
Semarang, 1928.
Bunga mematut dirinya di depan cermin besar berbingkai ukir di kamarnya. Seragam Algemene Middelbare School; pakaian terusan setinggi lutut berwarna putih tulang yang ia kenakan begitu pas membalut tubuh rampingnya. Rambut panjangnya ia kepang dua dengan rapinya. Gadis remaja itu terlihat begitu manis khas perempuan pribumi.
Ini tahun pertama Bunga bersekolah di sekolah menengah umum satu-satunya yang ada di Semarang. Dirinya patut berbangga diri karena dirinya termasuk salah satu anak pribumi yang terpilih karena mampu bersaing secara akademis dengan anak-anak Belanda untuk masuk ke sekolah itu.
Meskipun, dalam prakteknya, para guru yang semuanya adalah orang Belanda, secara tersirat masih mendiskriminasikan Bunga beserta anak-anak pribumi lain.
Persahabatannya dengan Jacob pun semakin kuat. Jacob, anak Belanda berambut pirang dengan mata biru yang indah, kini tumbuh menjadi seorang pemuda tampan. Ia bukan lagi seorang anak kecil pendiam yang tidak memiliki teman. Ia adalah Jacob yang digandrungi banyak gadis di sekolah itu.
Tentu, kedekatannya dengan Jacob membuat Bunga tidak disukai oleh sebagian besar murid perempuan di sana. Tetapi, Bunga tidak peduli. Jacob adalah sahabatnya dan mereka sudah saling mengenal sejak sekolah dasar.
Pagi itu, diantar oleh supir keluarganya dengan mobil roda tiga milik sang ayah, Bunga berangkat ke sekolah baru dengan hati riang.
Saat turun dari mobilnya, Bunga membelalakan mata melihat Jacob datang ke sekolah dengan mengendarai mobil baru. Mobil yang jauh lebih bagus dibanding mobil keluarganya.
"Ini mobilmu?" tanya Bunga sambil memeriksa si kuda besi milik Jacob. "Bagus sekali," pujinya sembari mengelus mobil berwarna coklat dengan atap terbuka itu.
"Ayahku yang membelikannya untukku. Didatangkan dari Soerabaja. Dia ingin aku memakai sopir, tapi, aku tidak mau." Jacob mengedikkan bahunya.
"Waaah, kalau begitu, kamu bisa ajak aku jalan-jalan nanti memakai mobil baru," ujar Bunga kegirangan.
Jacob mengangguk setuju. Keduanya lalu berjalan berdampingan menuju kelas mereka yang kebetulan sama. Bunga tidak memedulikan tatapan-tatapan penuh selidik dari para murid yang ada di sepanjang koridor.
__ADS_1
Gadis itu melenggang masuk ke dalam kelasnya dengan penuh percaya diri. Duduknya bersebelahan dengan Jacob. Hal itu selalu membuat iri beberapa murid perempuan berkulit putih.
"Jacob, kun je me helpen (apa kamu bisa membantuku)?"
Bunga dan Jacob yang sedang mengobrol menoleh secara bersamaan ke arah asal suara. Seorang gadis berambut coklat dengan mata hazel-nya yang indah berdiri di samping Jacob. Ia mengulas senyum manisnya saat bertatap mata dengan pemuda itu, tetapi, saat beradu pandang dengan Bunga, bibirnya tersenyum sinis.
"Ja, Laura? Wat kan ik voor je doen (Apa yang bisa aku bantu)?" tanya Jacob pada gadis yang dipanggil dengan nama Laura itu.
"Aku belum mengerjakan pekerjaan rumah pelajaran berhitung. Apa aku bisa menyalin punya kamu?" Laura membuat ekspresi wajah semanis mungkin.
"Bukankah pekerjaan rumah seharusnya dikerjakan di rumah?" Bunga menyeletuk. Ia tahu, Laura hanya ingin mencari perhatian Jacob saja.
"Aku tidak bicara sama kamu!" sahut Laura ketus. "Jacob?" Ia mengalihkan pandangannya pada Jacob.
Jiwa feminis Bunga meronta-ronta. Ia bukan pembenci laki-laki, tetapi, ia tahu cara memosisikan diri di depan mereka. Ia gadis terhormat, meskipun secara strata sosial, bagi orang Belanda, ia berada di bawah mereka.
Seperti Laura dan murid-murid lain di sekolah ini, bahkan para guru, yang selalu memandang rendah padanya. Kecuali Jacob, tentu saja.
Bunga mencibir saat Jacob berpindah duduk di dekat Laura untuk membantu gadis itu. Bagi Jacob, ia hanya ingin berbuat baik saja. Laura adalah anak sahabat ayahnya, pemilik dari perkebunan kopi terbesar di Semarang. Ia sudah mengenal gadis itu sejak kecil. Tetapi, dirinya lebih senang berteman dengan Bunga.
Berpetualang dengan gadis pribumi yang pemberani dan cerdas itu adalah hal paling menyenangkan. Banyak yang mencibir persahabatan mereka, tetapi, Jacob tidak pernah peduli.
Siang itu setelah pulang sekolah, seperti permintaan Bunga, Jacob mengajaknya jalan-jalan dengan mobil barunya. Betapa senangnya hati Bunga saat mereka berkeliling kota Semarang, bahkan hingga ke pinggir kota.
__ADS_1
Mereka sampai di daerah perkebunan kopi. Beberapa pekerja pribumi yang sedang memetik kopi memperhatikan keduanya dengan tatapan aneh. Bunga sudah terbiasa. Baik orang Belanda maupun pribumi, mereka tidak menyukai kebersamaan antara dirinya dan Jacob.
"Aduh sial!" seru Jacob seraya menghentikan mobilnya. Setelah melalui jalan berlubang, sepertinya roda mobilnya kempes.
"Kenapa?" tanya Bunga keheranan.
"Sepertinya rodanya meletus." Jacob membuka pintu mobil dan menghambur keluar. Ia memeriksa bagian bawah mobilnya dan benar saja, roda sebelah kanan belakang kempes.
"Aduh, bagaimana ini?" Bunga yang berada di samping Jacob, memegangi kepalanya.
"Aku tidak tahu cara mengganti roda."
Bunga menghembuskan napasnya keras. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Kang! Bisa bantu kami?" panggilnya pada seorang pekerja perkebunan yang sedang melintas.
Si lelaki berkulit coklat kehitaman karena sering terpapar sinar matahari itu mendekati Bunga dan Jacob. Tatapannya sinis pada keduanya.
"Bisa bantu kami, Kang? Roda mobilnya bocor," ucap Bunga sekali lagi.
"Cuih!" Si lelaki tiba-tiba meludah di depan Bunga. Membuat gadis itu mengerutkan keningnya.
"Gundik Londo." Ucapan lelaki itu bak pisau tajam yang menusuk dada Bunga.
***
__ADS_1