
Setelah melumpuhkan dua penjaga, ketiga pria berpenutup kepala itu memasuki rumah megah bercat putih dengan arsitektur Eropa bercampur Jawa. Begitu mereka masuk, dua orang perempuan pribumi menjerit ketakutan.
"Angkat tangan kalian!" perintah salah seorang dari pria berpenutup kepala seraya menodongkan pistol ke arah dua perempuan itu. "Menghadap ke tembok!"
Salah seorang pria memberi isyarat pada salah satu temannya untuk berjaga-jaga di ruangan itu. Sementara dirinya dan satu orang lainnya masuk melewati pintu tengah.
Seorang perempuan kulit putih yang sedang ada di dapur dengan dua orang pelayan pribumi-nya menjerit ketakutan saat dua pria itu masuk dan menodongkan pistol.
"Diam! Atau kepala kamu saya ledakkan!" ancam salah seorang pria seraya menempelkan mulut pistol di kening si perempuan kulit putih. "Kamu! Tunjukkan di mana tempat penyimpanan uang kalian!"
"K-kami t-tidak menyimpan uang di rumah." Si perempuan menjawab dengan bibir bergetar. Wajahnya yang masih terlihat cantik di usia mendekati lima puluhan itu tampak pucat.
"Jangan bohong! Mau mampus kamu?" Si pria menekankan ujung pistol di keningnya. Membuat perempuan itu meringis kesakitan.
"Cepat katakan! Saya tidak segan-segan tembak kepala kamu!"
Si perempuan yang masih ingin selamat, tidak punya pilihan selain menuruti kemauan para perampok itu. Dengan intimidasi todongan senjata di balik tengkuknya, ia pun berjalan menuju kamar utama bersama dua pelayannya.
Di dalam kamar, perempuan itu mendorong salah satu bagian dinding yang rupanya berfungsi sebagai pintu rahasia. Ia menyalakan lampu dan membuka satu-satunya lemari yang ada di ruangan sempit itu.
Di dalam lemari, terdapat satu buah lemari brankas yang terbuat dari bahan kuningan. Perempuan itu mengambil kunci di bawah brankas dan dengan tangan gemetar membukanya.
Kedua pria di belakangnya tertawa girang melihat isi brankas. Beberapa tumpukan uang kertas serta perhiasan teronggok di sana.
"S-silahkan ambil. T-tapi jangan sakiti aku," pinta perempuan itu.
"Hanya satu brankas? Tidak ada yang lain?"
"T-tidak ada. A-ku t-tidak bohong. Sisa uang kami ada di De Javasche Bank."
__ADS_1
Kedua pria itu saling berbisik. Lalu salah satu dari mereka mulai menggeledah seisi kamar. Tidak hanya itu, ia juga menggeledah kamar-kamar yang lain. Lima belas menit kemudian, si pria kembali dan mengabarkan jika ia tidak menemukan brankas lain di mana-mana.
"Ayo, jalan!" Pria yang lain mendorong punggung si perempuan keluar kamar, juga dua pelayannya.
Mereka mengumpulkan Nyonya dan para pelayannya di ruang tamu bersama tawanan lain.
"Ikat tangan dan sumpal mulut mereka!" perintah salah seorang dari para perampok.
Kedua pria itu menuruti perintah pimpinannya. Si Nyonya diikat di atas kursi, sementara para pelayannya berada di lantai. Masing-masing mulut mereka disumpal dengan kain.
Sementara sang pemimpin masuk kembali ke kamar utama untuk menjarah isi brankas.
***
Berita perampokan rumah direktur pabrik gula, Meneer Adolf Leander, telah menyebar ke seluruh kota, termasuk di sekolah Bunga. Perampokan yang baru terjadi lagi dalam satu dekade ini, pasca pemberontakan para pejuang Semarang.
Tentu saja para orang kulit putih menjadi was-was. Mereka sebisa mungkin memperketat penjagaan di rumah masing-masing. Banyak dari mereka menyewa anggota polisi untuk berjaga-jaga di rumah mereka.
Orang-orang kulit putih pun semakin waspada terhadap pribumi. Bunga pun tidak luput menjadi sasaran tatapan-tatapan miring murid-murid di sekolahnya. Bukan hanya tatapan miring, kini ditambah lagi dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Kalian memang manusia-manusia yang tidak tahu diuntung. Seperti anjing yang menggigit tangan orang yang memberinya makan!" Ucapan itu datang dari mulut Anna, saat Bunga melintas menuju mejanya.
Ketiga gadis kulit putih yang sedang bersama Anna, menyeringai pada Bunga.
"Aku menyesal sudah pernah berpikir, mungkin aku bisa berteman dengan kalian," cibir Anna. "Sekarang, berdekatan dengan kalian saja aku risih. Sudah rendahan, pencuri dan perampok pula." Anna sepertinya begitu kesal. Apalagi alasannya kalau bukan peristiwa perampokan di rumah pamannya.
Bunga yang tadinya tidak ingin mendengarkan celotehan Anna, dan akan duduk saja di tempatnya, kini memutar badan menghadap gadis itu. Ada sesuatu dalam kata-kata gadis itu yang membuatnya ingin membalikkan kenyataan.
"Aku pikir kamu punya kaca besar di rumahmu. Nyatanya tidak. Atau kamu punya, tapi hanya digunakan sebagai pajangan," ucap Bunga dengan suara tenang.
__ADS_1
Anna mengerutkan kening. Ia tidak bisa menangkap maksud kata-kata Bunga.
"Kami tidak pernah menyuruh kalian menginjakkan kaki di tanah kami. Kalian datang kemari dan mengeruk keuntungan dari tanah kami. Apa itu namanya kalau bukan perampok?" Bunga mengangkat dagunya angkuh.
Anna tampak menahan kegeramannya. "Kamu!" tunjuknya. "Kamu punya bibit seorang pemberontak. Akan aku laporkan kamu ke kantor walikota," ancamnya.
Bunga tersenyum miring. "Laporkan saja. Kamu pikir aku takut?"
"Lihat saja nanti!" Anna mendorong bahu Bunga keras hingga gadis itu bergeser mundur.
"Hei! Wat is hier aan de hand (Ada apa ini)?" Jacob yang baru saja muncul menepis tangan Anna.
"Tanyakan saja pada Nona Kulit Putih Yang Terhormat ini!" jawab Bunga ketus. Ia menatap sinis pada Anna sejenak, lalu berlalu meninggalkan kelas.
"Anna, kenapa kamu selalu mengganggu Bunga?" Jacob menatap mata Anna tajam.
"Dia yang menggangguku lebih dahulu, Jacob," jawab Anna membela diri.
"Omong kosong!"
"Kenapa kamu selalu membela dia, Jacob?"
"Karena aku tahu Bunga seperti apa. Kamu hanya ingin melampiaskan marahmu padanya karena aku menolak bertunangan denganmu!"
Anna terperangah mendengar ucapan Jacob. Ia semakin membenci gadis bernama Bunga itu. "Dia punya banyak potensi menjadi seorang pemberontak. Dia berbahaya, Jacob."
Jacob tersenyum miring. "Sebaiknya kita berkaca pada diri sendiri. Siapa yang lebih berbahaya. Pribumi yang memberontak, atau kita yang telah merampas tanah milik mereka?"
***
__ADS_1