
Jacob memperhatikan kalung yang melingkar di leher Bunga. Kalung rantai kecil berwarna perak. Gadis itu terlihat lebih cantik.
"Kalungmu baru?" tanya Jacob. Keduanya sedang duduk di pinggir bianglala yang masih terlihat sepi. Belum banyak pengunjung yang datang ke pasar malam senja itu.
Bunga asyik menikmati kue lapis legit yang beberapa saat lalu dibeli oleh Jacob. "Kalung? Iya, baru." Gadis itu menjawab pertanyaan Jacob.
"Siapa yang membelikannya?" tanya Jacob penasaran. Ia curiga kalung itu hadiah dari seseorang yang mungkin sedang dekat dengan bunga. "Je vriend ( Kekasihmu)?"
Bunga membulatkan sepasang matanya. Tentu saja ia tidak bisa menceritakan dari mana ia mendapatkan kalung itu. Meskipun Jacob adalah sahabatnya, tetapi, ia tetap orang Belanda. Mulai sekarang, Bunga harus berhati-hati dalam berucap di depan pemuda itu.
"Benar?" desak Jacob.
"Bukan. Ini dari seseorang. Tapi, bukan kekasih."
"Seseorang yang menyukaimu?"
"Mungkin."
Jacob memanyunkan bibir. "Memangnya siapa dia?" tanyanya penasaran.
"Seseorang yang tidak kamu kenal." Bunga kembali berkutat dengan kue lapis legit di tangannya sambil menikmati suasana pasar malam yang mulai dipadati pengunjung. Baik orang Belanda maupun pribumi. Tetapi, ada beberapa permainan yang tidak diizinkan untuk orang-orang pribumi.
"Pasti orang yang sangat baik dan menyenangkan, ya? Apa lebih menyenangkan dari pada aku?"
Bunga terkikik. "Bukan seseorang seperti yang kamu pikirkan, Jacob."
"Oh, ya?" Jacob terlihat lega.
"Ya." Bunga menyahut pendek. "Aku tidak punya kekasih. Dan tidak ingin."
Jacob mengerutkan kening. "Kenapa?" tanyanya.
Bunga tersenyum tipis dan terlihat sedikit sinis. "Ada kewajiban yang harus ditunaikan terlebih dahulu."
__ADS_1
"Kewajiban apa? Sekolah?"
Gadis itu menatap Jacob di sampingnya. "Lebih dari itu." Sorot matanya tajam.
Seketika, Jacob merasa ada yang berubah dari sorot mata yang biasanya penuh dengan binar cerah itu. Terlihat sekilas kilatan amarah di sana.
"Kamu akhir-akhir ini sedikit tegang, Bunga," ungkap Jacob.
"Sudah seharusnya."
"Apa maksudmu?"
Bunga tersenyum miring. "Tidak apa-apa. Hanya pengaruh siklus perempuan saja."
Jacob mencebikkan bibir sambil mengangguk-angguk. Pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sudah ramai. Menyenangkan sekali berada di tempat yang penuh dengan kegembiraan dan canda tawa orang-orang yang membutuhkan hiburan.
"Apa ayahmu masih ingin memasukkanmu ke sekolah militer nanti?" tanya Bunga.
Jacob mengedikkan bahu. "Entahlah, mungkin."
"Kamu bicara apa?" Jacob menatap Bunga keheranan.
"Aku sedang bicara filosofi dari buku yang pernah aku baca di perpustakaan."
"Lalu, apa hubungannya dengan kita berdua?"
Bunga menghela napas pelan. Ia membersihkan telapak tangan dengan rok-nya. "Ya, karena hidup kita semua penuh dengan filosofi."
"Lalu?"
"Ya, keadaan tidak akan selalu sama. Sekarang tidak akan sama dengan nanti. Contohnya, kamu dan aku. Sekarang kita menjadi sahabat, di masa datang kita bisa menjadi musuh."
Jacob terkikik sambil menggeleng. "Aku tidak akan pernah menganggapmu musuh, Bunga. Kamu sahabatku selamanya."
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku yang menganggapmu musuh?" Mata Bunga menyorot tajam ke arah Jacob, membuat bulu roma pemuda itu sedikit meremang.
"Kenapa kamu mau anggap aku musuh?"
Bunga tersenyum tipis. "Itu dia, Jacob. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti."
Jacob menghela napasnya berat. Pembicaraan ini membuat dadanya sesak. Ia tidak suka membicarakan perpisahan. Apalagi perpisahan dengan gadis di sampingnya itu.
"Yang akan terjadi nanti akan aku pikirkan nanti. Kenapa tidak kita nikmati saja saat sekarang?" Jacob meraih tangan Bunga dan menggenggamnya erat. "Kalau kita sedang membicarakan perpisahan, kamu harus tahu, aku tidak ingin berpisah denganmu."
Bunga menarik tangannya dari genggaman Jacob. "Jangan bodoh, Jacob. Tentu saja kita tidak akan selamanya seperti ini. Kamu akan menikah dengan gadis dari bangsamu, lalu kamu akan menjadi tentara yang membela bangsamu. Sedang aku ...."
"Bagaimana kalau aku menikah denganmu saja?" Jacob menaikkan alis tebalnya. "Kita sudah saling tahu pribadi masing-masing. Aku tidak mau mengambil resiko menikah dengan gadis yang belum tentu cocok denganku."
Bunga terbengong mendengar ucapan Jacob. Tetapi, sejurus kemudian tawanya meledak. Seakan-akan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Jacob adalah lelucon konyol.
Gadis itu memukul pelan bahu Jacob, masih dengan sisa-sisa tawanya. "Kamu ada-ada saja," ucapnya.
Jacob meringis. Ah-binar di mata Bunga sudah kembali. Ia sempat takut tidak akan pernah melihatnya lagi. Tetapi, yang ia ucapkan beberapa saat lalu bukanlah lelucon. Ucapan itu datang dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Jangan tawarkan hal konyol semacam itu padaku. Menikah denganmu?" Bunga memutar kedua bola matanya. "Dasar Jacob, konyol sekali. Aku geli mendengarnya," kekehnya.
Jacob mengelus tengkuknya. Kepalanya menunduk menyembunyikan semburat merah muda di pipinya.
"Kamu bercanda, kan, Jacob?" Bunga memiringkan kepalanya memandang ke arah Jacob. Ia ingin memastikan kalau ucapan pemuda itu hanya bulan semata. Ia sungguh berharap ucapan itu tidak berarti apa-apa.
Jacob menoleh, menatap Bunga untuk beberapa saat. Aku tidak bercanda, Bunga.
"Jacob?" Bunga menggerakkan telapak tangan di depan wajah sahabatnya itu.
Pemuda itu terkesiap. "Ya, aku bercanda."
Bunga menghembuskan napasnya lega seraya meletakkan tangannya di atas dada.
__ADS_1
***