
"Kenapa kamu selalu bercanda seperti itu?" tanya Bunga sebal. Ia risih sendiri dengan gurauan Jacob.
"Siapa yang bilang aku bercanda? Aku mengatakan yang sebenarnya." Jacob menjawab dengan entengnya.
Bunga menggeram. Untuk beberapa saat gadis itu memperhatikan wajah tampan di sampingnya itu. Matanya memindai Jacob dari ujung rambut hingga sebatas pinggang karena pemuda itu sedang duduk dan kakinya berada di bawah meja.
"Bagaimana? Apa aku cukup tampan untukmu, Bunga?"
Bunga mendesis. "Tidak sama sekali. Kulitmu terlalu putih."
"Kalau begitu kita pergi ke pantai setiap hari."
"Kenapa?"
Jacob terkekeh. "Untuk berjemur. Agar kulitku sedikit coklat."
Bunga merotasikan kedua bola matanya. "Jangan aneh-aneh."
"Kamu bilang aku tidak cukup tampan untukmu karena kulitku terlalu putih. Jadi, aku akan membuat kulitku lebih coklat."
Bunga menepuk keningnya. Akhir-akhir ini Jacob menjadi sedikit aneh. Gurauannya membuat Bunga tidak terlalu nyaman. Entah kenapa, hal itu membuatnya sedikit canggung dan aneh.
Namun, Jacob tetaplah Jacob, sahabatnya. Bunga akan membuang pemikiran-pemikiran aneh yang tiba-tiba hinggap dalam benaknya.
"Bunga," panggil Jacob.
"Apa?" sahut Bunga tanpa menoleh ke arah Jacob. Gadis itu sudah kembali berkutat dengan bukunya.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya saja. Kenapa harus minta izin dulu?"
Jacob memijit tengkuknya sambil meringis. Beberapa saat lamanya, ia ragu-ragu dengan apa yang akan ia katakan pada Bunga.
"Kamu mau menanyakan apa, Jacob?" tanya Bunga seraya menutup bukunya. Ia menunggu-nunggu Jacob mengucapkan sesuatu, tetapi tidak kunjung keluar dari mulut pemuda itu.
"Hoe denk je over mij ( Bagaimana perasaanmu terhadapku)?" tanya Jacob hati-hati.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan perasaanku?" Bunga mengerutkan kening.
"Mmm ... ya, perasaanmu, padaku."
Bunga tampak kebingungan dengan pertanyaan Jacob. "Perasaanku padamu, aku menyayangimu. Kenapa kamu masih mempertanyakannya?"
"Sebagai apa?"
"Sebagai sahabat, sebagai saudara. Kita sudah seperti saudara, Jacob."
"Tentang itu aku tahu."
"Lalu?"
Jacob menghela napasnya berat. "Sebagai seorang perempuan terhadap seorang laki-laki."
"Maksudmu ...."
Jacob mengangguk. Meskipun Bunga tidak melanjutkan ucapannya, ia tahu apa yang akan dikatakan oleh gadis itu.
Bunga terdiam sejenak. Ia sedang mencerna semua yang diucapkan oleh Jacob. Tetapi, ia gagal untuk mengerti. Atau, ia memang tidak ingin mengerti.
Raut wajah Jacob berubah muram. Terlihat jelas kekecewaan di sana. "Kamu yakin?" tanyanya memastikan.
Bunga mengangguk mantap. Gadis itu benar-benar merasa tidak nyaman dengan obrolan itu. Ia berusaha menghilangkan kekhawatirannya. Kekhawatiran yang tiba-tiba membuat badannya panas dingin.
***
Saat turun dari kereta kuda yang menjemputnya dari sekolah, Bunga disambut oleh sang ibu, Ratih, yang sedang merapikan tanaman-tanaman bunga miliknya di halaman rumah mereka yang asri. Perempuan itu begitu semringah. Ia menghentikan aktifitasnya dan menggandeng Bunga ke dalam rumah.
"Nduk, Ibu mau bicara dengan kamu," ucap Ratih seraya mendudukkan Bunga di amben yang ada di ruang tengah.
"Ada apa, Bu?" tanya Bunga keheranan.
