masih kepikiran anaknya terus.


"Percayalah padaku ... oke?" kata Rio lagi. Ia tidak suka melihat keraguan dan kesedihan di mata itu.


Tari pun mengangguk, kemudian membalas pelukan Rio.


***


Rio bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia mencari pengacara terbaik, sampai membentuk tim pengacara yang dijamin pasti memenangkan kasus. Tidak peduli keluar berapa pun, Rio hanya ingin perceraian itu berjalan mulus dan mendapatkan hak atas anak dari pernikahan Tari dan Dewa tersebut.


Tari masih tinggal di apartemen, sesekali dia menelpon ibunya. Bukannya melarang kabur dari rumah, ibunya seolah mendukung keputusan Tari.


Hari-hari Tari berlalu begitu saja, ada rasa kosong ketika dia merindukan celotehan Ibel yang mengemaskan. Karena keadaan, ingin lepas dari hubungan toxic dengan sang suami, kini anak jadi korban.


Kehadiran Rio memang membuatnya bahagia, tapi nyatanya kadang dia merasa hampa. Sampai beberapa minggu kemudian, Tari keluar apartemen diam-diam ketika Rio sedang di kantor.

__ADS_1


Dengan naik taksi, Tari pergi ke rumahnya dengan Dewa dulu. Hatinya kecewa, saat rumah digembok dari luar. Artinya rumah itu sudah kosong.


Tari mengintip tanaman di depan teras, semuanya layu, mati dan mulai gugur daunnya.


"Di mana kamu sayang," gumam Tari.


Inilah konsekuensinya, jika dia menggugat cerai Dewa, maka dia harus siap-siap dipisahkan dengan Ibel.


***


Apartemen


"Tari! Tari!" Rio mencari keberadaan Tari di seluruh ruangan. Namun, wanita itu tidak ada di mana-mana. Sampai Rio memeriksa CCTV yang tersambung pada ponselnya.


Lelaki itu menghela napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya dan membuat rambutnya yang klimis mleyot karena ia usap dengan kasar.


"Ke mana kamu, Tari?"


Rio kemudian bergegas keluar untuk turun ke bawah, sore itu hujan sangat deras. Beberapa kali petir terdengar menyambar berulang.


Beberapa kali dia merutuk, kenapa Tari harus pergi? Sampai akhirnya pintu lift terbuka perlahan, dan Rio pun langsung masuk.


Sambil menunggu pintu lift terbuka, Rio menatap jam tangannya. Hari semakin gelap, sedangkan dia tidak tahu Tari ada di mana.


Setelah pintu lift terbuka sempurna, Rio langsung bergegas lari, sampai lobby matanya menatap sekeliling. Seorang wanita dengan baju basah berjalan dengan pandangan menatap ke bawah.


Rio seketika melepaskan kancing jas yang ia kenakan, kemudian berlari dan menutupi punggung Tari dengan jas miliknya.


"Kenapa kamu tidak mendengarkan aku?"


Tari malah terisak. Tubuhnya sudah menggigil karena kehujanan. Rio pun tidak jadi marah, malah langsung membopong Tari yang tubuhnya agak Gemoy tersebut.


Tari melingkar lengannya karena takut jatuh, padahal dia sedih, tapi masih memikirkan takut jatuh.

__ADS_1


***


Tiba di unit apartemen mewah milik Rio, pria itu menurunkan Tari di sofa, kemudian mengambil handuk dan mengusap rambut Tari yang basah.


"Kenapa tidak berteduh, sudah tahu hujan!" Rio mulai ngomel. Bukan karena ia marah, ini karena dia khawatir.


"Lihat! Bahkan pakaian dalam mu kelihatan sangat jelas. Kamu mau menggoda siapa? Hem?"


Tari mengangkat wajahnya, menatap Rio dengan tatapan seperti kucing kecil tanpa dosa.


"Jangan menatapku seperti itu. Kamu pikir dengan begitu aku tidak akan marah?"


Tari menggeleng.


"Ya sudah. Mandilah."


Rio kemudian mundur, siap memberikan jalan untuk wanita tersebut.


"Kenapa lagi? Apa mau mandi sekalian?"


Buru-buru Tari bergegas, kalau Rio sudah menggoda, maka Tari sendiri yang akan kelimpungan. Jarang dibelai, Tari ini gampang panas.


Melihat gelagat Tari, Rio pun tersenyum puas.


***


Tari keluar dari kamar mandi, ia hanya pakai bathrobe karena tadi langsung masuk belum ambil baju ganti.


Wanita itu jalan santai di sekitar Rio, tidak tahu kalau Rio terus saja mempertahankan dirinya dengan intens.


Tari pikir Rio sedang fokus pada laptop. Karena pria itu memang sedang memangku laptop. Namun, tiba-tiba Tari melihat pantulan Rio dari kaca di sebelahnya. Lelaki itu tiba-tiba beranjak dan kini sudah berada di belakang tubuhnya.


"Rio," gumam Tari yang kaget karena tangan Rio sudah berada di pinggangnya.

__ADS_1


"Tidak bisa kah kita melakukannya sekarang ...?"


__ADS_2