BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 28. Merunut.


__ADS_3

"Hei! Kumpeni! Lepaskan perempuan kami!"


Suara itu datang dari arah depan. Jacob dan Bunga menoleh bersamaan. Beberapa meter di depan mereka, tiga orang lelaki berpakaian serba hitam berdiri menantang. Di pinggang mereka masing-masing terselip sebuah golok.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian!" sahut Jacob seraya menempatkan diri di depan Bunga.


"Goblok! Kamu sudah mengganggu perempuan kami!" tunjuk salah seorang dari lelaki itu. Tampangnya seram dengan kumis tebal dan bekas luka di wajahnya. Salah satu tangannya memegang gagang golok di pinggangnya.


Bunga memperhatikan ketiga lelaki itu. Ia belum pernah melihat mereka sebelumnya. Ketiganya bukan orang-orang yang sering datang menemui ayahnya. Tetapi, Bunga yakin mereka adalah anggota dari salah satu kelompok pejuang pribumi.


"Aku tidak mengganggunya. Aku sedang bicara dengannya," ujar Jacob membela diri.


"Omong kosong! Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri kamu ingin berbuat jahat pada gadis itu!" Lelaki di sebelah kiri si kumis menyahut. Tampangnya tidak kalah seram dengan lelaki di sampingnya. "Benar begitu, bukan, Nduk?" tanyanya pada Bunga.


"I-iya. Dia mengangguk," jawab Bunga dengan suara bergetar.


"Kurang ajar. Memang Londo tidak tahu diri!"


Ketiga lelaki itu mendekat pada Jacob dan Bunga. Dengan tatapan sinis mereka mengepung Jacob. Salah seorang lelaki meminta Bunga untuk mendekat. Dan gadis itu menurutinya.


"Pergi kamu, atau kami hajar sampai babak belur!" ancam si kumis seraya mendorong bahu Jacob.


Jacob tidak terima dengan perlakuan lelaki itu. Ia sedang kesal, dan ingin melampiaskannya. "Sebaiknya kalian tidak usah ikut campur. Gadis itu temanku dan kami sedang membicarakan urusan kami."


"Apa kamu tidak dengar? Gadis ini bilang kamu memang mengganggunya. Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum kami menghajarmu!"


Jacob tersenyum sinis. Ia melirik ke arah Bunga. Gadis itu memalingkan wajahnya.


"Berani juga kamu, ya?" Si kumis menyiapkan kuda-kuda untuk melakukan penyerangan pada Jacob.


Perkelahian pun tidak dapat dihindari. Jacob, seorang diri melawan tiga orang lelaki berbadan kuat membabi buta menyerangnya. Ia tidak memiliki pengalaman dalam berkelahi, tetapi dirinya yang sedang diliputi kemarahan atas masalahnya dengan Bunga, entah kenapa mampu mengimbangi serangan-serangan ketiga lelaki itu.


Namun, semua itu tidak bertahan lama. Satu pukulan telak mendarat di perut Jacob sehingga membuat pemuda itu terhuyung. Belum sempat ia bangkit ataupun menangkis serangan berikutnya, kakinya sudah terkena tendangan hingga ia pun tersungkur.


Bunga terkejut melihat Jacob terkapar. Ia ingin menolong, tetapi segan. Ia juga sedang kesal dengan pemuda itu. Lalu, ia pun memutuskan untuk berdiri dan melihat Jacob dihajar oleh ketiga lelaki itu.

__ADS_1


Namun, beberapa saat kemudian Bunga terperanjat ketika melihat salah seorang dari mereka mencabut golok dan menghujamkannya ke dada Jacob.


"Jacob!" teriak Bunga panik sambil berlari mendekati Jacob yang roboh ke tanah bersimbah darah.


Bunga meraih kepala Jacob dan memeluknya. "Jacob! Jacob! Bangun!" serunya seraya mengguncang bahu pemuda itu.


"Hei! Biar saja dia mati! Untuk apa kamu menangisinya? Bukankah dia sudah berbuat jahat padamu?" Si lelaki berkumis menatap Bunga tajam.


"Dia temanku!" sentak Bunga.


Ketiga lelaki itu saling melempar pandang. Lalu ketiganya menatap ke arah Bunga dengan mata menyipit.


"Kamu gundiknya, ya?" tanya salah seorang di antara mereka.


