
Dua orang lelaki berkulit putih mendatangi kediaman Tumenggung Wirya. Mereka membawa serta dua orang polisi; keduanya orang pribumi, dan kepala sekolah ELS untuk meminta pertanggungjawaban lelaki itu atas apa yang telah diperbuat oleh Bunga terhadap putra-putra mereka di sekolah.
Tentu saja hal itu membuat Tumenggung Wirya dan Ratih terkejut. Keduanya tidak percaya, putri semata wayang mereka mampu melakukan penganiayaan terhadap teman sekolahnya.
Setelah melakukan perdebatan panjang selama berjam-jam, akhirnya disepakati bahwa Bunga akan diliburkan selama satu minggu, dan Tumenggung Wirya mendapat surat peringatan keras, jika hal semacam itu terjadi lagi, maka jabatannya sebagai bupati akan dicopot dengan tidak hormat.
Rupanya, dua lelaki kulit putih itu memiliki jabatan penting dalam pemerintahan kota Semarang.
Tumenggung Wirya murka. Di hadapan Bunga, lelaki itu menggebrak meja dengan keras. Ratih mencoba menenangkannya dengan mengelus punggung sang suami, dan memberi isyarat pada Bunga untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa dengan anak itu, Bu?" Tumenggung Wirya mengatur napasnya yang memburu. "Dia itu anak perempuan. Kenapa bisa berbuat seperti itu?"
"Aku sudah bicara dengan Bunga. Dia menghajar dua anak itu untuk membela temannya."
"Oh, mau jadi pahlawan." Tumenggung Wirya menggeleng. "Beri pengertian pada anakmu itu untuk tidak membuat masalah lagi. Jabatanku dipertaruhkan. Ini akan sangat merugikan." Yang sedang ia bicarakan adalah rencana rahasia yang sedang ia susun dengan orang-orang kepercayaannya. Ia membutuhkan jabatan ini untuk membangun kekuatan dari dalam.
"Iya, Pak." Ratih mengangguk. Ia mengerti apa yang dipikirkan suaminya. Perempuan itu undur diri untuk menemui sang putri yang ada di kamar.
Ratih berjalan mendekati Bunga yang tengah berbaring di atas amben. Ia duduk di tepiannya seraya menyentuh lengan sang putri.
"Maaf, Bu," ucap Bunga lirih.
Ratih mengulas senyumnya. "Tidak apa-apa, Bunga. Ibu tidak menyalahkan tindakanmu. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Tapi ...." Ia menjeda ucapannya. "Kamu harus memikirkan akibatnya. Jabatan Bapak terancam, dan keselamatan kita semua juga terancam."
"Dua anak Belanda itu memanggilku anjing pribumi, Bu. Aku benci."
__ADS_1
"Iya, iya, Ibu tahu, Bunga. Ada kalanya kita diam, tetapi bukan karena setuju, atau kalah. Akan ada waktunya, Bunga. Akan ada waktunya kita melawan mereka. Kamu mengerti?" Ratih mengusap kepala Bunga lembut.
Bunga mengangguk. Meskipun hatinya masih diliputi rasa kesal setiap kali mengingat dua anak itu memanggilnya dengan kata-kata yang paling dibencinya.
"Ndoro, ada anak laki-laki mencari Bunga." Mbok Pai berbicara dari ambang pintu kamar. "Teman sekolah Bunga," tambahnya.
Bunga seketika bangkit dari pembaringannya. "Jacob?" tanyanya pada sang pembantu.
Mbok Pai mengangguk. Ia memandang Ratih takut-takut. Khawatir perempuan itu tidak suka dengan kabar yang disampaikannya.
"Bu, aku mau menemui Jacob," pinta Bunga.
"Bapak masih di rumah?" tanya Ratih pada Mbok Pai. Setelah Tumenggung Wirya meminta dirinya untuk berbicara dengan Bunga, suaminya itu mengatakan akan pergi ke kantor. Ratih berharap ia sudah pergi. Jika tidak, kedatangan teman sekolah Bunga itu akan membuat keadaan bertambah runyam.
"Sudah berangkat, Ndoro."
Di teras rumah, Bunga melihat Jacob sedang duduk di kursi rotan. Tidak jauh darinya, berdiri seorang lelaki berkulit sawo matang berseragam tentara KNIL; tentara Belanda yang terdiri orang-orang pribumi. Sepertinya, ia adalah pengawal pribadi keluarga Janssen.
"Kamu rindu aku, ya?" kekeh Bunga seraya mengambil tempat duduk di samping Jacob.
Anak lelaki itu mencebik. "Tidak. Baru satu hari kamu tidak sekolah."
"Lalu, kenapa kamu datang ke sini?"
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Karena, kabar di sekolah terdengar sangat buruk. Benar ayahmu dipecat?" Terlihat rasa bersalah di wajah Jacob. Bagaimanapun, kejadian itu berkaitan dengan dirinya. Jika terjadi sesuatu pada keluarga Bunga, maka ia tidak akan memaafkan diri sendiri.
__ADS_1
Bunga menggeleng. "Kata Ibu, Bapak tidak dipecat. Tapi, diberi peringatan."
Jacob mengangguk-angguk. Bibirnya membentuk huruf O. "Syukurlah," ucapnya kemudian.
"Kapan kamu akan masuk sekolah lagi?" tanya Jacob.
"Satu minggu lagi."
"Jadi, selama itu kamu tidak bisa keluar rumah?"
Bunga menggeleng pelan. Wajahnya terlihat muram. Begitupun Jacob. Satu Minggu ke depan akan menjadi hari-hari paling membosankan tanpa kehadiran Bunga.
"Aku boleh datang ke sini setiap hari?" tanya Jacob dengan wajah semringah.
"Mmmm ...." Bunga tidak yakin akan menjawab iya. Saat ini kebetulan ayahnya sedang tidak ada di rumah. Ia tidak tahu, apa Jacob akan diizinkan datang jika ada ayahnya.
"Tidak boleh, ya?"
Bunga mengedikkan bahu. "Mungkin kamu yang tidak boleh." Ia melirik tentara KNIL yang mengawal Jacob. "Kamu bawa pengawal ke sini, kalau dia lapor ayahmu, bagaimana?" bisiknya di telinga Jacob.
"Niet. Hij is te vertrouwen (Tidak. Dia bisa dipercaya)."
Bunga meringis. Terlintas sebuah ide di kepalanya. "Besok kita berenang di sungai."
Mata Jacob membulat. "Benar?" tanyanya memastikan, disambut dengan anggukan mantap Bunga. Meskipun ia belum memikirkan bagaimana caranya keluar dari rumah, sementara dirinya masih dalam masa tahanan rumah ayahnya.
__ADS_1
***