BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 32. Mencari.


__ADS_3

Bunga benar-benar tidak pernah melihat Ningrum lagi di sekolah, atau di tempat Bu Galuh. Gadis itu seperti menghilang di telan bumi. Bahkan Asih pun tidak mengetahui keberadaan gadis itu. Pernah ia menanyakan hal itu pada Bu Galuh, tetapi perempuan itu malah memberikan jawaban secara tersirat, dan Bunga tidak begitu memahaminya.


Dari Asih, Bunga mendapatkan alamat Ningrum, meskipun hanya nama desanya saja. Karang Asem. Cukup jauh dari pusat kota Semarang. Jika ditempuh dengan kereta kuda, akan memakan waktu satu setengah jam.


"Buru-buru sekali. Mau ke mana?"


Bunga menghentikan langkahnya saat baru saja keluar dari pintu gerbang sekolah. Mobil Jacob berhenti tepat di sampingnya.


"Ada urusan," jawab Bunga acuh tidak acuh.


"Ayo, masuk. Aku akan mengantarmu." Tangan Jacob meraih handle pintu mobil dan membukanya.


"Tidak usah."


"Aku memaksa."


Bunga mendecak. Akhir-akhir ini Jacob sering memaksakan kehendak padanya. Sepertinya pemuda itu ingin selalu dekat dengannya. Memang, sekarang mereka berada di kelas berbeda. Sejak peristiwa perampokan yang berujung hukuman gantung, pihak sekolah memisahkan murid-murid pribumi dan Belanda dalam kelas yang berbeda. Dan diskriminasi pada Bunga serta murid-murid pribumi yang lain semakin kentara saja.


"Cepatlah, Bunga!" seru Jacob.


Bunga mendesis. Tetapi, ia menuruti permintaan Jacob masuk ke dalam mobilnya, membuat pemuda itu tersenyum senang.


"Kamu mau ke mana?" tanya Jacob saat mobilnya telah melaju.


"Ke desa Ningrum. Karang Asem."


"Sudah tahu jalan ke sana?"


Bunga mengangguk. Dalam hati ia senang tidak harus menunggu kereta kuda untuk membawanya ke desa yang cukup jauh itu. Karena akan memakan waktu lama, dan pastinya ia akan pulang larut. Ayahnya tidak akan senang dengan itu.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan."


"Apa? Kalau tentang kamu sama aku, sebaiknya kamu simpan saja sendiri," timpal Bunga.


"Bukan. Emm ... maksudku, iya itu juga akan aku bicarakan, tapi, nanti. Ada yang lebih penting."


"Apa?"


"Kamu harus berhati-hati, Bunga. Anna curiga dengan apa yang kamu lakukan di toko Bu Galuh."

__ADS_1


Bunga mendesis. "Tidak ada yang aku lakukan di sana. Aku membantu mereka membungkusi obat-obatan," elak Bunga.


"Bunga, tidak usah berbohong padaku. Aku sudah tahu," ujar Jacob seraya mendecak. "Kamu tidak perlu menyembunyikan apa-apa dariku, ya?"


Bunga menatap Jacob dengan mata menyipit. "Aku tidak menyembunyikan apa-apa."


"Kamu bicara begitu padaku seperti aku ini orang bodoh saja," gerutu Jacob.


Bunga melengos. Ia menyadari jika Jacob sudah mengetahui rahasianya. Hanya saja, ia tidak mau bercerita apapun pada pemuda itu.


"Kamu boleh berpikir apapun, Jacob."


"Hei, aku hanya ingin memberitahumu, kalau kamu harus hati-hati dari sekarang."


"Apa kamu sedang mengancamku?"


Jacob mendecak. "Bukan mengancam. Aku sedang memperingatkanmu untuk hati-hati. Anna sedang mencurigaimu."


Bunga mengerutkan keningnya. "Dari mana kamu tahu?"


"Dia mengatakannya sendiri padaku. Dia sedang menyelidiki toko obat yang biasa kamu kunjungi."


"Kenapa tiba-tiba dia ingin menyelidiki toko obat Bu Galuh. Apa kamu membicarakan sesuatu padanya?"


"Kiri," jawab Bunga pendek.


Jacob memutar kemudi ke arah kiri mereka. Memasuki jalan setapak yang cukup luas untuk dilalui mobil atau kereta kuda, mereka disuguhi pemandangan perkebunan ketela di sepanjang jalan. Hingga beberapa menit kemudian mereka memasuki sebuah perkampungan penduduk.


"Sudah tahu rumahnya?" tanya Jacob.


