BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 19. Tempat Penampungan.


__ADS_3

"Mereka datang," ucap Asih pada para perempuan; berjumlah lima orang, yang sedang membungkusi rempah-rempah di ruang tengah. Perempuan itu baru muncul dari balik pintu. Ada Bu Galuh, dan juga Bunga serta Ningrum di sana.


"Suruh keretanya langsung ke belakang saja, Asih," perintah Bu Galuh.


"Njih, Bu." Asih menghilang ke balik pintu. Beberapa saat kemudian, terdengar derap langkah kaki kuda dari samping toko.


Bunga perhatikan, wajah Bu Galuh sedikit tegang. Pandangan matanya mengikuti gerakan tubuh Bu Galuh melangkah ke pintu belakang. Di ambang pintu, perempuan dengan wajah bersahaja itu menoleh ke arah Bunga dan yang lainnya.


"Kalian bisa ikut Ibu?" pinta Bu Galuh.


Kelima gadis di ruangan itu beranjak dari tempat duduk masing-masing dan mengikuti Bu Galuh menuju halaman belakang. Halaman belakang terhubung dengan jalan di samping toko yang dipagari tembok tinggi memisahkan bangunan itu dengan bangunan di sebelah.


Di sana, sebuah kereta kuda telah menunggu. Kereta barang yang mengangkut sebuah kotak kayu besar. Si kusir, seorang lelaki paruh baya berikat kepala dari kain, mendekati Bu Galuh.


"Ki Mangun, bagaimana perjalanannya?" tanya Bu Galuh.


"Lancar, Bu." Si kusir yang dipanggil Ki Mangun menjawab. Ia meminta Bu Galuh untuk melihat isi kotak. Tangan berototnya membuka gembok.


Bu Galuh menyibakkan kain penutup di dalam kotak. Tampak tiga kotak lainnya, masing-masing berisi kunyit, pala dan kayu manis. Rempah-rempah itu dibawa oleh Ki Mangun dari Batavia.


"Genduk, kalian kemari," pinta Bu Galuh pada keempat gadis di belakangnya.


Bunga dan Ningrum melangkah terlebih dahulu diikuti oleh dua gadis lainnya. Sementara Bu Galuh meminta Ki Mangun memindahkan kotak dari atas kereta kuda ke lantai.


Ki Mangun lalu menurunkan kotak-kotak kecil lainnya dari dalam kotak besar itu. Bu Galuh menyibakkan kain penutup satu lagi dan tampaklah beberapa senjata api laras panjang teronggok di sana.


Bunga terkejut. Rupanya kiriman rempah-rempah dari Batavia itu hanya kamuflase untuk menyelundupkan senjata-senjata itu.


"Terimakasih Ki Mangun. Panjenengan telah melaksanakan tugas dengan baik," ucap Bu Galuh seraya menjabat tangan lelaki itu.


Ki Mangun menyilangkan satu tangan di dada dan berucap, "Merdeka!"


"Merdeka!" sahut Bu Galuh dengan gerakan tangan yang sama dengan Ki Mangun, diikuti Ningrum dan kedua gadis lain, kecuali Bunga, yang belum mengerti apa-apa.


Bu Galuh meminta Bunga dan yang lainnya membawa senjata-senjata itu ke ruang bawah tanah yang pintunya tertutup jerami. Sehingga, tidak ada seorang pun yang menyangka ada sebuah pintu di sana.


Ruangan bawah tanah itu cukup luas. Dan yang membuat Bunga terperangah adalah, banyaknya senjata laras panjang dan jenis senjata lain tertata rapi di rak-rak yang berjejer memanjang.

__ADS_1


"Tempat yang paling tidak bisa dicium oleh musuh adalah, tempat yang paling dekat dengan mereka," ucap Bu Galuh pada keempat gadis itu, khususnya Bunga, sebagai anggota baru.


"Ini tempat kita menampung senjata untuk sementara. Nantinya akan dibawa secara bertahap oleh para pejuang kita ke kaki gunung Telomoyo," terang Bu Galuh.


"Kenapa harus ditampung di sini dulu? Karena pasukan KNIL setahun terakhir ini banyak melakukan operasi ke pelosok-pelosok Semarang." Bu Galuh menjawab pertanyaan Bunga yang belum sempat terucap oleh gadis itu.


