BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 22. Bernasib Sama.


__ADS_3

Bunga masih ingat seperti apa wajah Raden Yusuf. Sama sekali tidak tampan. Sikap jahilnya pada Bunga membuat gadis itu malas pergi ke pesantren. Ia selalu membuat seribu alasan agar ayah dan ibunya batal mengantar ke tempat itu.


Malam itu, Raden Yusuf bersama ayahnya, Kanjeng Kyai Salih, berkunjung kembali ke kediaman Tumenggung Wirya. Dan tampang Raden Yusuf yang kini telah menginjak usia dua puluh tiga tahun, masih tetap sama.


Meskipun Raden Yusuf tidak segenit dulu padanya, tetapi, Bunga tidak suka cara pemuda itu menatapnya. Ia merasa risih. Hingga sepanjang pertemuan dua keluarga itu, Bunga terus memasang wajah cemberutnya.


Bunga hanya mendengarkan apa yang orang-orang itu bicarakan. Apapun itu, yang jelas ia akan menolaknya. Meskipun Raden Yusuf bersedia menunggunya sampai pendidikannya selesai pun, ia tidak mau hidupnya berakhir hanya menjadi seorang istri yang patuh pada suami.


Bunga tidak anti pernikahan. Hanya saja, ia masih ingin menggapai mimpinya. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Belajar hukum dan politik. Dan Raden Yusuf, tidak tampak seperti seorang laki-laki yang mampu mendukung istrinya untuk maju. Hal itu tentu saja bertentangan dengan prinsip hidup Bunga.


Hampir sepanjang malam Bunga tidak bisa memejamkan mata. Ia memikirkan cara agar bisa terlepas dari perjodohan itu. Ia tidak menyukai Raden Yusuf. Tidak ada perasaan apapun untuk laki-laki itu.


Karena lelah, keesokan harinya di sekolah, wajahnya terlihat kusut. Lingkar hitam di sekitar matanya terlihat jelas. Bahkan, saat waktu istirahat, Bunga memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dan memejamkan mata sejenak di sana. Ia tidak bisa menahan kantuk yang menyerang.


Rasanya baru sekejab Bunga terlelap, seseorang menepuk bahunya pelan. Terkejut, ia mengangkat kepala dari meja. Yang dilihatnya pertama kali adalah senyum Jacob. Mata birunya terangnya terlihat berbinar.


"Goed verdriet (Astaga), Jacob!" Bunga mengusap wajahnya kasar. "Kamu membuatku kaget," gerutunya.


Jacob meringis. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Bunga, memperhatikan wajah gadis itu dari jarak dekat. "Kamu kurang tidur?" tanyanya.


Bunga menghembuskan napasnya pelan. "Sepertinya iya. Dan kamu mengganggu tidurku," sungutnya.


"Het spijt me (Maafkan aku), Bunga. Aku mencarimu ke mana-mana. Ternyata kamu ada di sini, tertidur."


Kembali Bunga mengusap wajahnya. "Ada apa mencariku?" tanyanya.


"Tidak ada apa-apa. Biasanya kita menghabiskan waktu istirahat bersama. Tapi, tadi kamu keluar kelas lebih dulu."


Bunga kembali menelungkupkan kepala di atas meja. Matanya masih terasa berat.


"Bunga," panggil Jacob seraya mengetuk-ngetuk lengan gadis itu.


"Hmmm," sahut Bunga.

__ADS_1


"Memangnya apa yang kamu lakukan tadi malam?"


Bunga mengacak rambutnya. Jacob benar-benar tidak mau membiarkannya tidur dengan tenang. "Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur."


"Apa, Bunga? Kamu bisa cerita padaku."


Bunga menatap sang sahabat dengan pandangan kosong. "Yang terjadi padamu, ternyata menimpaku juga."


"Yang mana?" Jacob mengangkat kedua tangannya.


"Dijodohkan."


Mata Jacob membulat. "Kamu ... dijodohkan?"


Bunga mengangguk pelan dan lemah. "Kedua orang tuaku menjodohkanku dengan seorang anak Kyai."


"Apa kamu menerima perjodohan itu? Apa kamu tidak akan menyelesaikan pendidikanmu? Apa kamu akan menikah sebentar lagi?" Jacob memberondong Bunga dengan pertanyaan-pertanyaan. Dada pemuda itu berdebar kencang.


"Tidak, Jacob," timpal Bunga. "Anak Kyai itu bersedia menungguku sampai aku menyelesaikan pendidikanku."


"Tidak juga. Kamu tahu seperti apa aku, Jacob. Tidak mungkin aku menerima perjodohan itu. Aku tidak mau menikah, maksudku, tidak mau menikah muda. Aku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi."


Jacob meraih tangan Bunga dengan cepat. "Iya, kamu tidak boleh menikah, Bunga!" Ia menggenggam telapak tangan gadis itu erat-erat.


Bunga menaikkan alisnya. "Apa maksudmu?"


"Kamu tidak boleh menikah kalau tidak denganku!"


Kedua pasang mata Bunga membola. Ia tidak percaya Jacob masih melontarkan lelucon itu. Bunga menarik tangannya dari genggaman Jacob, lalu memukul pelan ujung kepala pemuda itu.


"Jangan membuat lelucon di saat-saat seperti ini!" sungut Bunga. "Aku sedang memikirkan bagaimana aku terhindar dari perjodohan itu."


"Bagaimana kalau kita kabur saja?" tawar Jacob.

__ADS_1


Kembali mata Bunga membola. "Tolong berpikirlah yang jernih, Jacob!"


Jacob menggaruk kepalanya sambil meringis. Ia memang asal bicara. Lagi pula ke mana mereka akan melarikan diri, tidak ada tempat yang bisa mereka tuju.


"Seperti apa lelaki itu?" tanya Jacob.


"Jelek. Jelek sekali."


Jacob menghela napas lega. "Untung saja dia jelek. Bagaimana kalau dia lelaki yang tampan? Apa kamu akan menerima?"


Bunga mengelus janggutnya. Senyum tipisnya mengembang. "Mungkin."


Jacob memanyunkan bibirnya. "Untung saja dia jelek," gumamnya mengulang kata-katanya sendiri.


"Aku tidak mempermasalahkan penampilan seorang lelaki. Hanya saja, sifatnya juga jelek. Lagi pula, masih banyak hal yang harus aku lakukan dan aku tidak mau terikat dalam sebuah hubungan."


"Aku tahu," sahut Jacob seraya menopang dagu dengan telapak tangan.


"Kamu sendiri? Kalau kamu bertunangan dengan Anna ...."


"Aku tidak mau. Tidak akan ada pertunangan!" potong Jacob. "Kalau sampai orang tuaku memaksa, akan aku katakan pada mereka, aku tidak akan pernah masuk ke akademi militer."


Sekali lagi Bunga menghembuskan napasnya kasar. Matanya menerawang ke balik punggung Jacob. "Mungkin aku juga harus mengancam orang tuaku seperti kamu."


"Lakukan, Bunga," dukung Jacob.


"Tapi, apa yang bisa aku gunakan untuk mengancam mereka?" tanya Bunga tanpa mengharap jawaban dari Jacob.


"Apapun yang dilarang orang tuamu."


Bunga mengangguk-angguk. Sejurus kemudian gadis itu menyunggingkan senyuman.


"Kenapa nasib kita sama, Jacob?"

__ADS_1


***


__ADS_2