
Seumur hidup, baru kali ini Bunga masuk ke dalam sebuah butik di pusat pertokoan kota Semarang. Interior butik yang berdesain Eropa klasik begitu elegan. Begitu pun pakaian-pakaian yang dijual di sana.
"Harga gaun ini mahal," ucap seorang penjaga butik pada Bunga saat gadis itu sedang memeriksa sebuah gaun terusan berwarna hijau setinggi lutut, dengan sabuk besar di pinggang. Ia seorang perempuan berumur tiga puluhan, berkulit putih dan berambut merah.
"Mahal sekali?" tanya Bunga.
"Ja, mahal sekali," tegas si penjaga butik sambil memandang remeh pada Bunga. "Tapi, Meneer Janssen yang akan membayar untukmu, bukan?" Ia mengalihkan pandang pada Jacob yang sedang melihat-lihat pakaian pria.
"Sepertinya iya."
Perempuan itu mencibir. "Kamu beruntung."
Bunga mengerutkan keningnya. Sebelum menjawab ucapan si penjaga butik, Jacob keburu datang menghampirinya.
"Alstublieft (Silahkan), Meneer Janssen," ucap si penjaga butik dengan ramah.
"Sudah ketemu bajunya?" tanya Jacob pada Bunga.
"Mungkin yang ini." Bunga menunjukkan pakaian yang dipilihnya.
"Oh, bagus. Kamu mau coba dulu?" tawar Jacob.
Bunga mengangguk. Ia lalu mengalihkan pandang pada si penjaga butik. Perempuan itu menunjuk sebuah bilik yang pintunya hanya ditutup oleh kain hitam.
"Anda hebat sekali, Meneer Janssen. Masih bagitu muda, tapi sudah memiliki Nyai," ucap penjaga butik begitu Bunga masuk ke dalam bilik.
"Dia bukan Nyai. Dia teman sekolahku," terang Jacob dengan bangganya.
"Owh, benarkah?" Si penjaga butik mengangguk-angguk. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dirinya sedikit terkejut.
"Dia termasuk murid yang cerdas. Dia bahkan lebih cerdas dari aku."
Perempuan itu kembali menunjukkan ekspresi keterkejutan di wajahnya. Jika ucapan Jacob benar, maka hal itu membuatnya heran. Seorang pribumi bisa masuk ke sekolah elite, dengan otak yang cerdas pula. Rasanya hal itu sangat mustahil.
__ADS_1
"Banyak orang pribumi yang cerdas. Asal anda tahu," ucap Jacob seakan-akan bisa membaca isi kepala si penjaga butik.
"Oh, ya?"
"Tentu saja iya. Ras bukan ukuran seseorang itu cerdas atau bodoh."
"Rasanya sulit untuk dipercaya," kekeh perempuan itu. "Kita tahu sendiri mereka itu ... primitif." Ia memelankan suaranya, lalu terkikik sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan.
"Orang primitif adalah orang yang menganggap orang lain primitif, Nona Meijer," timpal Jacob, membuat senyum perempuan yang dipanggil dengan nama Nona Meijer itu sirna.
Sementara di dalam bilik, Bunga tersenyum miring mendengarkan pembicaraan Jacob dan si penjaga butik. Jacob selalu membelanya dari orang-orang yang ingin merendahkannya. Terkadang hal itu membuat Bunga terharu.
"Bagaimana?" tanya Bunga saat keluar dari bilik. Dagunya ia angkat untuk memberi kesan elegan. Terutama di depan Nona Meijer yang menganggapnya orang primitif.
Mata Jacob membulat sempurna. Gaun berwarna hijau tanpa lengan itu begitu pas membalut tubuh Bunga. Meskipun tanpa riasan wajah, gadis itu sudah terlihat begitu cantik.
"Perfect (sempurna)." Untuk beberapa saat, sahabatnya itu membuat Jacob terpana. "Tinggal memilih sepatu," ucapnya kemudian sambil berdehem melicinkan tenggorokannya.
***
Bunga terkejut bukan main saat menyelinap ke dapur dan melangkah pelan sambil berjinjit menuju pintu belakang. Meskipun ia lega, orang yang memergokinya adalah Mbok Pai.
