
"Ini sudah kedua kalinya kamu meninggalkan mobilmu di sembarang tempat," kata Ambroos dengan wajah memerah menahan kesal. Di hadapannya, Jacob berdiri seraya menautkan dua tangannya di belakang punggung. Mirip tentara yang sedang dalam posisi istirahat di tempat.
Wajahnya menatap ke depan. Tetapi, ia tidak menunduk. Tidak seperti seorang anak yang ketakutan saat dimarahi oleh ayahnya. Jacob tampak tenang.
Di belakang Ambroos, tampak Therese berdiri seraya melipat kedua lengan di depan dada. "Dari mana kamu, Jacob? Kenapa kamu terlihat berantakan sekali?" tanyanya memeriksa keadaan sang putra.
"Keliling kota. Mobilnya mogok di pinggir sungai, Mama," jawab Jacob dengan tenang.
"Dengan gadis pribumi itu?"
"Namanya Bunga, Mama."
Therese mendecih. "Gadis itu hanya berpengaruh buruk untukmu, Jacob. Lihat dirimu. Terlihat seperti anak dari kaum rendahan."
Jacob menundukkan kepalanya. Ia dengan sekuat tenaga menahan nyeri di dadanya. Lukanya tentu saja masih basah. Ia berusaha menyembunyikannya dengan rapi agar kedua orang tuanya tidak curiga.
"Orang-orang pribumi semakin berani melawan kita. Dan kau malah bergaul dengan mereka!" Ambroos berseru.
"Bunga tidak ada kaitannya dengan orang-orang pribumi yang memberontak, Papa," sergah Jacob.
"Kau lupa kalau Papa tidak percaya dengan keluarganya!"
Jacob menggeleng. "Bunga hanya gadis biasa. Dia tidak berbahaya."
"Jangan bodoh, Jacob! Dia bisa saja menusukmu dari belakang," timpal Therese.
"Tidak, Mama. Aku mengenal Bunga dengan baik." Jacob menatap sang ibu. Tetapi, hatinya berdebar saat mengucapkan kata-katanya.
"Kenapa kau begitu peduli dengan gadis itu? Apa kau sadar siapa dirimu dan siapa dirinya?" Therese mendekati sang putra, menatap putranya dengan tatapan mengintimidasi.
"Ik hou van haar (Aku mencintainya), Mama!"
"Oh, Ambroos, Ik raadde het al (Aku sudah menduganya)." Therese memandang suaminya.
"Ik kan het niet geloven (Aku tidak bisa percaya ini)!" Ambroos memijit keningnya.
Ambroos dan Therese bersamaan menatap ke arah Jacob. Yang ditatap memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kau sudah bertunangan dengan Anna. Dia yang paling pantas menjadi menantu keluarga Janssen," ucap Therese memperingatkan Jacob.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyetujui pertunangan itu, Mama." Jacob menantang tatapan sang ibu dengan berani. "Permisi," ucapnya kemudian seraya berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.
"Bagaimana ini, Ambroos?" Therese berkacak pinggang seraya menghela napas berkali-kali.
Ambroos mengelus dagunya. Ia tidak boleh gegabah mengambil keputusan tentang Jacob. Ia bahkan memikirkan sebuah taktik brilian yang harus ia bicarakan dengan orang-orang penting di jajaran pemerintahan kota Semarang.
Sementara itu di kamarnya, Jacob tengah merebahkan dirinya di atas ranjangnya yang luas. Bibirnya tidak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Wajah manis Bunga terus saja membayanginya.
Gadis itu jelas mengkhawatirkannya. Saat dirinya dilukai oleh tiga lelaki pribumi di dekat sungai, Jacob bisa melihat betapa Bunga begitu panik melihatnya terkapar bersimbah darah. Meskipun ia merasakan kesakitan yang luar biasa, tetapi ia bahagia.
Dan, sekali lagi di dalam ruangan tempatnya dirawat, Jacob menyatakan perasaannya. Meyakinkan Bunga jika ia benar-benar mencintai gadis itu.
Yang membuat hati Jacob kini berbunga-bunga adalah, gadis itu sepertinya sedang bimbang dengan perasaannya sendiri. Jika harapannya tidak terlalu tinggi, ia menebak Bunga sedang memikirkan dalam-dalam apa yang gadis itu rasakan terhadapnya.
Tentu Jacob akan terus mengejar Bunga hingga gadis itu menyerah padanya.
