Bulan Biru

Bulan Biru
racun


__ADS_3

"Nefertar bangun lah, aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya" ujar Zhu Chun sambil menangis tersedu- sedu.


"yang mulia, nona adalah wanita yang kuat. Jadi dia tidak akan semudah itu menyerah akan rasa sakit dari racun itu" ujar pelayan setiaku Molly.


"benar yang mulia Zhu Chun, kak Nefertari tidak akan menyerah begitu saja pada racun itu. Tubuh kakak hanya sedang pemulihan saja" ujar Riuyu.


Aku sadar setelah tiga hari berlalu, Zhu Chun selalu menunggu dan merawatku di sampingku. Dan saat diriku sadar, dialah orang pertama yang aku temui. Dia tertidur dengan pulas dan tenang , sedangkan Molly tidur di pojok ruangan diatas kursi panjang. Aku membelai kepalanya dengan lembut, berharap tidak membangunkan dia dari tidurnya. Namun dia tetap merasakan sentuhan lembutku, dan saat terbangun dia langsung memelukku. Tangis bahagia tersirat diwajahnya, Molly yang menyadari itu segera keluar ruangan dan memberitahu semua orang bahwa aku telah sadar.


" ibu ...... Kau sudah sadar, aku merindukanmu bu" ujar Ling Yuin seraya duduk di pangkuanku.


"jika ibu mati, aku akan ikut ibu. Karena tidak akan ada yang bisa sesabar ibu dalam menanganiku" ujar Morokey.


"kalian ini ya, ibu baru tidak sadar sebentar saja kalian sudah rindu" ujarku.

__ADS_1


"Nefertari, kau sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari" kata Zhu Chun.


"sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi" ujarku


Aku meminta izin untuk keluar kamar, aku merasa bosan bila setiap hari harus di dalam ruangan. Namun saat aku keluar harus di temani oleh Zhu Chun, pengawasan ketat diberikan untukku. Mereka khawatir jika tiba- tiba ada yang menyerangku lagi.


Morokey dan Ling Yuin berlatih bersama Lie dan Riuyu, karena kondisiku yang belum pulih seutuhnya. Hal itu membuatku lebih dekat dengan Zhu Chun, dia memberiku kehangatan yang aku dambakan selama ini.


"aku tidak apa- apa, aku hanya ingin menhabiskan waktu bersamamu" ujarku.


Tanpa bertanya lagi, dia menggendong tubuhku yang mungil ke kamar agar aku bisa beristirahat. Dia mungkin tahu bahwa racun yang ada dalam tubuhku kambuh lagi, oleh karena itu dia langsung memanggil ayahanda dan ibunda.


"putriku ..... Kau harus bertahan nak, ayah akan menyembuhkanmu dari sakit ini" ujar ayah menyakinkan.

__ADS_1


"aku selalu percaya pada ayah" ujarku sambil tersenyum.


"Lie ..... Bawa anak- anak keluar, jangan biarkan mereka melihat ini semua" ujarku lagi.


"ibu aku ingin menemanimu, jangan pergi bu" ujar Ling sambil menangis.


Baru kali ini dia meneteskan air mata, sebelumnya dia adalah anak yang tegar dan tenang dalam segala keadaan. Dalam hatiku terus bertanya "apakah ini akhir dari kehidupanku ?".


"Dewa ...... Jika di izinkan, biarkan aku hidup sesaat agar aku bisa menjaga mereka yang aku cinta" ujarku dalam hati.


Tanpa kusadari, air mataku juga jatuh. Bertepatan dengan hujan derah mengguyur bumi, seperti ikut merasakan kesedihan diujung mautku. Zhu Chun yang duduk di sampingku selalu menatapku penuh harap, dia mencoba terlihat tegar dihadapanku walau aku tahu ada rasa takut kehilangan dihatinya.


"Semua akan aku lakukan untukmu dewiku, walau nyawa yang menjadi taruhanya tetap akan alu lakukan demi dirimu" ujar Zhu Chun yang terus menggenggam tanganku dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2