Ratih mengulas senyumnya. "Kamu masih ingat dengan Kanjeng Kyai Salih Husain?"
Orang yang baru saja disebut oleh sang ibu, dikenal Bunga sebagai Kyai Agung dari pondok pesantren Mungkur. Sewaktu kecil, setiap akhir pekan kedua orang tuanya mengantar Bunga ke sana untuk belajar membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan juga ilmu agama.
__ADS_1
"Kamu masih ingat dengan putra beliau Raden Yusuf Husain?"
Bunga memutar ingatannya pada seseorang bernama Raden Yusuf Husain. Atau Mas Yusuf, dulu ia biasa memanggilnya. Dia putra pemilik pondok pesantren yang dulu senang menggodainya saat ia sedang belajar. Kala itu, saat Bunga berumur delapan tahun, Yusuf sudah remaja.
Tetapi Bunga tidak terlalu menggubrisnya pada waktu itu. Ia merasa risih dengan sikap Yusuf yang terang-terangan menunjukkan rasa suka terhadapnya. Seiring berjalannya waktu, kabar tentang pemuda itu tidak pernah ia dengar lagi, hingga hari ini sang ibu menyebut namanya.
"Raden Yusuf Husain baru pulang dari Kairo. Dia baru menyelesaikan pendidikan di universitas Al-Azhar," terang Ratih.
"Lalu?" tanya Bunga.
"Tadi pagi Kanjeng Kyai dan Raden Yusuf datang kemari." Ratih menyentuh punggung tangan sang putri. "Raden Yusuf berniat untuk melamar kamu, Bunga. Beliau sudah berbicara dengan Bapak."
"Apa? Melamar Bunga?" Gadis itu terlonjak dari duduknya.
"Iya, Nduk," jawab Ratih seraya menahan luapan kebahagiaannya.
"Ta-tapi, Bu. Bunga masih ingin menyelesaikan sekolah." Tenggorokan Bunga tercekat. Ia tidak pernah membayangkan hal semacam ini akan terjadi padanya. Memang, banyak gadis-gadis seusianya di sekitar yang sudah menikah dan memiliki anak. Tetapi, Bunga tidak ingin mengikuti jejak mereka.
Ratih terkekeh. "Raden Yusuf bersedia menunggu sampai kamu menyelesaikan sekolahmu."
"Tapi, Bu ... Bunga ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi."
"Bunga ...." Sang ibu berusaha menenangkan putrinya yang tampak tegang itu. "Bapak dan Ibu tentu sangat ingin kamu melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi, kamu harus ingat, biayanya sangat mahal apalagi untuk kita orang pribumi."
Bunga menggeleng. "Para penjajah yang membuat biaya perguruan tinggi mahal, Bu. Supaya kita orang pribumi tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi."
"Kamu sudah mengerti itu," sahut Ratih.
"Tapi, Bunga tidak akan menyerah, Bu. Bunga mampu untuk masuk ke perguruan tinggi. Bunga bisa mencari beasiswa, Bu," ucap Bunga penuh semangat.
Ratih menghela napasnya. "Selama kita masih dirongrong oleh penjajah, kamu jangan berharap terlalu tinggi."
Bunga beranjak dari duduknya. "Maka dari itu, Bu. Kita harus berjuang mengusir mereka dari tanah kita."
Ratih mengerutkan keningnya. Putrinya terlihat begitu berapi-api. Hal itu membuat hatinya sedikit khawatir. Selama ini, suaminya-Tumenggung Wirya, tidak pernah mau melibatkan istri dan anaknya dalam perjuangannya melawan pemerintah Hindia Belanda. Bagi, Tumenggung Wirya, anak dan istrinya harus aman dari segala mara bahaya yang suatu saat pasti akan datang menghampiri.
Namun, melihat Bunga yang terlihat seperti seorang pejuang, Ratih berusaha membuang pikiran-pikiran buruk yang menghampiri. Memang, menikahkan Bunga dengan anak Kyai Salih Husain adalah jalan satu-satunya agar sang putri terlindungi jika sesuatu yang buruk terjadi suatu hari nanti.
__ADS_1
***