Gadis itu menempelkan jari telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan perempuan tua itu untuk diam. "Aku mau ke pesta keluarga Janssen," bisiknya.
Mbok Pai membulatkan mata. "Ojo aneh-aneh to, Nduk (Jangan aneh-aneh, Nak)!"
"Ssssttt!" desis Bunga. "Pelan-pelan bicaranya, Mbok, nanti Bapak dan Ibu dengar." Bunga panik saat Mbok Pai bersuara sedikit keras.
"Kamu mau ke rumah keluarga Janssen? Mau ikut pesta?" tanya Mbok Pai sambil memelankan suaranya.
"Iya. Sudah, ya, Mbok. Aku sudah terlambat." Bunga mendorong pintu kayu di depannya dan menyelinap keluar. Tetapi, sejurus kemudian, kepalanya menyembul dari balik pintu.
"Mbok Pai diam, ya," ancam Bunga pada pembantunya.
__ADS_1
Kalau saja bukan karena Jacob yang memohon dirinya untuk datang ke pesta, tentu Bunga tidak mau mengambil resiko untuk keluar rumah malam-malam secara sembunyi-sembunyi seperti ini.
Sebabnya, dulu, pernah satu kali dirinya kepergok sang ayah menyelinap keluar malam-malam untuk menemani Jacob berburu jangkrik sawah.
Larut malam ia pulang dengan pakaian penuh lumpur, dan ayahnya yang kebetulan sedang terbangun, memergokinya masuk dari pintu belakang. Bunga pun dikurung selama dua minggu di dalam kamar sebagai hukuman.
Bunga berjalan cepat menelusuri jalanan setapak dari arah rumahnya menuju jalan raya. Sebenarnya rumah Jacob tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan kendaraan. Tetapi, jika harus berjalan kaki seperti ini, maka akan cukup melelahkan.
Ia menutupi kepala dan gaun yang ia kenakan dengan kain rajut. Selain untuk berjaga-jaga jika ia berpapasan dengan seseorang yang mungkin mengenalnya, juga untuk menghalau udara dingin malam itu.
Beruntung, ia hanya berpapasan dengan beberapa kereta kuda pengangkut barang dan kusirnya tidak terlalu memperhatikannya.
Bunga sampai di depan pintu gerbang rumah besar bercat putih. Ia melongok dari balik gerbang yang sedikit terbuka. Suasana di dalam sepertinya sudah ramai. Ia bisa melihat orang-orang keluar masuk pintu utama. Semuanya orang-orang kulit putih. Bunga belum melihat satupun orang pribumi yang menghadiri pesta itu.
"Hei! Kamu!"
Panggilan itu berasal dari halaman rumah sebelah samping. Seorang perempuan kulit putih paruh baya berjalan ke arahnya dengan wajah garang.
"Kamu yang menggantikan Mbok Konah, kan? Ayo, cepat. Kamu terlambat. Pestanya sudah dimulai!"
"Bukan! Aku bukan ...."
Perempuan itu tidak memedulikan ucapan Bunga. Ia menarik lengan gadis itu dan menyeretnya ke samping bangunan rumah megah itu.
"Kenapa memakai pakaian seperti ini? Memangnya kamu Nyonya?" Perempuan itu menghardik saat tiba di dapur. Beberapa pelayan pribumi yang sedang sibuk mempersiapkan hidangan dan juga minuman, memandang ke arah Bunga sekilas. Lalu kembali berkutat dengan kesibukan mereka.
"Ganti bajumu dengan ini!" bentak si perempuan yang dari tampangnya, ia adalah keturunan campuran kulit putih dan pribumi. Hidungnya mancung, kulitnya putih, tetapi iris mata dan rambutnya berwarna hitam.
Perempuan itu melemparkan kebaya dan kain pada Bunga yang diambilnya dari lemari kayu yang ada di dekat pintu dapur.
"Tapi, saya bukan ...."
"Cepat!" potong perempuan itu. "Minumannya harus diantar sekarang!"
__ADS_1
Entah bagaimana, beberapa saat kemudian Bunga sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang diberikan oleh perempuan itu. Di tangannya kini ada nampan berisi beberapa gelas berkaki panjang yang berisi cairan berwarna merah tua.
***