***
Tidak ada yang mempermasalahkan kepulangan Bunga yang terlambat hingga malam menjelang. Sang ibu sepertinya sedang berdiam diri di dalam kamarnya. Sedang ayahnya, sedang berada di dalam paviliun bersama orang-orangnya.
Hal itulah yang membuat rasa penasaran Bunga begitu tinggi untuk menguping pembicaraan ayahnya. Ia mendengarkan dengan seksama dari balik dinding paviliun bagian belakang.
"Saya sudah berkali-kali bilang, Pak Wirya. Kita harus bergerak secepatnya mumpung para penjajah itu sedang lengah. Tapi, panjenengan tidak mau mendengarkan saya."
"Kekuatan kita belum cukup, Pak Woto. Saya tidak mau mengorbankan banyak pejuang yang belum siap. Itu sama saja bunuh diri!"
"Lalu, bagaimana ini? Setiap gerak-gerik kita diawasi. Kita tidak bisa melakukan apapun lagi untuk sementara ini."
"Kita tunggu hingga keadaan menjadi tenang kembali."
"Tapi, sampai kapan?"
"Sabar, sabar, Pak Woto."
Bunga mendengar sepertinya terjadi perdebatan di dalam paviliun. Dadanya berdebar kencang. Rasanya situasi saat ini begitu genting. Seperti yang dikatakan Bu Galuh padanya, sama persis dengan yang sedang diperdebatkan oleh ayahnya dan orang-orang itu.
Ia teringat tiga orang yang melukai Jacob sore tadi. Dugaannya, mereka adalah anggota kelompok pejuang yang tidak mau bekerja sama dengan ayahnya. Dan Bunga tidak bisa menebak kenapa mereka tidak mau bersatu untuk melawan penjajah.
"Bunga!"
__ADS_1
Gadis itu terlonjak saat mendengar panggilan dari arah belakangnya. Sang ibu, Ratih, telah berdiri di sana.
"Ibu buat Bunga kaget!" gerutu Bunga.
"Sudah ibu bilang berkali-kali, jangan suka menguping." Sang ibu meraih lengan Bunga dan menggandeng gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Bunga kira Ibu sudah tidur." Bunga duduk di balai bambu yang ada di ruang tengah.
"Kenapa kamu baru pulang? Dari mana saja kamu?" Wajah Ratih jelas menunjukkan kekesalan.
"Tadi ... ada orang yang menikam Jacob, Bunga membawanya ke tempat Bu Galuh."
Ratih mengerutkan keningnya. "Jacob ditikam?"
Bunga mengangguk. Kemudian ia menceritakan kejadiannya pada sang ibu. Mendengar cerita sang putri, Ratih memijit keningnya seraya mengatur napasnya.
"Ini buruk," ucap Ratih lirih. "Jika ayah Jacob tahu, ini pasti akan sangat buruk."
Bunga menggeleng. "Jacob berjanji tidak akan memberitahu siapapun, termasuk orang tuanya."
"Seberapa parah lukanya? Kamu pikir Jacob bisa menyembunyikannya pada kedua orang tuanya?"
"Jacob sudah berjanji, Bu."
"Kamu percaya dengannya, Bunga?"
Bunga menundukkan wajahnya. Tentu saja ia tidak sepenuhnya percaya dengan Jacob. Tetapi, ia sedang dilanda perasaan aneh sejak Jacob menyatakan perasaan padanya.
"Bunga, sejauh apa hubunganmu dengan Jacob? Apa yang sudah kamu ceritakan padanya?" tanya Ratih curiga.
"Hubungan Bunga dengan Jacob ... m-masih seperti dulu. Berteman, Bu."
"Kamu yakin?" Sang ibu memperhatikan sikap Bunga yang terlihat sedikit gugup.
Bunga mengangguk pelan. Dan hal itu membuat Ratih semakin curiga padanya. "Jujur sama Ibu, Bunga. Kamu tidak jatuh cinta dengan Jacob, kan?"
Bunga terbelalak mendengar pertanyaan sang ibu. Kembali ia menggeleng. Tetapi, entah kenapa dadanya terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang membuatnya sulit untuk bernapas.
"Apapun perasaanmu dengan Jacob, lupakan. Karena Raden Yusuf yang akan tetap menjadi suamimu kelak."
__ADS_1
Bunga menelan salivanya dengan susah payah. Dadanya semakin terasa sesak. Dan bayangan wajah tampan Jacob melintas tiada henti dalam benaknya.
***