"Belum," jawab Bunga. "Berhenti, Jacob. Aku mau bertanya pada bapak itu," ujarnya sambil menunjuk seorang pria paruh baya yang sedang berjalan melintas sambil memanggul kayu bakar.


"Nuwun sewu, Pak ...." Bunga berbicara dengan pria itu. Sementara Jacob mengawasinya dari dalam mobil. Ia melempar senyum pada si pria yang menatapnya sekilas. Tapi, pria itu sama sekali tidak membalas senyumnya. Jacob justru mendapatkan raut wajah penuh kebencian yang ditunjukkan olehnya.


"Bagaimana?" tanya Jacob setelah Bunga kembali masuk ke dalam mobil.


"Jalan lagi," perintah gadis itu.


Jacob menurut. Ia melanjutkan laju mobilnya melewati jalanan yang mulai tumbuhi rerumputan liar itu. Ia harus berhati-hati karena jalanan cukup licin saat menginjak tanah yang basah.

__ADS_1


"Rumahnya di ujung kampung. Ada kandang ayam di halamannya," ucap Bunga.


Jacob mengangguk. Ia melirik sekilas Bunga yang tampak serius memperhatikan arah kirinya. Bibir pemuda itu menyunggingkan senyum tipis.


"Mungkin itu rumahnya," tunjuk Bunga pada rumah kayu yang berada di ujung jalan, sedikit terpisah dengan rumah-rumah yang lain.


Jacob menghentikan mobilnya di depan halaman rumah yang tidak berpagar. Di halaman itu ada sebuah kandang ayam, persis seperti yang dikatakan oleh pria di jalan tadi. Keduanya pun turun dari mobil dan memasuki halaman yang ditumbuhi beberapa pohon nangka dengan daun yang rimbun.


Bunga mengetuk pintu kayu pelan seraya mengucapkan salam. Ada beberapa menit keduanya menunggu hingga seseorang membukanya pintu.


"Sinten, nggih (Siapa, ya)?" tanya seorang wanita paruh baya berkebaya lusuh dengan rambut yang digelung sembarang. Ia memandang Bunga dan Jacob penuh selidik. Dan saat matanya menatap Jacob, wanita itu tampak gelisah.


"Saya Bunga, Bu. Temannya Ningrum di sekolah."


Raut wajah wanita itu mendadak suram saat mendengar nama Ningrum. "Ada keperluan apa?" tanyanya, sdikit ketus.


"Ningrum sudah beberapa hari tidak terlihat di sekolah, Bu. Apa dia ada di rumah?"


"Ndak ada," jawab wanita itu. "Ningrum sudah lama ndak pulang."


Bunga dan Jacob saling melempar pandang. Hati Bunga berdebar kencang. Ke mana Ningrum. Firasat Bunga mengatakan ada sesuatu dengan temannya itu. Bahkan di rumah Bu Galuh pun Ningrum tidak menampakkan batang hidungnya.


"Ibu tahu kira-kira di mana Ningrum berada?"


"Ya, mana saya tahu. Ningrum itu sudah lama ndak pulang." Wanita itu memandang Jacob sinis, meskipun ia sedang berbicara dengan Bunga.


"Jacob, kamu bisa menungguku di mobil?" tanya Bunga.


Jacob mengangkat kedua tangan pasrah. Ia pun menuruti kemauan Bunga dan masuk ke dalam mobilnya, mengawasi dari sana. Bunga mengalihkan pandangannya pada si wanita.


"Benar Ibu tidak tahu di mana Ningrum?" tanya Bunga, setengah mendesak.


"Saya ndak tahu. Mungkin sudah diculik Londo (Belanda) dan dijadikan gundik," ucap wanita itu.


Bunga merasa wanita itu, yang ia tebak adalah ibunya Ningrum, tidak terlalu suka membicarakan gadis itu. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang tampak tidak ramah.


"Bu, jangan khawatir. Yang di dalam mobil itu Londo baik, dia teman Ningrum juga di sekolah. Ibu bisa menceritakan pada saya di mana Ningrum berada."


"Saya sudah bilang saya ndak tahu. Ningrum itu sudah lama pergi dari rumah. Kabarnya tinggal di kota dan ikut orang. Saya juga ndak tahu orang itu siapa. Apa jadi gundik Londo, apa jadi pengemis, saya ndak tahu. Ningrum sekolah saja saya ndak tahu kalau ndak mendengar dari sampeyan (kamu)."

__ADS_1


Bunga menghela napasnya dalam-dalam. Sepertinya ibu itu berkata jujur. Dan ia terpaksa menelan kekecewaan atas jawaban wanita itu. Hatinya semakin gelisah. Kini ia tidak tahu harus mencari temannya itu ke mana.


***


__ADS_2