"Mereka sangat ketat sekarang setelah adanya rumor yang beredar." Bu Galuh menatap Bunga. Ia mengulas senyumnya. "Kamu pasti sudah mendengar rumor itu, kan, Nduk?"


Bunga mengangguk pelan. Dadanya berdesir. Tenggorokannya terasa kering.


"Kalian adalah para pemudi harapan negeri ini."


"Aku tahu kalian sudah banyak mengalami diskriminasi sejak kecil. Di sini, di tanah kelahiran kita sendiri. Para penjajah semena-mena memperlakukan kita. Mengatai kita an jing, merendahkan martabat para perempuan kita, mengeruk sumber daya alam kita!" ucap Bu Galuh berapi-api.


"Kalian ingin di masa datang kalian bisa menghirup udara kebebasan, bukan? Tanpa rasa takut untuk melakukan apa pun yang kalian inginkan?"


"Saat waktunya tiba untuk merebut kembali hak kita, kalian akan mengangkat senjata ...." Bu Galuh menunjuk ke arah rak-rak yang berjejer di belakangnya. "Dan mengusir para penjajah itu dari tanah kita ini."


Bunga mengangguk. Pidato singkat Bu Galuh mampu menggetarkan hatinya. Semangat perempuan itu berkobar-kobar dan menular padanya.


***


"Banyak hal yang harus aku lakukan," sahut Bunga di sampingnya.


"Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan, Bunga?" tanya Jacob seraya menatap sang sahabat.


Bunga mencebik. "Pokoknya banyak."


"Sekarang kamu suka main rahasia, ya?"


"Bukan rahasia. Hanya saja, aku tidak perlu memberitahukan padamu. Ini urusan wanita," kekeh Bunga.


Kedua sahabat itu sudah berbaikan kemarin, setelah pertengkaran mereka di sekolah. Bunga meminta maaf karena telah bersikap kasar pada Jacob, dan Jacob sudah tidak mempermasalahkannya.


"Bunga, aku mendengar rumor tentang ayahmu."


"Hmm. Lalu?" Bunga melempar kerikil ke tengah sungai. Kerikil itu tidak tepat masuk ke dalam air, tetapi membentur sebuah batu kecil. Gadis itu mendecak sebal.

__ADS_1


"Aku harap rumor itu tidak benar," ucap Jacob.


"Kalau ternyata benar?"


"Aku hanya berharap itu tidak benar. Aku sangat khawatir padamu."


Bunga terkekeh. "Aku akan baik-baik saja. Begitupun keluargaku."


Pemuda itu mengangguk. "Semoga," ucapnya lirih.


"Kenapa, Jacob?" tanya Bunga. Dilihatnya pemuda di sampingnya itu menghela napas dalam-dalam.


Pemuda itu merubah posisi duduknya. Ia kini menghadap ke arah Bunga. "Mungkinkah akan ada pemberontakan orang-orang pribumi suatu hari nanti?" tanyanya.


Bunga menaikkan alisnya. Ia cukup terkejut mendengar Jacob melontarkan pertanyaan itu. "Kenapa? Kamu takut?"


"Aku suka negeri ini. Tapi, aku ingin hidup normal. Aku ingin hidup berdampingan dengan Inlanders."


"Jangan panggil kami dengan nama itu!" bentak Bunga seraya memukul bahu Jacob.


"M-maaf. Maksudku, berdampingan dengan penduduk asli."


Bunga mengulas senyum tipis. "Andaikan semua orang Belanda berpikiran sepertimu, Jacob. Tapi, kenyataannya tidak."


"Aku tahu." Jacob menundukkan kepalanya.


"Tentang pertanyaanmu, apa suatu hari nanti kamu akan memberontak?" Bunga menarik sudut bibirnya. "Kamu pernah baca bukunya Albert Van Der Berg? Ada di perpustakaan."


"Ja ..."


"Perang Delapan Puluh Tahun." Bunga menyebutkan judul buku yang dimaksudnya. "Pemberontakan Belanda melawan kerajaan Spanyol."


Kembali Bunga menarik sudut bibirnya. "Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya."


Jacob menelan salivanya berat. Dadanya berdebar. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya. Kilatan api di mata Bunga membuat rasa takutnya akan sebuah perubahan besar bertambah.


Ia hanya menginginkan kehidupan yang normal. Bahagia, bersama gadis di hadapannya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2