Seorang lagi mendecih. "Untuk apa kita repot-repot menolong gundik Londo!"


Bunga tidak memedulikan ucapan ketiga lelaki itu, ia terus mengguncang tubuh Jacob yang lemas. Dadanya sesak menahan tangis. Rasa bersalah mulai melanda hatinya.


***


Asih mengangguk. "Untung saja luka tusuknya tidak terlalu dalam."


Bunga menghela napas lega. Ia memandang Jacob yang masih tertidur di atas ranjang. Untung saja ada beberapa petani yang melintas dan menolongnya membawa Jacob ke tempat Bu Galuh. Meskipun awalnya Bu Galuh menolak mentah-mentah menerima Jacob untuk diobati.


"Bunga, Ibu mau bicara." Bu Galuh melongok dari balik pintu.


Bunga mengangguk. Ia meminta Asih untuk mengawasi Jacob sebelum akhirnya ia melangkah keluar mengikuti Bu Galuh menuju ruangannya.


"Kamu tahu tindakan ini sangat berbahaya, Bunga?" ucap Bu Galuh begitu Bunga sampai di ruangannya.


"Maaf, Bu. Saya terpaksa. Saya tidak tahu harus ke mana untuk mencari bantuan," sahut Bunga seraya menundukkan kepala.


Bu Galuh menghela napasnya berat. "Apa kamu bisa pastikan pemuda Belanda itu tidak macam-macam nantinya?"


"Iya, Bu."

__ADS_1


"Kalau sampai ada apa-apa nanti, kamu berani bertanggung jawab?" Bu Galuh menatap Bunga tajam.


"Saya akan bertanggung jawab, Bu."


"Bagus." Bu Galuh memberi isyarat Bunga untuk meninggalkan ruangan itu.


Bunga kembali ke ruangan di mana Jacob berada. Pemuda itu tampaknya sudah membuka matanya. Asih yang menungguinya sejak tadi meninggalkan ruangan itu untuk memberi kesempatan Bunga berbicara dengan Jacob.


"Kamu sudah bangun?" tanya Bunga seraya duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Asih, di sebelah ranjang.


"Terimakasih sudah menyelamatkanku, Bunga."


"Pemilik toko ini yang sudah menyelamatkanmu. Aku harap kamu tahu diri kalau kamu sudah berhutang budi padanya."


"Tahu diri?" Jacob menatap Bunga dengan raut wajah bingung.


"Iya, kamu sudah berhutang budi. Kalau sampai kamu menyebarkan hal apapun tentang tempat ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu," ancam Bunga.


Jacob mengulas senyumnya. "Kamu tahu, kan, Bunga, kamu bisa percaya padaku."


Bunga memalingkan wajahnya. Tetapi, beberapa saat kemudian ia terkejut saat Jacob meraih tangannya, lalu menggenggamnya erat. "Aku cinta sama kamu, Bunga. Aku tidak akan pernah membahayakan kamu."


Bunga ingin menarik tangannya dari genggaman Jacob, tetapi ia tidak bisa bersikap sinis pada pemuda itu. Ia harus berusaha untuk mengambil hati Jacob agar pemuda itu tutup mulut tentang tempat ini.


"Kamu tidak harus menjawab, Bunga. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku padamu."


Bunga menghela napasnya berat. Ia menatap sepasang mata biru yang sedang menatapnya sayu. Ia sangat menyesal kenapa Jacob harus menaruh hati padanya. Dan kini hubungan mereka tidak sama lagi.


Ia sendiri mempertanyakan kembali bagaimana perasaannya pada Jacob. Dan tiba-tiba Bunga merasa kebingungan. Ada perasaan aneh yang hinggap di dada. Selama ini ia tidak pernah memikirkan hubungannya dengan Jacob akan lebih dari sahabat.


Atau karena Bunga sudah membentengi diri dari awal untuk tidak jatuh cinta pada Jacob, mengingat perbedaan di antara mereka begitu besar. Sehingga Bunga selalu menghindar dari segala sesuatu yang akan membuatnya jatuh cinta pada pemuda di hadapannya ini.


Jika ia runut kembali sejak awal perkenalannya dengan Jacob, Bunga selalu merasakan desir aneh saat bersama dengan sahabatnya itu.


Namun, Bunga mengabaikannya.

__ADS_1


***


__ADS_2