
Keributan terjadi di pasar Djoehar yang terletak di sebelah timur alun-alun. Kabarnya, seseorang melempar batu ke arah tentara KNIL yang sedang mendampingi seorang arsitektur Belanda meninjau pasar yang rencananya akan segera di pugar.
Seorang tentara mengalami luka di kepala cukup parah. Hal itu memicu keributan besar antara warga sipil pribumi dan pasukan KNIL. Sehingga, banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak.
Dan satu-satunya orang yang dicurigai berada di balik peristiwa itu adalah Tumenggung Wirya. Rumor sudah merebak di mana-mana tentang lelaki itu dan pemerintah mulai waspada akan keberadaan sang mantan bupati.
Malam itu, Tumenggung Wirya didatangi oleh seorang inspektur polisi berkulit putih, bersama dua mantri polisi yang semuanya adalah orang pribumi. Sang inspektur memperkenalkan dirinya sebagai Jaap Tholense.
"Saya tidak tahu menahu tentang peristiwa di pasar Djoehar, Meneer Inspecteur." Tumenggung Wirya berkilah saat Jaap Tholense menanyakan keributan yang memakan korban luka-luka pagi tadi, dengan pertanyaan-pertanyaan yang cenderung menyudutkan atau menuduh.
Sikapnya begitu tenang menghadapi ketiga anggota kepolisian itu. Sementara ia tahu, di halaman rumahnya, banyak tentara KNIL yang sedang berjaga-jaga; lebih tepatnya, mengepung rumahnya.
"Apa anda tidak keberatan kalau saya memeriksa paviliun di samping rumah?" tanya lelaki berkumis tebal itu.
"Silahkan, Meneer," ucap Tumenggung Wirya seraya menggerakkan tangannya ke arah pintu depan.
Jaap Tholense dan kedua anak buahnya melangkah keluar rumah. Saat itulah, Ratih keluar menemui suaminya itu dengan wajah tegang. "Mereka akan memeriksa paviliun? Apa panjenengan menguncinya, Pak?"
"Pintunya sudah dibuka dari tadi siang." Tumenggung Wirya mengulas senyumnya. Ia masih tampak begitu tenang. Tidak seperti istrinya yang begitu cemas.
"Ada apa saja di dalam?"
"Tidak ada apa-apa. Paviliun hanya tempat kita beristirahat, bukan?"
Ratih menghela napasnya. Meskipun belum sepenuhnya merasa lega sampai para kumpeni itu meninggalkan rumah mereka.
Dari balik pintu ruang tengah yang menghubungkan ke ruang tamu, Bunga menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Sebenarnya ia sudah berdiri di sana sejak ayahnya diinterogasi oleh polisi. Ia mendengarkan semuanya.
Bunga teringat ucapan kusir kereta kuda yang mengantarnya pulang dari rumah Jacob kemarin malam. Mengenai sebuah rumor. Dadanya berdebar kencang saat mendengar para polisi itu akan memeriksa paviliun.
__ADS_1
Saat mendengar keterangan ayahnya bahwa paviliun dalam keadaan kosong, ia pun menarik napas lega. Ia ingin para polisi dan tentara KNIL yang berada di halaman rumahnya segera pergi. Keberadaan mereka sungguh membuat Bunga merasa tidak nyaman.
Ia merasa kini ketenangan keluarganya sedang terancam.
***
Bunga tidak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran hari itu di kelasnya. Pikirannya dipenuhi bayangan para polisi dan tentara yang mendatangi rumahnya kemarin. Hatinya tidak henti-hentinya merasa cemas.
Meskipun matanya menatap ke arah guru yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Hingga Jacob yang duduk di sebelah mejanya terheran-heran. Pemuda itu tidak sabar ingin menanyakan apa yang terjadi pada sang sahabat.
Waktu istirahat yang ditunggu-tunggu oleh Jacob akhirnya datang. Ia segera mengajak Bunga ke taman yang ada di depan perpustakaan. Di sana, pemuda itu menginterogasi sang sahabat.
"Aku tidak apa-apa." Bunga menjawab dengan keheranan. Hari itu sikap Jacob sedikit berlebihan. Ia sepertinya sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Tidak mungkin kamu tidak apa-apa. Kamu melamun terus sepanjang mata pelajaran," sanggah Jacob.
"Siapa yang melamun terus?" protes Bunga. "Aku hanya sedikit mengantuk."
Bunga mengibaskan tangannya. "Jangan berlebihan, Jacob. Aku juga manusia yang bisa mengantuk."
Jacob menyipitkan kedua matanya menatap Bunga penuh selidik. "Kamu tidak ceria seperti biasa."
"Jacob, tolong jangan berlebihan, ya? Aku baik-baik saja." Bunga memutar kedua bola matanya jengah. Lalu gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah sesosok gadis berambut pendek dari kejauhan.
"Jacob, bagaimana pendapatmu tentang Anna?" pancing Bunga. Ia ingin sedikit mengalihkan pikiran dari kejadian di rumahnya kemarin malam.
"Siapa?" tanya Jacob berpura-pura tidak mendengar.
"Anna. Teman satu kelas kita." Bunga menunjuk pada gadis manis yang sedang berdiri di depan kelas, mengobrol bersama seorang temannya.
__ADS_1
"Anna De Vries?" Jacob mengulang pertanyaannya.
"Iya. Memangnya ada berapa Anna di sekolah ini?"
"Mana aku tahu?" Jacob mengedikkan bahunya.
Bunga mendecak sebal. Sahabatnya ini sepertinya sedang berpura-pura bodoh. Padahal, Bunga yakin, dada Jacob sedang berdebar-debar mendengar dirinya membicarakan gadis yang sedang disukai sahabatnya itu.
"Aku rasa Anna satu-satunya perempuan yang cocok untukmu."
Jacob membulatkan bola mata. Iris biru-nya terlihat indah di bawah sinar mentari. Birunya sebiru langit.
"Kamu bicara apa?" sergah Jacob.
Kembali Bunga mendecak. Masih saja Jacob tidak mau mengakui. Dasar pengecut, pikir Bunga.
"Jacob, aku akan membantumu." Bunga beranjak dari duduknya. Lalu berjalan meninggalkan Jacob di kursi taman.
"Hei! Bunga! Kamu mau ke mana?!" seru Jacob. Tetapi, Bunga hanya menoleh dan memberi isyarat pemuda itu untuk diam; jari telunjuknya ia tempelkan di bibir.
Jacob terkejut saat mendapati Bunga kembali dengan membawa Anna ikut serta. Gadis berhidung mancung dan berkulit putih itu melempar senyum malu-malu pada Jacob.
"Hai, Jacob. Kata Bunga, kamu mau bicara denganku?" tanya Anna dengan suara lembut.
"Wat (Apa)?" ucap Jacob sambil mendelik pada Bunga yang berdiri di belakang Anna sambil menahan tawa. "Awas kamu!" ancam Jacob pada sang sahabat, melalui gerakan bibir tanpa suara.
"Mag ik daar zitten (Boleh aku duduk di situ)?" Anna menunjuk tempat kosong di samping Jacob.
"Natuurlijk, kan je dat (Tentu, bisa)." Yang menjawab adalah Bunga. Ia mendorong punggung Anna pelan agar gadis itu segera duduk di samping Jacob.
__ADS_1
Jacob sudah geram bukan main. Wajahnya memerah menahan kesal. Ia tidak suka dengan apa yang telah dilakukan oleh Bunga.
***